Memandang Dengan Iman

Ayat bacaan: Ibrani 11:1
====================
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

memandang dengan iman, iman adalah bukti

Pesimis atau optimiskah anda memandang tahun yang baru ini? Beberapa teman pengusaha memandang tahun ini sebagai tahun yang akan lebih sulit lagi dari tahun sebelumnya. Ada banyak perusahaan gulung tikar di tahun 2009, ada banyak yang mengalami kesulitan. Bagi saya pribadi, justru tahun 2009 kemarin adalah tahun yang luar biasa. Memegang janji Tuhan terbukti tidak pernah sia-sia. Ada begitu banyak mukjizat dan berkat yang Dia sediakan sehingga saya dan keluarga sama sekali tidak merasakan kegoncangan apapun selama tahun 2009. Bahkan sebuah rumah yang indah hadir di penghujung tahun 2009 kemarin. Itu berkat yang luar biasa, mengingat dari gaji standar yang saya terima, saya seharusnya tidak akan mampu membelinya. Pindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri tentu merupakan sebuah hal yang luar biasa, apalagi tanpa perlu menyicilnya selama bertahun-tahun. Perlukah saya korupsi agar saya mampu membeli rumah? Perlukah saya cemas memikirkan tempat tinggal? Perlukah saya terus berkeluh kesah dalam kekhawatiran dalam setiap doa? Tidak. Tuhan tahu persis apa yang kita butuhkan. Tahun lalu saya melangkah dengan iman memasuki tahun yang menurut sebagian orang merupakan tahun yang sangat sulit, dan itu terbukti. Tuhan mampu mencukupi bahkan menurunkan berkatNya di saat dunia berada dalam kondisi apapun. Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak terbatas.

Selain keajaiban besar yang saya ceritakan di atas, saya melihat pula bagaimana luar biasanya Tuhan menjamah banyak orang sepanjang tahun ini. Ada banyak jiwa-jiwa dipulihkan yang saya saksikan langsung. Ada banyak mukjizat kesembuhan terjadi, bukan hanya kepada manusia, tapi seperti yang pernah saya jadikan renungan kesaksian beberapa waktu yang lalu, seekor anjing yang tulang dadanya sempat menonjol ke luar sampai tidak bisa berjalan pun bisa Dia pulihkan kembali normal hanya dalam hitungan jam. Tuhan masih terus bekerja hingga hari ini. Berbagai mukjizat yang pernah Dia lakukan di waktu lalu kepada para tokoh alkitab masih berlaku sama hingga hari ini, karena Dia adalah Bapa yang kekal. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8). Jika kita menyadari hal itu, mengapa kita harus takut melangkah memasuki tahun yang baru? Semua itu sudah merupakan janji Tuhan yang tidak akan pernah Dia ingkari. Apa yang perlu kita lakukan adalah percaya penuh, memandang ke depan dan melangkah memasuki tahun yang baru ini dengan iman.

Firman Tuhan berkata: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Dasar dari segala sesuatu, dari apapun yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat, dari yang belum kita alami. Ketika kita menghadapi ujian di sekolah, ujian bukan lagi ujian ketika kita sudah tahu jawabannya. Demikian pula dengan kehidupan kita. Tapi kita adalah manusia yang terbatas yang tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di depan, dan karena itulah kita membutuhkan iman, yang mampu bertindak sebagai bukti dari segala sesuatu yang belum terlihat . Tanpa iman niscaya hidup akan selalu penuh dengan ketidakpastian karena kita tidak akan pernah secara pasti mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, bahkan sedetik kemudian. Tanpa iman hidup akan mudah diombang-ambingkan berbagai hal yang dapat membuat kita terus berada dalam kegelisahan atau ketakutan. Tapi ada iman, yang bisa menjadi bukti meski menghadapi yang belum terjadi sekalipun. Singkatnya, dengan iman kita bisa tenang menatap hari depan.

Jika demikian, jelaslah terlihat betapa pentingnya iman dalam hidup kita. Seberapa besar iman yang kita butuhkan? Yesus berkata “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17:20). Artinya ketika kita belum mengalami janji Tuhan, iman kita masih lebih kecil dari biji sesawi, yang diameternya kurang dari satu milimeter. Padahal jika kita memiliki iman seukuran itu saja akan bisa membawa dampak yang begitu besar. Iman seringkali mudah diucapkan namun sulit untuk dipraktekkan atau diaplikasikan. Semua orang boleh saja mengaku sudah memiliki iman, namun semua akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi kita dalam menghadapi situasi sulit atau pandangan kita ketika menatap masa depan yang penuh ketidakpastian. Reaksi dan pandangan kita akan menunjukkan dengan jelas sebesar apa sesungguhnya iman kita saat ini. Sejauh mana kita percaya kepada janji Tuhan. Sebab iman adalah buktinya.

Mari kita ambil satu tokoh saja sebagai contoh. Abraham disebut bapa orang beriman. Mengapa disebut demikian? Karena lewat kesaksian hidupnya ada serangkaian kisah yang membuktikan penggenapan janji Tuhan lewat iman. Pertama, “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” (Ibrani 11:8). Jika kita di posisi Abraham, maukah kita pergi ke sebuah tempat yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, di saat kita sedang hidup dengan tenteram, meninggalkan semua kenyamanan kita? Jawaban ya mungkin mudah kita lakukan ketika kita sudah mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Kita sudah mengetahui kisah Abraham, maka mungkin mudah bagi kita untuk mengatakan ya. Tapi pada saat itu apakah Abraham tahu apa yang akan terjadi? Tidak. Tapi apakah ia taat dan pergi sesuai dengan panggilan Tuhan? Ya. Itu karena imannya. Meski tidak ada yang pasti, dan pada saat itu ia belum mendapat penjelasan apa-apa mengenai tujuan Tuhan, nyatanya ia tetap pergi dan berdiam di tanah asing yang dijanjikan Tuhan kepadanya. (ay 9). Itu pun karena imannya. Dan lihatlah apa yang ditulis alkitab mengenai itu. “Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.” (ay 10). Abraham memiliki visi tentang masa depan, sesuatu yang belum ia lihat secara nyata, namun ia memiliki buktinya yaitu lewat iman. Karenanya ia bisa memandang sebuah visi ke depan meski ia belum memiliki bukti apa-apa secara langsung. Itu karena iman. Selanjutnya, “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.” (ay 11). Pada saat itu mereka sudah berusia sangat lanjut. Sara sudah lama menopause, Abraham sudah “mati pucuk”, namun mereka bisa memegang janji Tuhan yang mungkin terdengar sangat aneh ketika diberikan kepada sepasang kakek nenek seperti Abraham dan Sara. Keturunan besar seperti bintang di langit dan pasir di laut? Kepada orang lanjut usia? Apa tidak salah? Kita mungkin akan tertawa ketika dijanjikan seperti itu, namun Abraham menerima janji dan memegangnya teguh, meski pembuktian itu tidak langsung datang seketika melainkan membutuhkan bertahun-tahun ke depan untuk digenapi. Dan kita tahu janji Tuhan itu secara ajaib terbukti. Abraham sudah mengetahuinya terlebih dahulu meski belum melihatnya, dan itu karena iman. Lalu ketika Ishak sudah lahir, datang pula perintah Tuhan agar ia mengorbankan anak yang dijanjikan Tuhan sebagai persembahan. Jika ini kita alami, bagaimana reaksi kita? Sedih, kecewa, marah? Menuduh Tuhan mempermainkan kita seenaknya? Tapi tidak bagi Abraham. “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.” (ay 17-19). Abraham tahu bahwa Tuhan tidak terbatas kuasaNya, dan ia tahu persis bahwa Tuhan bukanlah sosok kejam dan jahat. Semua itu pasti ada alasannya, dimana rancangan Tuhan itu akan selalu baik. Oleh karena itu ia taat, dan kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Semua itu bisa dilakukan Abraham lewat iman. Ia mendapat segala bukti terhadap apa yang belum ia lihat dengan iman. Dia bisa memiliki visi yang jelas di masa depan karena ia percaya sepenuhnya kepada janji Tuhan, dan ia memiliki bukti nyata karena ia memandang dengan iman. FAITH is the assurance of the things we hope for, being the proof of things we do not see and the conviction of their reality.

Aplikasi dan implikasi iman sesungguhnya sangatlah luas. Iman mampu menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan menjadi bukti kuat dari apapun yang belum kita lihat. Yesus berkata “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22). Kuncinya hanya satu: percaya. Dan percaya akan hadir lewat iman. Dan jangan lupa, karena iman dalam Kristus pula kita dibenarkan, sehingga kita bisa hidup tenang dalam damai sejahtera. “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Roma 5:1-2). Kita memang tidak tahu apa yang bisa terjadi di sepanjang tahun ini. Tapi mampukah kita memandang positif? Mampukah kita percaya bahwa Tuhan akan selalu berada bersama kita dan melindungi kita? Bisakah kita memiliki visi seperti Abraham yang bisa melihat janji Tuhan dinyatakan jauh sebelum itu terjadi? Apa yang akan kita alami akan sangat tergantung dari cara pandang kita. Ingatlah bahwa meski semuanya belum terjadi, kita sudah memiliki bukti yaitu iman. Oleh karena itu, marilah kita memandang tahun ini dengan optimis. Songsonglah tahun yang baru ini dengan sukacita dan dalam damai Tuhan. Dia tidak akan pernah meninggalkan setiap anak-anakNya yang taat mengikuti kehendakNya. Itu sudah dibuktikan oleh para saksi iman sepanjang alkitab, itu sudah saya buktikan langsung sepanjang tahun 2009 yang lalu, dan itu pun berlaku buat anda.

Dengan iman kita memiliki dasar terhadap segala sesuatu yang kita inginkan dan bukti dari semua yang tidak kita lihat

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply