Melahirkan yang Membahagiakan

Setiap persalinan adalah unik. ( BabyCenter)

PADA Kamis, 15 Februari 2018 lalu, WHO mengeluarkan rekomendasi baru untuk layanan medis global bagi ibu hamil yang sehat, dengan mengurangi intervensi medis yang tidak perlu.


Apa yang baru?


Di seluruh dunia, diperkirakan 140 juta kelahiran terjadi setiap tahun. Sebagian besar terjadi tanpa komplikasi pada ibu dan bayinya. Namun demikian, selama 20 tahun terakhir para dokter telah meningkatkan penggunaan intervensi medis, yang sebelumnya hanya digunakan untuk menghindari risiko atau mengatasi komplikasi, seperti infus oksitosin untuk mempercepat persalinan atau tindakan operasi caesar.


Meningkatnya proses bantuan medis untuk persalinan normal adalah:

meremehkan kemampuan ibu untuk melahirkan, danberdampak negatif pada pengalaman melahirkannya.

Sekitar 830 ibu meninggal karena komplikasi kehamilan atau persalinan di seluruh dunia setiap hari, meskipun sebenarnya sebagian besar dapat dicegah dengan intervensi medis selama kehamilan dan saat persalinan.


Menurut  Profil Kesehatan Indonesia 2016, terdapat 4.121.117 ibu atau 80,61%  yang menjalani persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan difasilitas kesehatan di Indonesia. Sedangkan,  Provinsi Maluku Utara memiliki capaian terendah hanya sebesar 17,79%, diikuti oleh Maluku sebesar 25,71%, dan Papua sebesar 39,18%.


Namun demikian, tindakan operasi pembedahan caesar di seluruh RS telah dilakukan pada 480.622 ibu, jauh lebih banyak dibandingkan persalinan normal per vaginal, yang hanya terjadi pada 309.223 ibu.


Tak perlu intervensi medis tambahan


Pada persalinan yang berjalan normal, dengan ibu dan janin dalam kondisi baik, mereka sebenarnya tidak perlu menerima intervensi medis tambahan, untuk mempercepat persalinan.


Melahirkan adalah proses fisiologis normal yang dapat dilakukan, tanpa komplikasi bagi mayoritas ibu dan bayi.


Namun demikian, penelitian menunjukkan, bahwa sebagian besar ibu hamil sehat menjalani setidaknya satu intervensi klinis selama persalinan dan kelahiran. Mereka juga sering mengalami intervensi rutin yang tidak perlu dan justru berpotensi membahayakan.


Pedoman WHO yang baru mencakup 56 rekomendasi berbasis bukti, mengenai layanan medis yang dibutuhkan selama persalinan, dan segera setelahnya, pada ibu dan bayinya. Rekomendasi ini termasuk pendamping selama proses persalinan yang dipilih ibu sendiri, memastikan layanan medis dan komunikasi yang baik antara ibu dan petugas kesehatan, menjaga privasi dan kerahasiaan, serta  mendukung ibu membuat keputusan tentang manajemen rasa sakit, posisi persalinan dan kelahiran mereka, dan bahkan dorongan alami untuk mengejan.


Tolok ukur


Untuk mengurangi intervensi medis yang tidak perlu, pedoman WHO menyatakan bahwa tolok ukur tingkat pembukaan serviks 1 cm per jam selama tahap pertama fase aktif, yang diketahui dengan partograf atau bagan catatan jalannya persalinan normal, sebaiknya tidak lagi dilakukan.


Hal ini karena tidak realistis bagi beberapa ibu dan tidak akurat dalam mengidentifikasi ibu yang berisiko mengalami kelahiran yang sulit (may be unrealistic for some women and is inaccurate in identifying women at risk of adverse birth outcomes).


Pedoman tersebut menekankan bahwa tingkat pembukaan atau dilatasi serviks yang lebih lambat saja, seharusnya tidak boleh menjadi indikasi rutin untuk dilakukannya intervensi medis, termasuk operase pembedahan caesar guna mempercepat persalinan.


Patient’s consent


Banyak ibu yang menginginkan kelahiran alami dan lebih suka mengandalkan tubuh mereka untuk melahirkan bayi mereka, tanpa bantuan intervensi medis. Namun demikian, apabila ibu memerlukan intervensi medis yang dibutuhkan, seharusnya ibu dilibatkan dalam membuat keputusan, tentang tindakan yang akan mereka terima.


Hal ini ternyata penting untuk memastikan bahwa ibu mampu memenuhi tujuan mereka, untuk melahirkan yang membahagiakan secara positif.


Dokter dan bidan harus memberi tahu ibu hamil yang sehat, bahwa durasi persalinan bervariasi antar ibu. Meskipun kebanyakan ibu menginginkan persalinan dan kelahiran alami, mereka juga menyadari bahwa kelahiran dapat menjadi peristiwa yang tidak dapat diprediksi dan berisiko, sehingga diperlukan pemantauan yang ketat dan kadang bahkan diperlukan intervensi medis.


Namun demikian, ketika intervensi medis dibutuhkan atau diinginkan, ibu biasanya ingin mempertahankan rasa pencapaian dan kontrol pribadi dengan terlibat dalam pengambilan keputusan, termasuk dengan memberi ASI eksklusif untuk bayi mereka setelah melahirkan.


Dr. Princess Nothemba Simelela, WHO Assistant Director-General for Family, Women, Children and Adolescents menekankan bahwa:

setiap persalinan adalah unik (childbirth is unique).persalinan yang alami akan melahirkan bayi yang sehat (a good birth goes beyond having a healthy baby

Pedoman baru ini merupakan langkah untuk mengurangi tingkat intervensi medis yang tidak perlu atau tidak efektif, agar ibu dapat melahirkan secara membahagiakan.


Sudahkah kita bertindak bijak?


Dr dr FX Wikan Indrarto SpA

Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta dan RS Siloam, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: