Jumat Pertama: 2 Mei 2014, PW St. Atanasius
Kis 5:34-42; Mzm 27:1,4,13-14; Yoh 6:1-15

———————-

“KARENA Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri” (Yohanes 6:15).

Yesus tidak haus kuasa. Tidak juga haus harta benda. Ia juga tidak lapar akan popularitas. Tidak juga lapar akan pujian! Dari Hati-Nya selalu mengalir belarasa, kasih, kemurahan hati dan perhatian; bukan prasangka, bukan iri, bukan dendam.

Yesus haus dan lapar akan jiwa-jiwa untuk diselamatkan! Ia memberi perhatian dengan penuh kepekaan. Peduli kepada yang lapar dan sakit. Ia memberi santapan jiwa dan raga!

Seluruh kepekaan hati-Nya yang penuh belas kasih mengalir dari keheningan dan doa-Nya kepada Bapa. Pun pula terarah dan memuncak pada keheningan dan doa-Nya kepada Bapa. Maka, setelah Ia membuat mujizat penggandaan roti, Ia pergi “menyingkir pula ke gunung, seorang diri” bahkan ketika publik memaksa Dia menjadi raja (Yoh 6:15).

Keheningan yang suci dan doa yang rapi teratur membingkai seluruh hidup dan karya-Nya. Tentang itu kita semua tahu! Mari tak hanya tahu, tetapi juga mau ikut serta menghayatinya. Menjadikan doa dan keheningan sebagai bingkai hidup kita.

Keheningan yang terpusat kepada Pribadi-Nya sebagai Sang Roti Surgawi! Itulah yang kita lakukan dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Dari sana akan mengalir kepekaan, kreativitas pelayanan dan kerelaan untuk berbagi dengan gembira!

Photo credit: Ilustrasi (Centerblog)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.