Mau atau Tidak

Ayat bacaan: Markus 1:40-41
===========================
“Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

mau atau tidak

Seringkali permasalahan yang paling mendasar bagi kita bukanlah bisa atau tidak, tapi mau atau tidak. Ada banyak orang yang tidak berani mengambil langkah bukan karena mereka tidak bisa, tapi karena mereka tidak mau repot-repot. Maka ada perbedaan yang mendasar dari “mau tapi tidak sanggup”, dengan “sanggup tapi tidak mau”. Kenyataan di lapangan, banyak orang yang sebenarnya sanggup, namun tidak banyak yang mau menggunakan kapasitas dan kemampuannya secara penuh untuk menolong sesamanya. Ketika anda melihat ada orang yang tergeletak di tengah jalan akibat tertabrak mobil, apa yang anda lakukan? Puji Tuhan jika anda memilih untuk menolongnya. Tapi saya rasa akan jauh lebih banyak orang yang memilih untuk menghindar dari tempat kejadian perkara dengan berbagai alasan. Takut darah si korban mengotori kendaraan, takut terlibat masalah, takut jadi terseret-seret berurusan dengan polisi, atau malah berpikir jangan-jangan itu hanyalah pura-pura. Maka kita kembali pada sebuah pertanyaan mendasar. Bukan bisa atau tidak, tapi mau atau tidak. That’s the question.

Mari kita lihat kisah perjumpaan Yesus dengan seorang penderita kusta. Pada saat itu, kusta adalah penyakit yang sangat menjijikkan dan belum ada obatnya. Seorang penderita kusta akan disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan sosial, alias dibuang. Pada suatu kali bertemulah seorang penderita kusta dengan Yesus. Dia berlutut di hadapan Yesus dan memohon untuk disembuhkan. Menarik melihat kata-kata yang ia pergunakan. “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” (Markus 1:40). Dia tidak bertanya, “Yesus, sanggupkah engkau menyembuhkan aku?” Tidak. Yang ia katakan adalah, jika mau, maka Yesus bisa. Artinya, ia tahu pasti bahwa Yesus sanggup menyembuhkannya. Yang ia minta adalah kesediaan Yesus. Dan Yesus sangat mengerti penderitaannya. Maka jawaban Yesus:Aku mau, jadilah engkau tahir.” (ay 41) Betapa sejuknya jawaban Yesus pada seseorang yang begitu hina di mata masyarakat pada waktu itu. Tidak saja menyejukkan dan menyentuh hati, namun Yesus juga menyembuhkannya. Kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk memenuhi kehendak Bapa di Surga (Yohanes 6:38). Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Matius 20:28), meskipun sebenarnya Yesus lebih dari layak untuk mendapat pelayanan kelas satu, bahkan lebih dari itu. Menyembuhkan orang sakit, memberi harapan baru, menjamah orang-orang yang sakit dan menderita, itu merupakan bagian dari pelayanan Tuhan Yesus ketika Dia ada di dunia. Termasuk si orang kusta yang sudah dibuang oleh sesamanya manusia.

Sudahkah kita meluangkan waktu untuk menolong sesama kita yang butuh pertolongan? Sudahkah kita mau membantu mereka, atau kita masih penuh dengan alasan-alasan seperti masih terlalu muda, masih belum siap, masih belum sanggup, dan sebagainya? Sebagai murid-murid Yesus, kita diingatkan untuk selalu saling menolong satu sama lain. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Kita pun diingatkan untuk menyatakan kasih : “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”(Yohanes 15:8) Dan kita bisa menyatakan kasih itu dalam hal membantu orang lain. “…. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2b). Yesus telah memberi teladan luar biasa mengenai bagaimana menterjemahkan kasih secara nyata, bukan hanya jargon atau semboyan semata. Dan kini, siapkah kita melanjutkan karya-Nya di dunia?

Sekecil apapun perbuatan yang didasari kasih akan bermakna besar bagi orang lain

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply