Memahami yang Tersurat dan yang Tersirat dalam Membaca Ayat Kitab Suci


 yang Tersurat dan yang Tersirat dalam Membaca Ayat Kitab Suci 


 “Jangan membangunkan macan tidur!”


Saya yakin, semua yang cukup berpendidikan tahu apa maksud larangan itu. Jika setelah mendengar itu, kamu langsung membayangkan seekor macan yang sedang tidur, dan kamu ada di dekatnya, berjalan mengendap-endap, jantung berdebar, jangan sampai macan itu terbangun, berarti kamu hanya menangkap yang tersurat.


Sementara itu, banyak orang di sekitarmu yang mengerti, bahwa yang dimaksud adalah agar kamu tidak memancing reaksi orang atau pihak tertentu, karena amarah orang atau pihak tertentu itu bisa bangkit dan mendatangkan kerugian besar bagimu. Mereka menangkap yang tersirat.

Mari berfantasi sejenak!

Dua ribu tahun setelah hari ini. Kita pasti sudah tak lagi berada di muka bumi ini. Seorang arkeolog menemukan dokumen kuno dari zaman ini. Di sana ada tulisan, “Jangan membangunkan macan tidur!” Lalu disimpulkan demikian, “Manusia yang hidup di tahun 2017 kala itu, dilarang membangunkan macan yang sedang tidur. Tidak ada larangan tentang binatang-binatang lain. Maka, pasti pada masa itu tidaklah berbahaya bagi manusia untuk membangunkan singa tidur, beruang tidur, ular kobra tidur.”


Pasti dalam kondisi roh di alam keabadian sana, saya akan bergumam, “Ah, bodoh sekali kamu. Pada zaman kami, larangan itu jelas sekali maksudnya. Kamu mengerti apa yang tersurat, dan kamu menangkap yang tersirat secara keliru.”

Persoalan pada cara kita memahami ayat Kitab Suci hari ini.

Kadang saya membayangkan, mungkin cara kita memahami ayat-ayat suci dalam Alkitab terdengar sangat bodoh bagi orang-orang yang hidup pada zaman sekian ribu tahun yang lalu. Mungkin di alam keabadian sana mereka menertawakan kita yang kerap mudah terperangkap pada yang tersurat saja tanpa pernah memahami yang tersirat.


Saya hanya bisa tertunduk malu. Yesus berkata, “Akulah pokok anggur.” Apakah ini membuktikan bahwa Yesus bukanlah manusia, tetapi hanya sebuah pohon anggur? Lalu, karena tak pernah berkata, “Akulah pokok rambutan,” Ia pasti bukan sebuah pohon rambutan. Yesus berkata, “Akulah terang dunia.” Apakah ini membuktikan bahwa sebenarnya Yesus bukanlah manusia, tetapi hanya sesuatu yang berpijar terang? Mengapa begitu banyak orang bersikeras pada yang tersurat secara eksplisit dalam ayat-ayat suci saja, tetapi tak pernah mampu memeluk kebenaran yang tersirat?


Yesus berkata, “Dosamu diampuni.” Di telinga para pendengar-Nya, yang tersurat sangat jelas: Yesus berkuasa mengampuni dosa. Yang tersirat dalam kata-kata Yesus tersebut juga terdengar jelas di telinga mereka, “Aku adalah Allah.” Kita tidak bisa memaksakan agar yang tersirat itu, juga jelas tersurat. Persoalan bukan terletak pada ayat suci. Persoalan terletak pada kebodohan kita. Di alam keabadian sana, pasti mereka sedang mencibir kita yang bersikeras pada yang tersurat, tanpa mau menengok yang tersirat.

Sikap mana yang mau kamu pilih?

Saya menolak jadi orang bodoh yang ditertawakan oleh penghuni di alam sana. Karena alasan itulah, tanpa henti saya membuka hati, budi, indera, dan kehendak, agar menangkap secara tepat yang tersirat dalam ayat-ayat suci bersama dengan yang tersurat. Saya menolak jadi orang picik. Maka, saya terus memohon rahmat dari Yang Ilahi yang satu dan sama itu, agar saya membuka hati penuh hormat bagi yang tersurat dan yang tersirat dalam ayat-ayat suci berbagai aliran dan agama.


Jangan gegabah. Yang tersurat juga jangan diabaikan. Maka, jangan mencoba membangunkan macan yang sedang tidur nyenyak. Kalau kamu nekad, bersiaplah untuk ditertawakan, bahkan oleh macan itu, seraya menyantap dagingmu.


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply