Memandang Muka

Ayat bacaan: Yakobus 2:1
====================
“Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.”

memandang muka, tidak membeda-bedakan

“Kesan pertama begitu menggoda..” kata sebuah iklan parfum. Begitu pentingnya kesan pertama sehingga ada banyak iklan yang menekankan pentingnya tampil sempurna untuk mendapatkan kesan pertama yang baik. Sadar atau tidak, begitulah kita, manusia di dunia ini. Kita cenderung menilai seseorang terlalu cepat. Baik lewat penampilan luar, mewah tidaknya pakaian yang dikenakan, pekerjaan dan sebagainya. Salah seorang murid saya juga bekerja sebagai satpam, dan dia mati-matian menyembunyikan identitasnya kepada kekasihnya. Pada suatu kali, kekasihnya kebetulan lewat dan melihat dirinya sedang mengatur parkir lengkap dengan seragamnya, dan dia pun panik. “orang tua mana yang mau punya menantu satpam sekaligus tukang parkir di kampus?” begitu katanya sambil tersenyum miris. Dalam kesempatan lain kita seringkali melihat perbedaan perlakuan terhadap orang di tempat-tempat umum. Saya berkali-kali melihat hal tersebut baik di mal atau kantor-kantor. Ketika orang datang dengan setelan lengkap dan terlihat kaya, maka sambutan pun bukan main ramahnya. Tapi jika pengunjungnya hanya bersandal dan lusuh, mereka akan memasang tampang kaku, atau malah buang muka. Padahal ada banyak kasus dimana penampilan luar bisa membuat orang tertipu. Ada banyak kasus penipuan dilakukan oleh “orang berdasi” yang kita kenal dengan sebutan “white-collar crime.” Itu bukan hal aneh lagi saat ini. Yang menyedihkan, hal seperti ini tidak saja terjadi di dunia, tapi juga bisa terjadi di Gereja dan di kalangan hamba-hamba Tuhan. Teman saya bercerita bahwa ada banyak teman sekantornya yang juga hamba Tuhan di Gereja mereka masing-masing berperilaku jelek di kantornya. Mereka hanya bergaul dengan kelompok mereka dan membeda-bedakan teman sekantornya yang lain. “Apalagi kalau hanya cleaning service atau pesuruh… sudah deh..” begitu katanya. That’s what the world does. Seharusnya kita tidak seperti itu.

Yakobus menyadari kecenderungan ini kemudian mengingatkan kita agar tidak sesat dalam membeda-bedakan orang. Ia berkata bahwa sebagai orang-orang yang beriman, percaya pada Yesus, tidaklah pada tempatnya iman kita diamalkan dengan memandang muka. Yakobus benar. Karena Kristus sendiri tidak memandang muka. Dia melakukan banyak mukjizat dalam masa-masa kedatanganNya ke dunia tanpa memandang latar belakang orang yang Dia layani. Yesus sudah membuktikan sendiri bahwa Dia mau menjadi sahabat orang miskin, pengemis, penderita kusta yang pada masa itu dianggap penyakit menjijikkan dan orang-orang terbuang, bahkan sahabat dari orang-orang berdosa sekalipun seperti yang tertulis dalam Matius 11:19. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia tanpa membedakan siapapun. Perhatikan kata Yesus berikut: “..Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yohanes 10:15b-16). Yesus datang untuk semua manusia tanpa terkecuali. Amanat agungNya pun berbunyi demikian. “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (matius 28:18-20). Yesus mengatakan semua bangsa, tanpa memandang muka. Maka tepatlah jika Yakobus mengingatkan bahwa jika kita beriman pada Kristus, sungguh tidak tepat apabila kita mengamalkan iman kita dengan memandang muka, dengan pilih kasih.

Paulus mengingatkan dalam Roma, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini..”(Roma 12:2a). Ketika dunia memandang muka, hendaklah kita yang beriman pada Yesus Kristus tidak ikut-ikutan serupa dengan dunia. Kalau kita kembali pada Yakobus 2, kita melihat bahwa dengan membeda-bedakan, artinya kita sudah bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat (ay 4). Yakobus kemudian mengingatkan bahwa orang miskin pun bisa dipilih Tuhan untuk menjadi kaya dalam iman bahkan menjadi ahli waris Kerajaan. (ay 5). Sebaliknya, orang kaya bisa berhati jahat, menindas dan menghujat Allah (ay 6,7). Apa yang harus kita lakukan ada pada ayat berikutnya. “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.” (ay 8). Kita harus memandang orang lain dengan sebuah kaca mata kasih. Alangkah ironis jika seseorang sudah menjaga hidupnya dari banyak kecemaran namun melupakan hal yang satu ini dan masih hidup dengan memandang muka. Konsekuensinya tidak main-main. “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (ay 10).

Ketika hari ini anda berpapasan dengan pengemis, pandanglah mereka dengan kasih. Ingatlah bahwa mereka pun dicintai Tuhan. Tuhan sama perdulinya pada mereka seperti halnya pada kita. Baik dalam pekerjaan, dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelayanan, kenakanlah ukuran yang sama. Perlakukan semua orang dengan adil, layani semuanya dengan keseriusan yang sama. Ingatlah bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan kembali diukurkan pada kita (Matius 7:2). Seperti halnya Kristus, Sang Gembala yang baik turun ke bumi untuk menyelamatkan semua orang tanpa memandang muka, hendaknya kita pun mampu memandang setiap orang dengan hormat. Kenakan kaca mata kasih terhadap siapapun itu tanpa terkecuali.

Iman pada Yesus Kristus adalah iman yang diamalkan dengan tidak memandang muka

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply