Mark-Up

Ayat bacaan: Lukas 3:13
===================
“Jawabnya: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”

mark-up, korupsi kecil

Ketika mengisi bensin beberapa hari yang lalu, saya melihat seorang supir di depan saya berbuat curang. Dia meminta sang petugas untuk menuliskan jumlah liter yang lebih tinggi dari yang diisinya pada bon. “Buat aja 40 liter..” katanya sambil senyum-senyum. Sang petugas sepertinya menuruti dengan menulis bon tanpa ada penolakan. Dan si supir pun berlalu. Kejadian seperti ini bukanlah hal baru di kalangan karyawan dan pekerja. Mulai dari mark-up kecil-kecilan hingga mark-up ratusan juta bahkan milyar. Saya pun ingat pada salah seorang siswa saya yang sehari-hari bekerja di instansi pemerintah di sebuah kota di salah satu pulau kecil. Saat itu ia bertanya mengenai berapa sebenarnya biaya untuk membuat sebuah situs resmi. Saya terkejut ketika ia berkata bahwa proposal dana yang diminta ke pusat mencapai 2 milyar(!). 2 milyar untuk sebuah situs? “yah.. pasti banyak jalur yang harus dilicinkan, pak..” katanya waktu itu. Bentuk mark-up seperti ini seperti sudah membudaya mulai dari skala kelas teri sampai kakap. Ada banyak orang yang membuat pembenaran dari pola kecurangan ini. Ada yang beranggapan bahwa mereka berhak untuk itu, karena mereka harus bersusah payah untuk pergi keluar membeli sesuatu atas perintah atasannya. Uang kopi, uang rokok, uang lelah, atau apapun istilah yang mereka pakai, dijadikan sebuah pembenaran agar penggelembungan harga beli dari kenyataan sebenarnya berhak mereka peroleh.

Saya tidak tahu dari mana awal kata mark-up menjadi berkonotasi negatif. Padahal dalam dunia bisnis, arti mark-up sebenarnya bukan sesuatu yang negatif. Mark-up dalam dunia bisnis diartikan sebagai selisih antara harga barang atau jasa dengan harga jualnya. Mark-up ini ditambahkan kepada sebuah produk untuk menghasilkan profit atau keuntungan. Metode penghitungannya pun beragam. Sistim selisih harga ini diterapkan banyak orang pula pada bentuk korupsi kecil-kecilan sampai besar-besaran, sehingga melekatlah kata mark-up itu kepada sebuah pengertian negatif. Yang pasti, hal seperti ini bukanlah bentuk penipuan baru. Setidaknya pada jaman Yohanes Pembaptis mulai melayani, pola seperti ini sudah ada.

Pada suatu ketika Yohanes datang ke sungai Yordan untuk membaptis, datanglah beberapa pemungut cukai alias penagih pajak. Mereka mengajukan pertanyaan kepada Yohanes. “Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: “Guru, apakah yang harus kami perbuat?” (Lukas 3:12). Yohanes pun menjawab: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (ay 13). Dari jawaban Yohanes, kita bisa melihat bahwa pada saat itu pun korupsi sudah terjadi. Tampaknya para pemungut cukai sudah memiliki kebiasaan untuk memungut lebih dari yang seharusnya, untuk keuntungan mereka pribadi. Maka tidak heran, ada banyak kisah mengenai pemungut cukai dalam Alkitab yang menunjukkan mereka sebagai orang-orang dengan profesi yang dibenci sesamanya. Mereka sering disamakan dengan orang berdosa (Matius 9:11), orang yang tidak mengenal Allah (Matius 18:17) dan sebagainya.

Mengacu pada pengertian mark-up dalam konotasi negatif, perlukah kita menggelembungkan dana untuk keuntungan pribadi? Apakah kita memang harus melakukan demikian agar bisa hidup berkecukupan? Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk berbuat curang, walau sekecil apapun. Dalam kisah si supir dan petugas pompa bensin di atas, kita melihat adanya kerjasama antara sang supir dan petugas. Kurang tepat jika kita hanya menyalahkan sang supir, karena tanpa persetujuan petugas pengisi bensin ia akan gagal untuk korupsi. “It takes two to tango”. Mungkin kita bisa menjaga diri agar tidak menjadi “pelaku utama”, namun seringkali gagal menghindari menjadi “peran pembantu”. Atau berkilah, “tidak sampai seratus ribu rupiah,kan tidak apa-apa?” Ingatlah korupsi tetap korupsi. Di mata Tuhan, itu sama saja.

“Orang benar makan sekenyang-kenyangnya, tetapi perut orang fasik menderita kekurangan.” (Amsal 13:25). Lihatlah Tuhan memberi janji bagi orang benar sehingga mereka bisa dicukupkan. Korupsi yang salah satunya lewat mark-up mungkin bisa mendatangkan keuntungan instan, namun akibatnya bisa fatal. Ada begitu banyak pejabat yang sekarang harus meringkuk di dalam penjara karena kejahatannya terbongkar. Kita tidak perlu melakukan mark-up, karena Tuhan selalu punya jalan untuk memberkati kita. Percayalah akan hal itu. Lihat apa yang disediakan Tuhan bagi orang benar. “Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” (Yesaya 33:15-16).

Kalaupun ada diantara teman-teman yang pernah melakukan hal ini, bertobatlah. Tuhan telah menjanjikan sebuah pemulihan kepada yang bertobat dan berbalik dari jalan-jalan sesat. “Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu. Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya.” (Yoel 2:25-26). Mulailah dari diri kita sendiri untuk menghindari mark-up – mark-up dalam bekerja. Mulailah mengambil langkah sederhana dengan tidak memberi toleransi pada korupsi sekecil apapun. Hindari pikiran-pikiran untuk berbuat curang. Sekali lagi, Tuhan tidak akan pernah kekurangan jalan untuk memberkati kita dengan berlimpah.

Kecil atau besar, korupsi tetaplah perbuatan yang sangat tidak disukai Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply