Memancarkan Persahabatan kepada Sesama

persahabatan tanganAPA yang Anda lakukan ketika Anda mesti membangun persahabatan dengan sesama Anda? Anda biarkan saja persahabatan itu berlangsung hanya untuk Anda sendiri? Atau Anda mau memancarkan makna persahabatan itu bagi orang lain? Di suatu warung bir, seorang pelanggan begitu datang selalu memesan tiga gelas bir. Katanya, itu karena ia mengingat dua saudaranya yang terpisah jauh. […]

persahabatan tangan

APA yang Anda lakukan ketika Anda mesti membangun persahabatan dengan sesama Anda? Anda biarkan saja persahabatan itu berlangsung hanya untuk Anda sendiri? Atau Anda mau memancarkan makna persahabatan itu bagi orang lain?

Di suatu warung bir, seorang pelanggan begitu datang selalu memesan tiga gelas bir. Katanya, itu karena ia mengingat dua saudaranya yang terpisah jauh. Tiga gelas bir pesanannya itu, satu untuk dirinya sendiri. Dua gelas yang lain untuk mengenang masing-masing saudaranya. Namun ketiga gelas berisi bir itu diminumnya sendiri.

Hari ini ketika pelanggan itu datang, pemilik warung sudah menyediakan tiga gelas bir. Namun ia menolak. Ia hanya mengambil dua saja.

Pemilik warung itu bertanta, “Lho, ada apa?” Ia menarik kembali satu gelas bir.

Dengan nada sedih, pelanggan itu berkata, “Satu orang saudara saya baru saja dipanggil oleh yang mahakuasa. Dia kena serangan jantung beberapa hari yang lalu.”

Kata pelanggan itu penuh haru, “Ah, saya ikut berduka cita atas meninggalnya saudara Anda.”

Sahabat, dalam hidup ini ada berbagai cara orang membangun relasi dengan sesamanya. Ada yang membangun relasi itu dengan sering menelephon atau sms teman atau saudara-saudaranya. Ada yang mengirim bunga waktu sahabatnya berulang tahun. Ada yang mengunjungi teman-teman atau saudara-saudaranya untuk membangun persaudaraan yang lebih baik.

Kisah di atas agak unik. Pelanggan itu ingin menghadirkan dua saudaranya dalam dua gelas bir. Dengan minum tiga gelas bir itu, ia berharap mampu mengingat dua saudaranya. Ia ingin mendekatkan dua saudaranya yang tinggal jauh itu dengan dirinya. Tentu saja diharapkan bahwa pelanggan warung bir itu tidak mabuk.

Bagaimana Anda membangun persahabatan Anda? Tentu Anda akan memilih cara membangun persahabatan yang dapat Anda laksanakan dalam hidup sehari-hari. Anda tentu tidak ingin membuat suatu cara yang ekstrim yang justru akan mencelakakan diri Anda. Lebih dari itu, Anda ingin persahabatan Anda membawa sukacita dan damai dalam hidup ini.

Orang beriman mesti membangun persahabatan yang membahagiakan semua orang. Tentu saja orang beriman menyisihkan bentuk-bentuk persahabatan yang hana memusatkan pada diri sendiri. Orang tidak hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri. Justru orang ingin agar persahabatan itu membangun kebaikan bersama. Dengan demikian, kebahagiaan tidak hanya menjadi milik diri sendiri. Kebahagiaan menjadi milik semua orang yang membangun persahabatan itu.

Bahkan sebuah persahabatan mesti memancar keluar dari lingkungan sekitarnya. Persahabatan mesti mempengaruhi kehidupan masyarakat yang lebih luas. Mengapa? Karena sebuah masyarakat itu dibangun dari pribadi-pribadi atau orang per orang. Persahabatan dua orang mesti mampu memancarkan kebaikan bagi semua orang yang ada di sekelilingnya.

Seterusnya persahabatan itu bertumbuh dan berkembang seperti rumpun bambo atau pisang yang kian besar. Persahabatan membawa orang hidup dalam damai meski orang mesti bersentuhan dengan sesamanya yang tidak seagama, sesuku, satu ras, atau satu profesi.

Mari kita membangun persahabatan kita dengan memancarkannya kepada sesama kita. Dengan demikian, hidup bersama kita menjadi lebih baik. Tuhan memberkati.

Kredit foto: Ilustrasi (Courtesy of Jolies phrases)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply