Mari Hanya Selalu Mengandalkan Allah Saja

kodokKamis, 5 Maret 2015: Pekan Prapaskah II Yeremia 17:5-10; Mazmur 1:1-4,6; Lukas 16:19-31 … Diberikatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan … … Engkau telah menerima segala yang baik semasa hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk … SEMENTARA menunggu acara pertemuan kunjungan kerja dan studi banding Forum Pembauran Nasional (FPK) dari Kaltim di Kesbanglinmas (Selasa, 03/03/2015), saya baca bacaan hari ini dan menulis refleksi ini. Yang disampaikan Nabi Yeremia bahwa siapa pun yang mengandalkan Allah tak akan dikecewakan bila segala sesuatunya tampak sia-sia langsung mengesankanku. Alla tidak hanya menjadi penghiburan kita, tetapi juga menjadi sumber pengharapan dan sukacita yang melimpah. Apa yang membuat kita bertahan saat cobaan dan derita menimpa kita? Apakah kita mengandalkan Allah? Dalam Injil kita baca, perumpamaan Yesus tentang Lazarus yang miskin dan terluka memberikan kepada kita tuntunan untuk mengandalkan Allah saja. Yesus melukiskan secara dramatis adegan-adegan kontras antara kaya dan miskin, surga dan neraka, belarasa dan ketidakpedulian. Lazarus adalah orang miskin, sakit pula. Bahkan ia tidak mampu mengenyangkan dirinya sendiri. Ia berbaring di depan pintu si kaya. Hanya anjing sang tuan yang menjilati lukanya, dan mungkin mencuri pula seketul roti yang ada padanya. Itu kian membuatnya menderita. Si kaya cuek, hingga akhirnya Lazarus mati dan menerima berkat di akhir hidupnya. Segalanya berubah. Lazarus bahagia, si kaya sengsara. Lazarus menerima apa yang tak dia punya sebelumnya, si kaya kehilangan segala miliknya. Nama Lazarus berarti Allah adalah penolongku. Ia tak kehilangan pengharapan pada Allah, meski susah dan menderita. Sebaliknya, si kaya tak hanya berkecukupan, tapi berkelimpahan namun mengandalkan dirinya sendiri dan tanpa belas kasih. Ia kehilangan arah tak mengandalkan Allah sebagai harta surgawi karena terjerat harta duniawi andalannya sendiri. Ia mengabdi harta dari pada surga dan Allah. Terbaliknya, si kaya itu mati dan menjadi pengemis belas kasih kepada si miskin Lazarus yang mengandalkan Allah. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita belajar hidup seperti Lazarus. Sambil menyembah Yesus Kristus, kita menggapai sukacita dan kebebasan memiliki Allah sebagai harta terakhir dan sejati kita. Kita percaya bahwa bila kita menaruh pengharapan kepada Allah, tak pernah kita dikecewakan. Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah sukacita dan harta kami. Buatlah kami kaya dalam perkara surgawi dan berilah kami kemurahan hati hingga kami merdeka membantu sesama baik secara rohani maupun materi yang telah Kau anugerakan kepada kami, kini dan selamanya. Amin.

kodok

Kamis, 5 Maret 2015: Pekan Prapaskah II

Yeremia 17:5-10; Mazmur 1:1-4,6; Lukas 16:19-31

… Diberikatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan … … Engkau telah menerima segala yang baik semasa hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk …

SEMENTARA menunggu acara pertemuan kunjungan kerja dan studi banding Forum Pembauran Nasional (FPK) dari Kaltim di Kesbanglinmas (Selasa, 03/03/2015), saya baca bacaan hari ini dan menulis refleksi ini. Yang disampaikan Nabi Yeremia bahwa siapa pun yang mengandalkan Allah tak akan dikecewakan bila segala sesuatunya tampak sia-sia langsung mengesankanku. Alla tidak hanya menjadi penghiburan kita, tetapi juga menjadi sumber pengharapan dan sukacita yang melimpah. Apa yang membuat kita bertahan saat cobaan dan derita menimpa kita? Apakah kita mengandalkan Allah?

Dalam Injil kita baca, perumpamaan Yesus tentang Lazarus yang miskin dan terluka memberikan kepada kita tuntunan untuk mengandalkan Allah saja. Yesus melukiskan secara dramatis adegan-adegan kontras antara kaya dan miskin, surga dan neraka, belarasa dan ketidakpedulian.

Lazarus adalah orang miskin, sakit pula. Bahkan ia tidak mampu mengenyangkan dirinya sendiri. Ia berbaring di depan pintu si kaya. Hanya anjing sang tuan yang menjilati lukanya, dan mungkin mencuri pula seketul roti yang ada padanya. Itu kian membuatnya menderita. Si kaya cuek, hingga akhirnya Lazarus mati dan menerima berkat di akhir hidupnya. Segalanya berubah. Lazarus bahagia, si kaya sengsara. Lazarus menerima apa yang tak dia punya sebelumnya, si kaya kehilangan segala miliknya.

Nama Lazarus berarti Allah adalah penolongku. Ia tak kehilangan pengharapan pada Allah, meski susah dan menderita. Sebaliknya, si kaya tak hanya berkecukupan, tapi berkelimpahan namun mengandalkan dirinya sendiri dan tanpa belas kasih. Ia kehilangan arah tak mengandalkan Allah sebagai harta surgawi karena terjerat harta duniawi andalannya sendiri. Ia mengabdi harta dari pada surga dan Allah. Terbaliknya, si kaya itu mati dan menjadi pengemis belas kasih kepada si miskin Lazarus yang mengandalkan Allah.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita belajar hidup seperti Lazarus. Sambil menyembah Yesus Kristus, kita menggapai sukacita dan kebebasan memiliki Allah sebagai harta terakhir dan sejati kita. Kita percaya bahwa bila kita menaruh pengharapan kepada Allah, tak pernah kita dikecewakan.

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah sukacita dan harta kami. Buatlah kami kaya dalam perkara surgawi dan berilah kami kemurahan hati hingga kami merdeka membantu sesama baik secara rohani maupun materi yang telah Kau anugerakan kepada kami, kini dan selamanya. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply