Memaknai Rabu Abu, Itu Menyakitkan

BERBICARA terus terang itu bisa menyakitkan. Apalagi kalau yang dibicarakan itu tentang penyakit, maka malah menyedihkan. Bicara terus terang tentang kenyataan diri apa adanya saja bisa membuat orang sakit hati. Misalnya, kamu itu kulitnya hitam. Kamu itu pendek. Kamu itu jelek. Kamu itu miskin. Walaupun semuanya itu kenyataan, tetapi hal itu tidak boleh dikatakan, karena akan menyinggung perasaan.

Yang lebih baik dikatakan ialah yang bukan apa adanya. Yaitu supaya orang melihat yang positif dari realitas. Misalnya, kamu itu kulitnya hitam manis, cantik sekali. Kamu itu pendek, tetapi gesit seperti Maradona atau Messi. Kamu itu jelek seperti mas Tukul yang sukses. Kamu itu miskin tapi bermartabat, daripada kaya yang koruptor.

Berbicara apa adanya baik tentang diri sendiri atau orang lain sering tidak mengenakkan.

Apalagi kalau realitas itu menyangkut penyakit yang serius dan tidak bisa diobati. Pemberitahuan tentang kenyataan itu bukan hanya menjengkelkan, melainkan menyedihkan dan menakutkan. Dokter di negara berkembang lebih cocok bersikap paternalistis, yaitu tidak usah memberitahu pasien kalau penyakitnya sudah gawat. Dokter cukup memberitahu keluarga saja, dan keluarga juga tidak akan mengatakannya kepada pasien, supaya pasien tidak tambah sedih dan lebih cepat mati. Karena tidak dikatakan penyakitnya pun, ia tidak lama lagi akan mati.

Kalau di negara yang sudah maju pasien menuntut informasi yang sebenarnya dari dokter. Pasien akan bertanya, “Dokter saya sakit apa? Obatnya apa? Bagaimana obat itu bekerja dalam tubuh saya? Apa efek obat itu bagi saya kalau saya minum? Penyakit saya berapa persen bisa disembuhkan menurut perkiraan dokter?, dst.

Dalam percakapan di kalangan orang yang sehat dan lingkungan yang sedang bekerja untuk masa depan, maka yang disampaikan adalah hal-hal yang baik dan penuh harapan. Realitas sebenarnya tidak dibicarakan, melainkan ditutupi dengan rencana-rencana yang besar dan mimpi yang indah-indah. Di lingkungan orang sehat di kampus-kampus dan perusahaan-perusahaan dibicarakan manusia yang harus sukses dan akan hidup seribu tahun lagi. Walaupun semua orang tahu bahwa itu hanyalah puisi seperti hasil karya Kairil Anwar, namun semua orang sehat dan sukses yakin bahwa manusia hidup dengan sukses dan sehat selalu.

Hanya dalam suasana ibadah dan liturgi manusia berani bicara apa adanya. Manusia ditelanjangi dan dikembalikan kepada apa yang sebenarnya dan apa yang nyata. Pada hari Rabu Abu besok, kita akan menerima salib abu di dahi dan mendengarkan imam berkata, “Ingatlah, kamu ini abu dan akan kembali menjadi abu lagi.”

Kej. 2: 7a menyatakan, “manusia dibentuk dari debu tanah.” Dan pada suatu hari manusia akan mati dan kembali menjadi debu tanah.

Konteks percakapan yang bisa memberikan kesempatan kepada manusia untuk menyatakan hal-hal seperti itu hanyalah konteks ibadat. Kalau dalam konteks lain, hal itu tidak dimungkinkan, tidak pas, tidak cocok, tidak pantas dan tidak sopan. Secara psikologis, filsafat, apalagi secara bisnis dan politik, tidak mungkin membicarakan manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu lagi. Biarpun semua orang sudah tahu bahwa faktanya seperti itu.

Dalam konteks ibadah dan penghayatan iman, kesadaran akan kebenaran tentang manusia yang berasal dari abu dan akan menjadi abu lagi, justeru menumbuhkan ketenangan jiwa dan sukacita iman. Dengan menunjuk secara langsung tanpa tedeng aling-aling bahwa manusia itu diciptakan dari debu tanah, bahwa manusia itu berdosa dan perlu bertobat, maka kejujuran itu malah bisa membuat seseorang bersikap bijaksana dalam melihat kehidupan ini. Karena hidup itu singkat, maka tidak ada waktu untuk berbuat curang, dan diperbayak amal kebaikan, sebelum keburu mati dan menjadi debu.

Berita Kitab Suci bahwa manusia itu dari debu dan orang berdosa bukanlah berita buruk, melainkan kabar gembira. Seperti seorang dokter yang dengan terus terang mengatakan kepada pasien bahwa anda sakit TBC atau malaria dan ini adalah obatnya. Lebih baik pasien tahu penyakitnya dan merasa senang ada harapan akan sembuh; daripada ia pura-pura sehat dan tidak mendapat pengobatan dari penyakit TBC atau malaria itu.

Pewahyuan dari Tuhan mengatakan kepada manusia tentang manusia apa yang sebenarnya. Intinya: manusia itu dari debu tanah; manusia itu jatuh ke dalam dosa. Tetapi debu tanah itu dihembusi dengan nafas (nefes, ruah, roh) dari Allah dan demikian manusia itu hidup (Kej. 2: 7b). Dan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa itu telah diselamatkan oleh Yesus Kristus Putera Allah yang menjadi manusia.

Dalam bacaan II liturgi Rabu Abu St. Paulus mengatakan, “Kristus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Manusia dibenarkan walaupun pada kenyataannya tidak benar atau berdosa. Tuhan menyatakan manusia sebagai benar, bukan salah, di dalam Kristus yang meskipun benar, disalahkan.” Ini ungkapan iman atau teologi St. Paulus tentang pembenaran manusia berdosa oleh Kristus.

Jadi sebaiknya, manusia memang mulai dari apa yang benar, apa yang nyata, supaya bisa belajar dari realitas itu untuk bisa memperoleh kebijaksanaan hidup.

avatar Romo Albertus Sujoko MSC berasal dari Paroki Purwosari. Tamat dari Seminari Pineleng (1983-1990), ia memperoleh gelar doktor teologi di Universitas Alfonsiana, Roma. Pernah menjabat Ketua STF Seminari Pineleng (2003-2011) dan sekarang Ketua Program Imamat untuk para frater MSC Seminari Hati Kudus Pineleng.

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: