Memaknai Silahturami Lebaran

silaturahmiMOMEN  Lebaran memang selayaknya kita gunakan secara lebih untuk menyapa saudara-saudari kita umat muslim dan mereka yang merayakannya. Demikian jugalah yang dibuat oleh Paroki Majenang. Saya sebagai wakil umat katolik dan warga Pastoran bersama dengan Mas Agus (warga pastoran) pada hari pertama Lebaran 17 Juli 2015, mulai pkl 08.00 wib pagi berkeliling ke warga sekitar gedung gereja dan pastoran. Terhitung ada 15 keluarga yang kami kunjungi. Mereka amat bahagia. terimakasih banyak romo dan mas Agus atas kunjungannya. Saya kira ini tidak berlebihan dibuat sebagai sesama warga masyarakat. Mulai pukul 10.00 wib, saya bersama DPP Harian (yang tidak mudik) dan dua komunitas suster (3) mengadakan kunjungan ke rumah kediaman Bapak Kyai Haji Amin Djafar, umuran 82-an. Beliau sehat dan amat akrab berbincang soal hidup bersama dan bermasyarakat, dari situ kami ke rumah tetangga Bp KH Amin Djafar – asli Wates yang menjadi ketua paguyuban para guru yang berasal dari gunung menoreh. Sebagai sesama Menoreh, saya diundang untuk halal bialal besok tanggal 2 Agustus. Semoga bisa datang. Jadi dibuat kangen dengan  slondok dan Gunung Suroloyo-nya. Kunjungan kami berlanjut ke PonPes El-Bayan (ponpes terbesar Majenang, ada 700-an santri berasal dari seluruh daerah di Indonesia, kecuali Maluku). Bp KH Subeki bersama istri dan anak-anak langsung mengenali kami. Bicara ngalor ngidul soal hidup bersama dan hidup perpondokan. Selepas dari sini, waktu sudah menunjukkan okl 11.50…mereka bersiap sholat Jumatan… maka kami pun berpamitan. Saya bersama Suster2 melanjutkan kunjungan ke rumah keluarga Bpk Rasko (nikah beda agama) di Wanareja. Sesampai di tempat, Bp Rasko sedang sholad di msjid. Kami diterima Ibu Rasko beserta dua anak dan menantu serta cucu. Di sinilah kami disuguhi nyamikan dan makan siang bernuansa organik. Sayur, nasi, daging ayam, daging sapi dan bahkan sambal pun juga organik. Di sela-sela makan siang itu, kami ditelpon Rm Dimas Danang dari Perancis, bergiliran dari Bp Rasko, saya, dik Nino, Mbak Pipit, bu Rasko. Durasi telponnya luama sekali…tetapi saya percaya…biayanya amat murah (menurut pengalaman saya dl). Setelah itu kami kembali dan sampai di rumah jam 14.30an. Sore harinya, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada Bpk KapolSek Majenang lewat SMS dan langsung mendapat balasan simpatik. Natal lalu,  Bpk Kapolsek juga SMS ucapan Selamat Natal. Dalah banyak kesempatan kami berjumpa lewat media komunikasi: telpon, sms, line, dan WA. Alat modern sungguh mendekatkan relasi antar kami. Setelah makan malam yang  kuajukan, saya melanjutkan silaturahmi ke Bp. Lurah Sidangsari dan dua keluarga nikah beda agama. Di tiga keluarga itu kami menghabisakan waktu 2,5 jam terhitung mulai darr jam 18.45. Paling lama di rumah Bp Lurah yang sudahsangat akrab dengan kami. Dua kali Bp Lurah ini mengikuti program sosial Donor Darah yang diadakan oleh Gereja Katolik. Lebaran hari kedua Hari ini saya bersama DPP dan para suste2 bersilaturahmi ke Bp Tato Pamudji, Bupati Cilacap, yang mengadakan Open House di rumah Kediamannya di Ciguling. Meski saya tidak memakai jubah, saya langsung dikenal dan diterima dengan sangat akrab oleh Bp Bupati tanpa saya harus memperkenalkan diri dari Gereja Katolik. Ini bukan sesuatu yang istimewa. Itu seperti tahun lalu saja. Obrol sebentar dan diajak foto-foto bersama dengan banyak model. Seperti foto model saja kali. Sewaktu menikmati hidangan, saya bertemu dengan Bp Camat lama dan Camat yang baru beserta dengan istrinya. Mereka adalah Camat Jenang, wilayah tempat saya tinggal. Di sini juga kami bertemu dengan Bp Helmi, DPRD dari Fraksi Golkar. Beliau adalah adik Bpk Bupati. Beliau amat beterima kasih dan berhutang budi dengan saya dan umat Katolik Majenang.  Tahun lalu beliau juga ungkapkan hal yang sama. Makna silaturhmi bagiku: saya bertemu dan berjumpa dengan saudara-saudari saya sendiri. Mereka tidak asing bagiku dan aku pun demikian juga. Semoga keakraban ini bermanfaat bagi tugas perutusan kami masing-masing. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

silaturahmi

MOMEN  Lebaran memang selayaknya kita gunakan secara lebih untuk menyapa saudara-saudari kita umat muslim dan mereka yang merayakannya. Demikian jugalah yang dibuat oleh Paroki Majenang.

Saya sebagai wakil umat katolik dan warga Pastoran bersama dengan Mas Agus (warga pastoran) pada hari pertama Lebaran 17 Juli 2015, mulai pkl 08.00 wib pagi berkeliling ke warga sekitar gedung gereja dan pastoran. Terhitung ada 15 keluarga yang kami kunjungi. Mereka amat bahagia. terimakasih banyak romo dan mas Agus atas kunjungannya. Saya kira ini tidak berlebihan dibuat sebagai sesama warga masyarakat.
Mulai pukul 10.00 wib, saya bersama DPP Harian (yang tidak mudik) dan dua komunitas suster (3) mengadakan kunjungan ke rumah kediaman Bapak Kyai Haji Amin Djafar, umuran 82-an. Beliau sehat dan amat akrab berbincang soal hidup bersama dan bermasyarakat, dari situ kami ke rumah tetangga Bp KH Amin Djafar – asli Wates yang menjadi ketua paguyuban para guru yang berasal dari gunung menoreh. Sebagai sesama Menoreh, saya diundang untuk halal bialal besok tanggal 2 Agustus.
Semoga bisa datang. Jadi dibuat kangen dengan  slondok dan Gunung Suroloyo-nya.
Kunjungan kami berlanjut ke PonPes El-Bayan (ponpes terbesar Majenang, ada 700-an santri berasal dari seluruh daerah di Indonesia, kecuali Maluku). Bp KH Subeki bersama istri dan anak-anak langsung mengenali kami. Bicara ngalor ngidul soal hidup bersama dan hidup perpondokan. Selepas dari sini, waktu sudah menunjukkan okl 11.50…mereka bersiap sholat Jumatan… maka kami pun berpamitan.
Saya bersama Suster2 melanjutkan kunjungan ke rumah keluarga Bpk Rasko (nikah beda agama) di Wanareja. Sesampai di tempat, Bp Rasko sedang sholad di msjid. Kami diterima Ibu Rasko beserta dua anak dan menantu serta cucu. Di sinilah kami disuguhi nyamikan dan makan siang bernuansa organik. Sayur, nasi, daging ayam, daging sapi dan bahkan sambal pun juga organik.
Di sela-sela makan siang itu, kami ditelpon Rm Dimas Danang dari Perancis, bergiliran dari Bp Rasko, saya, dik Nino, Mbak Pipit, bu Rasko. Durasi telponnya luama sekali…tetapi saya percaya…biayanya amat murah (menurut pengalaman saya dl). Setelah itu kami kembali dan sampai di rumah jam 14.30an.
Sore harinya, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada Bpk KapolSek Majenang lewat SMS dan langsung mendapat balasan simpatik. Natal lalu,  Bpk Kapolsek juga SMS ucapan Selamat Natal. Dalah banyak kesempatan kami berjumpa lewat media komunikasi: telpon, sms, line, dan WA. Alat modern sungguh mendekatkan relasi antar kami.
Setelah makan malam yang  kuajukan, saya melanjutkan silaturahmi ke Bp. Lurah Sidangsari dan dua keluarga nikah beda agama. Di tiga keluarga itu kami menghabisakan waktu 2,5 jam terhitung mulai darr jam 18.45. Paling lama di rumah Bp Lurah yang sudahsangat akrab dengan kami. Dua kali Bp Lurah ini mengikuti program sosial Donor Darah yang diadakan oleh Gereja Katolik.
Lebaran hari kedua
Hari ini saya bersama DPP dan para suste2 bersilaturahmi ke Bp Tato Pamudji, Bupati Cilacap, yang mengadakan Open House di rumah Kediamannya di Ciguling. Meski saya tidak memakai jubah, saya langsung dikenal dan diterima dengan sangat akrab oleh Bp Bupati tanpa saya harus memperkenalkan diri dari Gereja Katolik. Ini bukan sesuatu yang istimewa. Itu seperti tahun lalu saja. Obrol sebentar dan diajak foto-foto bersama dengan banyak model. Seperti foto model saja kali. Sewaktu menikmati hidangan, saya bertemu dengan Bp Camat lama dan Camat yang baru beserta dengan istrinya.
Mereka adalah Camat Jenang, wilayah tempat saya tinggal. Di sini juga kami bertemu dengan Bp Helmi, DPRD dari Fraksi Golkar. Beliau adalah adik Bpk Bupati. Beliau amat beterima kasih dan berhutang budi dengan saya dan umat Katolik Majenang.  Tahun lalu beliau juga ungkapkan hal yang sama.
Makna silaturhmi bagiku: saya bertemu dan berjumpa dengan saudara-saudari saya sendiri. Mereka tidak asing bagiku dan aku pun demikian juga. Semoga keakraban ini bermanfaat bagi tugas perutusan kami masing-masing.
Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply