Melayat Umat

4 Juli - RmA 5SEMALAM usai Misa Jumat Pertama dan Adorasi dan Prosesi Sakramen Mahakudus aku meluncur ke Tionghaiwa tempat persemayaman Jenazah – salah satu di Semarang – dan tentu saja untuk Melayat mengapa karena aku ingin Berempati dengan Keluarga yang berduka serta mendoakan Mereka agar tetap Tabah dan yang Berpulang agar Bahagia di Sorga oleh Belaskasih KerahimanNya mengapa karena kebetulan kutakbisa melayani Umatku itu di rangkaian Upacara kematian berhubung bersamaan dengan jadwal Lain yang tak bisa Ditinggalkan oleh sebabku Sendiri di Paroki – dan Itu kerap bikinku Sedih oleh sebab kutakbisa Terbelah untuk Melayani di dua tempat di Saat yang sama Sekaligus – semalam usai Misa Jumat Pertama aku meluncur ke Tionghaiwa melayat Dua sekaligus di ruang yang Berbeda yang Satu memang Umatku dari Lingkungan Plampitan dan Satunya lagi Bukan tetapi Encik salah seorang Umat yang menjadi Kabid Koinonia di Paroki Kebon Dalem maka meski yang Kedua ini bukan Umat aku tetap Melayat dan Ia bukan Kristen Katolik tetapi Kristen Protestan saatku datang kulihat Keluarga meski kami Beda menyambut Gembira dalam Duka – aku memang Berjubah maka Seketika dikenal Pastor – dan ternyata Mereka mengenalku nyaris Semua yang Hadir di situ meski Mereka bukan Jemaatku sebagai orang Katolik mengapa ternyata yang Meninggal serta Keluarganya itu tinggal di Tanah Mas Semarang dan para Pelayat itu juga warga Tanah Mas yang Segereja yang Wafat dan aku Memang pernah menjadi bagian dari Mereka saat Tinggal dan Melayani segenap Umat Katolik Tanah Mas lima tahun lamanya dan aku Sering berkeliling sekadar Menyapa dengan Cinta serta ikut acara Bersama di Perumahan dan Kelurahan : wah Mereka semua Kenal dan Tahu Romo ya begitu komentar seorang Bapak yang Duduk di sampingku dan aku pun mengenalnya nama, aktivitas dan pelayanannya sebab kami sering Bekerjasama dalam Gerakan Ekumenisme ah yang Terpenting semoga yang Wafat mendapatkan Bahagia di Sorga dan yang masih Hidup tetap Tabah dan Rukun pun Setia dalam peziarahan di dunia ini Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

4 Juli - RmA 5

SEMALAM
usai Misa Jumat Pertama
dan Adorasi
dan Prosesi Sakramen Mahakudus
aku meluncur ke Tionghaiwa
tempat persemayaman Jenazah
– salah satu di Semarang –
dan tentu saja untuk Melayat

mengapa
karena aku ingin Berempati
dengan Keluarga yang berduka
serta mendoakan Mereka
agar tetap Tabah
dan yang Berpulang
agar Bahagia di Sorga
oleh Belaskasih KerahimanNya

mengapa
karena kebetulan
kutakbisa melayani Umatku itu
di rangkaian Upacara kematian
berhubung bersamaan
dengan jadwal Lain
yang tak bisa Ditinggalkan
oleh sebabku Sendiri di Paroki
– dan Itu kerap bikinku Sedih
oleh sebab kutakbisa Terbelah
untuk Melayani di dua tempat
di Saat yang sama Sekaligus –

semalam
usai Misa Jumat Pertama
aku meluncur ke Tionghaiwa
melayat Dua sekaligus
di ruang yang Berbeda

yang Satu memang Umatku
dari Lingkungan Plampitan
dan Satunya lagi Bukan
tetapi Encik salah seorang Umat
yang menjadi Kabid Koinonia
di Paroki Kebon Dalem

maka meski yang Kedua ini
bukan Umat
aku tetap Melayat
dan Ia bukan Kristen Katolik
tetapi Kristen Protestan

saatku datang
kulihat Keluarga
meski kami Beda
menyambut Gembira dalam Duka
– aku memang Berjubah
maka Seketika dikenal Pastor –

dan ternyata Mereka mengenalku
nyaris Semua yang Hadir di situ
meski Mereka bukan Jemaatku
sebagai orang Katolik

mengapa
ternyata yang Meninggal
serta Keluarganya itu
tinggal di Tanah Mas Semarang
dan para Pelayat itu
juga warga Tanah Mas
yang Segereja yang Wafat
dan aku Memang pernah
menjadi bagian dari Mereka
saat Tinggal dan Melayani
segenap Umat Katolik Tanah Mas
lima tahun lamanya
dan aku Sering berkeliling
sekadar Menyapa dengan Cinta
serta ikut acara Bersama
di Perumahan dan Kelurahan

: wah Mereka semua Kenal
dan Tahu Romo ya
begitu komentar seorang Bapak
yang Duduk di sampingku
dan aku pun mengenalnya
nama, aktivitas dan pelayanannya
sebab kami sering Bekerjasama
dalam Gerakan Ekumenisme

ah yang Terpenting
semoga yang Wafat
mendapatkan Bahagia di Sorga
dan yang masih Hidup
tetap Tabah dan Rukun pun Setia
dalam peziarahan di dunia ini

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply