Mari Beriman Teguh, Berlaku Adil dan Berbelas Kasih

doing_good by Concordia Magazine

Selasa, 26 Agustus 2014.  Hari Biasa Pekan XXI
2Tesalonika 2:1-3a.13b-17; Mzm 96:10-13; Matius 23:23-26

“Yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan”- Matius 23:23

KITA  masih melanjutkan injil yang kita baca kemarin. Yesus masih menyampaikan kecaman kepada para ahli Taurat dan kaum Farisi.

Pertama, Yesus masih menyebut mereka sebagai orang munafik. Di sinilah Yesus menohok jantung persoalan hidup mereka.

Kata munafik terjemahan dari kata “hypocrite”. Artiny, aktor, yakni seseorang yang menempatkan seluruh perhatian kepada dirinya sendiri. Pusatnya adalah diri sendiri bahkan melebihi Allah.

Sangking karena memusatkan diri sendiri hingga mereka tak lagi peduli pada semua hal lain. Mereka tak punya waktu sedikit pun untuk orang lain.

Akibatnya, mereka juga sering berlaku tidak adil. Mereka memeras dan menindas kaum papa miskin atas nama hukum yang mereka buat sendiri demi keuntungan mereka.

Kedua, itulah sebabnya, Yesus juga menyebut mereka sebagai pemimpin bodoh dan buta. Hal-hal yang penting mereka abaikan demi kepentingan sendiri. Keadilan dan kasih mereka abaikan. Mata mereka dikaburkan oleh hal-hal lain yang bukan Allah dan kasih. Mereka tak mampu malihat kerajaan Allah dan jalan-Nya.

Di sini kita menemukan humor Yesus. Yesus mengritik para ahli Taurat dan kaum Farisi denga satu humor yang tajam. “Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Matius 23:24).

Dalam tradisi budaya Palestina, nyamuk adalah binatang terkecil dari segala jenis serangga dan unta adalah binatang terbesar. Keduanya merupakan binatang-binatang yang haram dalam rangka ritual. Namun Yesus mengingatkan, “Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Matius 23:24).

Apa yang Yesus maksudkan? Yesus ingin mengatakan satu hal terkait dengan kasih kepada Allah dan sesama. Allah adalah kasih dan segala karya-Nya mengalir dari kasih-Nya kepada kita.

Kita semua tahu, kasih sejati itu tanpa syarat, berharga dan kudus. Kasih-Nya merangkul kita dan mengangkat beban-beban hidup kita.

Kasih itu tidak terjadi dalam diri ahli Taurat dan kaum Farisi. Alih-alih mengasihi Allah dan sesama, mereka justru hanya memikirkan diri sendiri.

Dengan Adorasi Ekaristi Abadi, kita janganlah mengabaikan hal-hal yang penting, yakni keadilan dan kasih Allah dan sesama. Adorasi Ekaristi Abadi mesti mendorong untuk kian beriman, berlaku adil, dan berbelaskasihan, khususnya kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

Ya Yesus Kristus, berdasarkan Adorasi Ekaristi Abadi, penuhilah kami dengan kasih dan belas kasih-Mu. Semoga kami berlaku adil, berbelas kasih dan kian beriman kepada-Mu. Semoga kami kian beriman, berlaku adil, dan berbelaskasihan, khususnya kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel, kini dan selamanya. Amin.

Seminari Tinggi Fermentum Bandung

SALAM TIGA JARI: Persatuan Indonesia dalam Keragaman.

Kredit foto: Doing good (Courtesy of Concordia Magazine)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: