Maria Penuh Rahmat, Allah Memilihnya: Era Baru Sejarah Keselamatan Dimulai

bunda maria by catholic traditionRabu, 25 Maret 2015 Hari Raya Maria Menerima Kabar Sukacita Yes 7:10-14; 8:10; Mzm 40:7-11; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38  … “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai Engkau… Jangan takut… Engkau akan mengandung… Roh Kudus akan turun atasmu… ” … “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut kehendakMu.!”… Hari ini adalah hari raya Maria menerima kabar sukacita bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Allah memilih Maria menjadi Bunda Putera Allah yang Maha Tinggi yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dalam peristiwa ini digenapilah nubuat Yesaya tentang rencana keselamatan melalui peristiwa Inkarnasi, Penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia, rencana kelahiran Sang Mesias. Hari ini kita mengenang era baru keselamatan yang dimulai sejak perkandungan penuh kemujizatan yakni Maria mengandung bayi Ilahi oleh kuasa kasih Roh Kudus yang harus diberi nama Yesus. Allah memilih Perawan Maria karena gadis itu berkenan bagi-Nya (Luk1:28). Karena Hawa yang adalah ibu kemanusiaan jatuh dalam kekeleman dosa, kini Maria dipilih menjadi ibu bagi Adam Baru yang akan menjadi bapa kemanusiaan baru oleh rahmat-Nya (lih Rom 5:12-21). Anak yang dikandung Maria menjadi penggenapan semua janji Allah. Sebagaimana disampaikan malaikat Gabriel kepada Maria, Anaknya akan menjdi besar disebut Putra Allah yang Maha Tinggi dan Raja. Ia harus diberi nama Yesus (Luk 1:31-32), yang berarti Tuhan yang menyelamatkan sebab Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat 1:21). Malaikat juga mengatakan kepada Maria, bahwa Tuhan Allah akan memberikan kepada-Nya takhta Daid, leluhur-Nya, dan Kerajaan-Nya tak akan berkesudahan (Luk 1:32-33; bdk. 2Sam 7:12-16, Yes 9:6-7). Bahwa Maria bertanya kepada malaikat, utusan Allah, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi sebab aku belum bersuami?” Ini bukan suatu sikap ragu atau skeptis, tak percaya, melainkan suatu kekaguman. Di sini, kita tahu bahwa Maria adalah seorang pendengar Sabda Allah dan pelaksana Sabda Allah yang setia dalam ketaatan iman. Maka ia berkata, “Ya, aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Dan Maria pun menjadi model iman kita semua. Apa yang bisa petik dan contoh dari Perawan Maria? Pertama, ia menjawab positif sabda Allah yang disampaikan kepadanya. Ia tahu ia sedang mendengarkan sesuatu yang melampaui kemampuan manusiawi. Itu akan menjadi mujizat yang melampaui semua yang dikerjakan Allah sebelumnya. Kedua, Perawan Maria percaya kepada janji Allah bahkan yang tampaknya mustahil. Ia penuh rahmat karena ia percaya bahqa semua yang dikatakan Allah benar adanya dan pasti digenapi. Ia dengan gembira melaksakan kehendak Allah, bahkan meski tampak sulit  dan penuh risiko. Ketiga, Perawan Maria adalah “Bunda Allah” karena Putra Allah yang Maha Tinggi menjelma menjadi daging dalam rahimnya. Bagi kita dan demi keaelamatan kita, Ia turun dari surga oleh daya kuasa Roh Kudus. Putra Allah yang Maha Tinggi menjelma menjadi manusia melalui Maria. Dialah yang mengandung dan melahirkan-Nya. Maka ia diberi gelar “Bunda Allah”. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Mari kita percaya pada-Nya yang telah memberi kita rahmat. Ia mengharapkan pula agar kita menjawab rahmat-Nya dengan ketaatan iman seperti Maria. Tuhan Yesus Kristus, Engkau menawarkan kepada kami, rahmat berlimpah, belas kasih, dan pengampunan Allah Bapa. Bantulah kami untuk hidup penuh rahmat pula seperti Maria, Bunda-Mu dengan ketataan iman pasaMu selamanya. Amin. Kredit foto: Ist  

bunda maria by catholic tradition

Rabu, 25 Maret 2015
Hari Raya Maria Menerima Kabar Sukacita
Yes 7:10-14; 8:10; Mzm 40:7-11; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38

 … “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai Engkau… Jangan takut… Engkau akan mengandung… Roh Kudus akan turun atasmu… ” … “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut kehendakMu.!”…

Hari ini adalah hari raya Maria menerima kabar sukacita bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Allah memilih Maria menjadi Bunda Putera Allah yang Maha Tinggi yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dalam peristiwa ini digenapilah nubuat Yesaya tentang rencana keselamatan melalui peristiwa Inkarnasi, Penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia, rencana kelahiran Sang Mesias.

Hari ini kita mengenang era baru keselamatan yang dimulai sejak perkandungan penuh kemujizatan yakni Maria mengandung bayi Ilahi oleh kuasa kasih Roh Kudus yang harus diberi nama Yesus. Allah memilih Perawan Maria karena gadis itu berkenan bagi-Nya (Luk1:28).

Karena Hawa yang adalah ibu kemanusiaan jatuh dalam kekeleman dosa, kini Maria dipilih menjadi ibu bagi Adam Baru yang akan menjadi bapa kemanusiaan baru oleh rahmat-Nya (lih Rom 5:12-21). Anak yang dikandung Maria menjadi penggenapan semua janji Allah.

Sebagaimana disampaikan malaikat Gabriel kepada Maria, Anaknya akan menjdi besar disebut Putra Allah yang Maha Tinggi dan Raja. Ia harus diberi nama Yesus (Luk 1:31-32), yang berarti Tuhan yang menyelamatkan sebab Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat 1:21). Malaikat juga mengatakan kepada Maria, bahwa Tuhan Allah akan memberikan kepada-Nya takhta Daid, leluhur-Nya, dan Kerajaan-Nya tak akan berkesudahan (Luk 1:32-33; bdk. 2Sam 7:12-16, Yes 9:6-7).

Bahwa Maria bertanya kepada malaikat, utusan Allah, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi sebab aku belum bersuami?” Ini bukan suatu sikap ragu atau skeptis, tak percaya, melainkan suatu kekaguman. Di sini, kita tahu bahwa Maria adalah seorang pendengar Sabda Allah dan pelaksana Sabda Allah yang setia dalam ketaatan iman. Maka ia berkata, “Ya, aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Dan Maria pun menjadi model iman kita semua.

Apa yang bisa petik dan contoh dari Perawan Maria?

Pertama, ia menjawab positif sabda Allah yang disampaikan kepadanya. Ia tahu ia sedang mendengarkan sesuatu yang melampaui kemampuan manusiawi. Itu akan menjadi mujizat yang melampaui semua yang dikerjakan Allah sebelumnya.

Kedua, Perawan Maria percaya kepada janji Allah bahkan yang tampaknya mustahil. Ia penuh rahmat karena ia percaya bahqa semua yang dikatakan Allah benar adanya dan pasti digenapi. Ia dengan gembira melaksakan kehendak Allah, bahkan meski tampak sulit  dan penuh risiko.

Ketiga, Perawan Maria adalah “Bunda Allah” karena Putra Allah yang Maha Tinggi menjelma menjadi daging dalam rahimnya. Bagi kita dan demi keaelamatan kita, Ia turun dari surga oleh daya kuasa Roh Kudus. Putra Allah yang Maha Tinggi menjelma menjadi manusia melalui Maria. Dialah yang mengandung dan melahirkan-Nya. Maka ia diberi gelar “Bunda Allah”.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Mari kita percaya pada-Nya yang telah memberi kita rahmat. Ia mengharapkan pula agar kita menjawab rahmat-Nya dengan ketaatan iman seperti Maria.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau menawarkan kepada kami, rahmat berlimpah, belas kasih, dan pengampunan Allah Bapa. Bantulah kami untuk hidup penuh rahmat pula seperti Maria, Bunda-Mu dengan ketataan iman pasaMu selamanya. Amin.

Kredit foto: Ist

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply