Mefiboset dan Daud (1): Rendah Diri

Ayat bacaan: 2 Samuel 9:8
====================
“Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?”

rendah diri, daud, mefiboset

Semakin lama berjalan dalam hidup semakin sadar pula saya bahwa rasa rendah diri atau minder berlebihan kerap menggagalkan rencana-rencana besar dalam hidup kita. Saya pernah mengalaminya dahulu, dan sekarang sering bertemu dengan orang-orang seperti ini. Betapa seringnya kita mendengar kalimat-kalimat seperti “ah, saya cuma tamatan SD, bisa apa?”, “Saya cuma orang kecil, bagaimana mungkin saya bisa sukses?”, “I’m a loser..” dan sebagainya. Padahal Tuhan tidak merancang manusia asal-asalan tanpa rencana yang indah. Itu sering dilupakan orang dan mereka lebih memilih untuk tenggelam ke dalam kekurangan-kekurangan mereka ketimbang memaksimalkan potensi-potensi mereka miliki. Apa yang membuat mereka gagal sebenarnya bukanlah kekurangan mereka, tetapi justru rasa rendah diri yang berlebihan itu. Ada banyak orang cacat yang kemudian tampil mencengangkan kita lewat buah karya mereka. Rendah diri bukannya membantu, tetapi malah akan merugikan diri kita sendiri.

Sebuah contoh orang yang diselimuti rasa rendah diri berlebihan adalah Mefiboset. Mefiboset adalah anak Yonatan, cucu dari Saul yang pernah menjabat raja Israel. Serangkaian peristiwa dan keadaan membuatnya menjadi pribadi yang rendah diri. Ayahnya dan kakeknya kalah dalam perang dan mati terbunuh dengan mengenaskan. Jika itu belum cukup, ia pun dikatakan cacat kakinya. Kitab 2 Samuel mencatat hal ini. “Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pengasuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. Ia bernama Mefiboset.” (2 Samuel 4:4). Berulang-ulang pula kita melihat sebutan cacat ini ditujukan untuk Mefiboset. Ia pun kemudian diasingkan di sebuah tempat tandus, Lodebar. Akibatnya ia merasa dirinya begitu rendah. Ketika pada suatu kali Daud mencari keturunan Saul untuk dipulihkan hak-hak hidupnya berdasarkan kasih dari Allah, maka ia pun diberitahu bahwa ada anak Yonathan yang masih hidup. (9:3). Daud pun segera menyuruh Mefiboset untuk datang menghadapnya. Ketika Mefiboset menghadap, “Kemudian berkatalah Daud kepadanya: “Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.” (ay 7). Ini cerminan kasih Allah yang tak terbatas oleh status, situasi, masa lalu dan sebagainya. Tetapi lihatlah bagaimana rasa rendah diri Mefiboset dari jawabannya. “Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?(ay 8). Ia merasa begitu rendah tak berharga hingga harga dirinya seperti sama dengan seekor anjing mati. Daud sudah berusaha memulihkan harga dirinya. Bahkan Mefiboset diundang untuk duduk semeja dan sehidangan dengan Daud, sang raja. Namun tetap saja ia tidak kunjung mau keluar dari perasaan rendah dirinya itu.

Beberapa waktu kemudian dalam 2 Samuel 19:24-30 kita bisa melihat bahwa Mefiboset tidak juga memulihkan citra dirinya meski ia sudah mendapat kasih Allah lewat diri Daud. “Juga Mefiboset bin Saul menyongsong raja. Ia tidak membersihkan kakinya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak raja pergi sampai hari ia pulang dengan selamat.” (ay 24). Perhatikan ia membiarkan dirinya dalam keadaan kumal, tidak terawat. Ia bahkan tidak merasa pantas untuk tampil baik, di hadapan raja sekalipun. Ketika Daud kemudian memutuskan untuk memberikan ladang yang tadinya milik Saul untuk dibagi dua antara Mefiboset dan Ziba, hamba Daud, kembali Mefiboset menunjukkan sikap rendah dirinya. “Lalu berkatalah Mefiboset kepada raja: “Biarlah ia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah pulang dengan selamat.” (ay 30). Pada akhirnya Mefiboset tidak mendapatkan apa-apa. Dan semua itu karena ia tidak kunjung menyadari citra dirinya yang benar . Mefiboset sebenarnya telah mendapatkan banyak kesempatan untuk dipulihkan, Kasih Tuhan berulang kali menghampirinya namun ia memilih untuk lebih memupuk rasa rendah dirinya ketimbang menerima kasih Tuhan.  Rasa rendah diri telah memerangkapnya sedemikian rupa sehingga ia tidak mendapatkan apapun sama sekali.

Perhatikanlah, bukankah kita sering membuang-buang kesempatan terus menerus seperti Mefiboset? Ketika rasa rendah diri muncul berlebihan tidak pada tempatnya maka kita pun akan kehilangan peluang untuk bisa bangkit dan berhasil. Karena itu kita tidak boleh membiarkan hal ini menghantui kita sepanjang hidup. Tidak ada manusia yang sempurna, semua kita memiliki kekurangan sendiri. Tetapi jangan lupa bahwa kita pun memiliki kelebihan dan keunikan tersendiri pula. Siapapun kita hari ini, bagaimanapun kita dianggap di mata manusia, bagi Tuhan kita tetaplah karya ciptaanNya yang terindah. Kita dikatakan dibuat sesuai gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), dikatakan ditenun langsung oleh Tuhan dalam kandungan (Mazmur 139:13) dan dilukiskan pada telapak tangan Tuhan, berada di ruang mataNya (Yesaya 49:16). Artinya, Tuhan menciptakan kita dengan baik, ada rencanaNya yang indah bagi kita, dan kita pun tetap berada dalam lindunganNya. Jika demikian, mengapa kita harus rendah diri?

Hendaklah kita belajar dari sikap salah Mefiboset menyikapi keadaan dan kekurangan dirinya. Jangan fokus kepada kelemahan atau kekurangan anda. Don’t let it overcome you. Sebaliknya, cari tahu segala kelebihan yang ada pada diri anda dan maksimalkanlah itu. Tuhan telah menciptakan kita dengan sangat baik, ada rencana indah dibalik tujuan penciptaanNya atas kita dan untuk itu Dia telah melengkapi kita dengan keistimewaan tersendiri. Ada banyak kegagalan dalam hidup ini maupun kegagalan dalam menggenapi rencana indah Tuhan yang bisa muncul dari rasa rendah diri. Oleh karena itu hendaklah kita belajar dari pengalaman Mefiboset agar tidak terulang pada kita.

Rasa rendah diri menghalangi rencana Tuhan untuk terjadi dalam diri kita

Follow us on Twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: