Memandang Kepada Tuhan (1)

Ayat bacaan: Mazmur 16:8-9a======================”Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak..”Saya mengenal banyak orang yang dahulu ceria tapi s…

Ayat bacaan: Mazmur 16:8-9a
======================
“Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak..”

Saya mengenal banyak orang yang dahulu ceria tapi sekarang berubah menjadi orang-orang yang murung wajahnya. Deraan tekanan hidup, berbagai tuntutan yang harus dipenuhi maupun beban pekerjaan yang berat membuat mereka ini kehilangan sukacitanya. Ada seorang diantara mereka yang berkata bahwa ia iri terhadap anak kecil yang tetap bisa bermain gembira karena belum mengetahui betapa beratnya hidup setelah mereka nanti dewasa. Kalau sekarang saja sudah terasa begitu sulit, apalagi nanti pada masa mereka, katanya. Hidup memang tidak mudah. Kalau memang kecenderungannya akan terus bertambah sulit seiring waktu, apakah manusia nantinya akan berubah menjadi orang-orang berwajah muram, tidak lagi tersenyum apalagi tertawa? Jangan-jangan nantinya tersenyum dan gembira bukan lagi sesuatu yang dianggap penting. Dalam beberapa film tentang dunia masa depan, gambaran dunia selalu dibuat mengerikan. Hancur, gersang dan penuh dengan orang-orang yang tidak lagi memiliki kasih dalam diri mereka. Kalau kita membiarkan tekanan kesulitan membebani kita, semua itu mungkin akan terjadi. Kita bisa menghindarinya, kita tidak harus kehilangan sukacita, bahkan seharusnya tidak perlu kehilangan sukacita meski trend hidup akan terus semakin sulit.

Menarik apabila kita melihat sebuah seruan Yesus pada suatu kali tentang keharusan kita menjaga anak-anak kecil seperti yang tertulis dalam Matius 18:6-11 Yesus berkata: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga” (ay 10). Ada malaikat mereka yang selalu memandang wajah Bapa di Surga. Lalu perhatikan lagi ayat yang menunjukkan apa rahasia Daud agar bisa tetap bersukacita meski masalah dan ancaman terus menerpanya. “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak..” (Mazmur 16:8-9a). Benar anak-anak masih lugu, bisa tetap bermain dengan riang gembira karena mereka belum harus berurusan dengan segala kesulitan hidup layaknya orang dewasa. Tapi perhatikan pula bahwa ada malaikat mereka yang tengah memandang wajah Bapa seperti yang diberitahukan Yesus. Daud melakukan hal yang sama. Ia senantiasa, selalu, memandang kepada Tuhan. Ia bisa memandang Tuhan karena ia merasakan bahwa Tuhan ada bersama dengan dia. Dengan menyadari hal itu, Daud mengatakan bahwa meski dalam situasi seperti apapun ia tidak goyah. Hatinya tetap dipenuhi sukacita dan jiwanya tetap bisa bersorak memuji Tuhan.

Menyerahkan perasaan kepada situasi akan membuat kita semakin jauh dari sukacita. Mudah bagi kita untuk gembira saat hidup sedang baik, tetapi akan sangat sulit ketika hidup penuh dengan problema. Kenyataannya, kita sering berhadapan dengan setumpuk permasalahan, yang terkadang bahkan datang pada waktu bersamaan sekaligus. Kalau kita hanya memandang kepada masalah yang menerpa, bagaimana kita bisa tetap merasakan sukacita? Alkitab memberi solusi dalam banyak kesempatan, salah satunya dari Daud. Sukacita yang bisa membawa rasa gembira dalam hidup bukan tergantung dari kesulitan-kesulitan yang kita alami, melainkan bergantung kepada seberapa jauh kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita, seberapa dekat kita berada denganNya, apakah kita senantiasa memandangNya atau mengarahkan pandangan justru kepada hal-hal yang menghilangkan sukacita dari hati kita.

Daud berkata: “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak” (Mazmur 16:8-9). Daud mengerti benar bahwa sukacita dan sorak-sorai bukanlah bergantung dari berat-ringannya situasi yang sedang ia hadapi. Tetapi ia percaya bahwa dengan memandang kepada Tuhan, menyadari kehadiran Tuhan yang selalu berjalan di sebelahnya dengan setia akan membuatnya mampu untuk terus berdiri tegak meski situasi sama sekali tidak kondusif. Bagi Daud, kehadiran Tuhan bersamanya merupakan kunci utama yang membuatnya mampu terus hidup dengan penuh sukacita dan keriangan. Bersama Tuhan dia tidak perlu takut. Bersama Tuhan ada solusi atau jawaban, pertolongan bahkan kemenangan. Bersama Tuhan kita akan selalu bisa bersukacita. Itu disadari Daud, dan itu bisa kita lihat dengan jelas dari tulisan-tulisannya dalam kitab Mazmur.

Apakah anda saat ini sedang kehilangan sukacita, sulit tersenyum dan tidak lagi merasa bahagia dalam hidup? Sadarilah bahwa beban kehidupan akan selalu datang silih berganti. Kabar baiknya adalah, Tuhan tahu dan mengerti pergumulan kita. Dia mendengar dan sangat peduli terhadap semua itu. Yesus berkata: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Tuhan selalu siap menyertai kita, dan selalu siap pula memberi kelegaan bahkan melepaskan kita dari belenggu masalah. Tuhan akan selalu ada beserta kita. Masalahnya, apakah kita mau mengarahkan pandangan kepadaNya, mengandalkanNya, bertumpu dan bergantung kepadaNya atau terus terfokus pada permasalahan yang datang silih berganti.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply