Melakukan Kehendak Tuhan pada Zamannya (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 13:36==============================”Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.”Pernahkah anda berpikir mengapa…

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 13:36
==============================
“Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.”

Pernahkah anda berpikir mengapa anda hidup di zaman ini, zaman yang berbeda dengan orang tua, kakek-nenek atau buyut kita, berbeda pula dengan anak-cucu kita kelak? Lantas apa sebenarnya tugas kita seiring dengan keberadaan kita di zaman yang sekarang tengah kita jalani ini? Itu isi perbincangan saya dengan salah seorang musisi yang sudah tiga generasi mewarnai peta musik di Indonesia ini. Ia sekarang sukses, orang tuanya dulu sukses pada masanya, dan di masa sebelumnya neneknya yang jaya di kancah yang sama. Ia bercerita bahwa pada suatu kali ia merenung mengapa ia berada pada generasinya, dan berpikir apakah ada tugasnya yang lain, selain melanjutkan pencapaian baik dari generasi sebelumnya dan berkontribusi positif bagi dunia musik. Pada masanya, para musisi melalui masa-masa keemasan, lalu bertahan dan terus berkarya menuruti panggilan hidupnya. Tapi sepanjang-panjangnya karir dan usia mereka, pada suatu ketika nanti mereka pun akan habis masa tenarnya, pensiun dan mangkat, lalu digantikan oleh generasi selanjutnya.

Semakin umur kita bertambah, kita seharusnya makin bijaksana dalam berpikir dan menyadari bahwa waktu kita terbatas.Berapa lama sih panjang umur manusia? Semakin lama hidup semakin tidak sehat, baik dari makanan, polusi, stres dan sebagainya, sehingga tampaknya rentang umur manusia hari ini menjadi semakin singkat. Ada batas waktu bagi kita untuk menjalani fase kehidupan di dunia ini. Dalam doanya Musa berkata “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). Tujuh puluh tahun, dan kalau kuat delapan puluh tahun.

Ada orang yang beruntung bisa mencapai 90, 100 bahkan lebih, tapi sepanjang-panjangnya umur, itupun pasti akan berakhir pada suatu ketika. Di masa lalu saat manusia masih panjang-panjang umurnya, Alkitab mencatat beberapa orang yang berusia jauh di atas itu, bahkan ada yang nyaris 1000 tahun. Adam mencapai 930 tahun (Kejadian 5:5), Set mencapai 912 tahun (ay 8), Enos mencapai 905 tahun (ay 11), Kenan mencapai 910 tahun (ay 14), Yared mencapai 962 tahun (ay 17) Nuh mencapai 950 tahun (9:29), dan yang terpanjang usianya adalah Metusalah, mencapai 969 tahun. (5:27). Begitu panjang umur mereka, tapi ada hal yang menarik dari semua ayat yang menceritakan umur mereka tersebut. Jika anda baca, anda akan selalu menemukan akhir kalimat yang sama: lihatlah kalimatnya selalu diakhiri dengan kata-kata yang sama: “lalu ia mati.” Alkitab ternyata sudah mengingatkan bahwa sepanjang apapun umur manusia, pada suatu ketika tetap akan berakhir. Sepanjang-panjangnya umur, ketika waktunya tiba kita lalu mati. Tidak ada manusia yang hidup selamanya. Perjalanan hidup kita di dunia punya ujung, punya batas, punya akhir. Pada suatu ketika kita akan dipanggil Tuhan, dan dengan demikian berakhirlah perjalanan hidup di dunia ini.

Mengingat bahwa waktu terbatas, selama kita masih memiliki kesempatan seharusnya kita tidak membuang-buang waktu dan kesempatan untuk melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah dalam hidup kita masing-masing. Sayangnya kebanyakan orang lebih suka menunda dari satu besok ke besok yang lain. Banyak yang terus menolak untuk melayani Tuhan karena menganggap mereka belum siap. Kapan siapnya? Itupun mereka tidak tahu. Mengingat umur kita yang punya batas, yang kita sendiri tidak tahu kapan kita mencapai akhir itu, bagaimana jika kita belum melakukan apapun sudah keburu dipanggil untuk mempertanggungjawabkan hidup kita di depan Tuhan? Atau, bagaimana jika ketika kita sadar dan mau melakukan kehendak Tuhan, tapi tenaga kita sudah tidak lagi memungkinkan?

Untuk contoh lain kita bisa melihat catatan manis dalam Alkitab mengenai Daud. Lihatlah catatan manis tentang Daud yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini. “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.” (Kisah Para Rasul 13:36).

Kisah hidup Daud sangatlah luar biasa. Sejak masa kecilnya ia sudah menjalani sebuah kehidupan yang mengandalkan Tuhan. Ia mengatasi hewan-hewan buas yang hendak memangsa ternak yang ia gembalakan, ia menghadapi raksasa Goliat dan sukses, semuanya bukan karena kekuatannya tapi semata karena ia mengandalkan Tuhan dengan iman yang sangat kokoh. Ia menunjukkan hati penuh kasih yang mengampuni, menunjukkan sikap hebat ketika dalam tekanan dan ancaman, ia pun pernah terjatuh dalam dosa tapi kemudian bertobat dan kembali lagi ke jalan yang benar. Pengalaman hidupnya sangat berwarna, penuh suka dan duka, dan sangat banyak dipenuhi bukti kuasa Tuhan yang tidak terbatas. Tapi sehebat apapun seorang raja Israel bernama Daud pada akhirnya ia pun mangkat. Meski demikian kita bisa belajar dari kisah hidupnya sampai hari ini. Alkitab mencatat Daud sebagai orang yang telah melakukan kehendak Allah pada jamannya. Artinya pada masa dimana ia hidup dan punya kesempatan, ia berhasil memanfaatkan waktu-waktunya untuk melakukan kehendak Allah sehingga kualitas hidupnya mendapat pengakuan tinggi seperti itu.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply