Mari Membantu Keuskupan Agats di Papua (1)

< ![endif]-->

KEUSKUPAN Agats di pelosok udik Papua Selatan boleh dibilang diosis katolik paling unik se-Indonesia.

Ada beberapa faktor yang membuat kita harus menyebut Keuskupan Agats ini sungguh ‘unik’ dan istimewa, justru karena tidak ada duanya.

Mari kita sebut satu per satu:

  1. Wilayah territorial Keuskupan Agats berdiri di atas lumpur, bukan tanah padat seperti wilayah territorial lain. Untuk bisa berjalan di atas lumpur, maka jalan dibuat dengan papan-papan kayu. Batangan-batangan kayu besar dihujamkan dalam-dalam ‘dipakukan’ kedalam lumpur sebagai tiang pancangnya dan papan-papan itu disusun rapi sehingga menjadi jalan orang dan kendaraan, terutama sepeda dan motor listrik.Jalan papan kayu di pedalaman Sagare Agats email
  2. Hampir semua pelosok di wilayah Keuskupan Agats ini tidak/belum tersedia listrik. Bahkan di pusat kota Kabupaten Agats yang luasnya tidak lebih dari 2 desa besar di Jawa, listrik masih dalam kondisi byar…pet…alias menyala hanya pada jam-jam tertentu saja. Padahal, ketersediaan listrik ini difasilitasi oleh PLN.
  3. Tidak ada kendaraan roda tiga dan empat (mobil) di seluruh pelosok Kabupaten Agats dan Keuskupan Agats.
  4. Moda transportasi yang tersedia di ‘pusat-pusat’ kehidupan hanya tiga jenis: sepeda, sepeda motor listrik, dan kaki manusia (jalan kaki). Sementara, transportasi antar pelosok terutama menuju hutan pedalaman dilakukan dengan speedboat atau perahu-perahu kecil dengan tenaga dayung manusia.aliran sungai
  5. Beban biaya ongkos BBM sangat tinggi. Ketika kami berkunjung ke pedalaman Agats dan beberapa wilayah pedalaman Kabupaten Agats pada bulan Mei 2013 lalu, harga premium per liter sudah mencapai angka Rp 25.000,00. Padahal, harga itu berlaku jauh-jauh hari  sebelum keputusan resmi pemerintah menaikkan  harga baru BBM. Waktu itu, harga solar per liter berkisar antara Rp 15.000 sd Rp 20.000 tergantung wilayah atau pedalaman.
  6. Biaya transportasi dari pusat kota di Agats ke pelosok-pelosok pedalaman sangat-sangat tinggi. Bagi penduduk yang tinggal di Jawa-Bali-Sumatera, ongkos ini dianggap ‘ekstrim’ karena bisa menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk transportasi speedboat saja.
  7. Transportasi ke pelosok pedalaman Agats hanya bisa dilalui dengan speedboat melalui aliran sungai atau teluk yang masih banyak dihuni buaya air tawar yang ganas. Salah satu kecemasan yang paling menakutkan selama ‘berlayar’ menyusuri aliran sungai yang besarnya bisa mencapai 400 meter adalah macet mesin atau speedboat mengalami kendala teknis. Bila terjadi begini, hanya ada  dua opsi yang bisa dilakukan: menginap di ‘jalan’ sembari  menunggu bantuan datang dari lalu-lalang speedboat atau  ikut nebeng speedboat lainnya.
  8. Tragedi musibah yang harus dihindari oleh setiap motoris speedboat adalah jangan sampai kehabisan solar (BBM) selama melakukan perjalanan ke pedalaman. Hasilnya bisa fatal, karena harus ‘menginap’ di aliran sungai dan itu berarti sewaktu-waktu bisa ‘diintai’ buaya air tawar.
  9. Cuaca yang tidak menentu. Bisa hujan sewaktu-waktu.
  10. Tidak ada sumur air (tawar) bersih, karena kondisi ‘tanah’ adalah lumpur padat campur air. Kebutuhan air bersih diperoleh dengan sistem tadah hujan. Maka dari itu, hujan merupakan sumber kehidupan sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Kabupaten Agats. Air hujan untuk kebutuhan air minum, makan-minum dan MCK. Tidak ada air hujan, maka tidak bisa minum (harus beli kemasan air mineral sebagai gantinya) dan mandi. Air hujan ditampung di bak-bak penampungan air.
  11. Pantang bagi motoris speedboat untuk melakukan perjalanan di malam hari. Kalau pun harus, maka itu dilakukan hanya karena emergency.

Jalan papan di Bandara Ewer

Nah, berbagai kondisi objektif di lapangan itulah yang menyebabkan Keuskupan Agats menjadi satu-satuya keuskupan katolik di Indonesia yang kejatuhan nasib kurang menguntungkan: wilayah sulit dijangkau, kalau bisa dijangkau maka biaya transportasi luar biasa mahal dan lama, tanah lumpur tidak bisa ditanami pepohonan, sumber air tawar nyaris tidak ada. Jadi, memang serba minus dan defisit.

Jarak tempuh dari Jakarta ke Agats harus dilakukan dengan penerbangan menuju Bandara International Mozes Kilangi di Timika sepanjang hampir 6 jam.

Dari Bandara Mozes Kilangi Timika, perjalanan terbang  menuju Bandara Ewer di tengah hutan di Agats harus ditempuh dengan pesawat capung carteran AMA (Associated Mission Aviation) jenis Pilatus  dengan waktu tempuh selama 45 menit. Pesawat ini adalah pesawat  jenis ultra-light, karena hanya boleh menaikkan penumpang maksimal 7 orang plus 1 pilot. Tidak ada co-pilot dalam setiap sortie penerbangan pesawat Pilatus dari Timika ke Bandara ‘Tradisional” Ewer di Agats. (Bersambung)

Pesawat capung AMA di Bandara Ewer Agats Papua

Photo credit:

  • Pemandangan rumah bivak tradisional khas di pedalaman Agats, Papua (Mathias Hariyadi)
  • Pemandangan menakjubkan dari atas langit jalur penerbangan Timika menuju Bandara Ewer di Agats (Mathias Hariyadi)
  • Seorang anak tengah bermain sementara ibunya bekerja tak jauh dari jalanan ‘beraspal’ papan kayu di pedalaman Bandara Ewer (Mathias Hariyadi)
  • Pesawat capung jenis Pilatus berhasil mendarat di landas pacu beraspal baja di Bandara Ewer, pedalaman Agats (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: