Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:14
==================
“sabarlah terhadap semua orang.”

marah

“Ini orang parkir seenak jidatnya saja!” teriak seorang pengemudi yang tidak bisa keluar dari parkiran karena mobilnya terhalang sebuah mobil lain yang parkir seenaknya. Tukang parkir menjadi sasaran empuk karena seharusnya ia melarang mobil itu untuk parkir menutupi mobil lain. Tukang parkir itu pun kemudian kalang kabut mencari pemilik mobil tapi gagal menemukannya. Saya parkir kebetulan tidak jauh dari situ sehingga melihat kejadiannya secara jelas. Sementara si pemilik mobil yang terhalang masih marah-marah sambil membentak tukang parkir, belum juga ada tanda-tanda pengemudi mobil dibelakangnya kembali ke mobilnya. Pernahkah anda melihat hal ini? Rasanya kita sering melihat kejadian seperti ini, atau bahkan mengalaminya sendiri. Tidak hanya soal parkir sembarangan, kitapun kerap kesal melihat orang yang mempergunakan fasilitas umum sesuka hatinya tanpa mempedulikan orang yang mengantri dibelakang mereka. Di saat kita tidak sedang buru-buru saja rasanya sudah kesal, apalagi kalau kita sedang terjepit waktu. Bagaimana dengan orang yang berkendara di jalanan secara ugal-ugalan? Atau orang yang memencet klakson berlebihan di saat macet? Polisi yang menutup jalan seenaknya sehingga kita harus memutar jauh? Ada begitu banyak hal dalam hidup kita yang bisa memancing emosi dengan cepat. Alasan untuk emosi mungkin memang ada, tapi jika kita tidak mengontrolnya cepat maka pada suatu ketika emosi itu menjadi sulit untuk diredam. Akibatnya kita akan mempermalukan diri sendiri, atau yang lebih fatal lagi, melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain yang pada suatu ketika akan kita sesali.

Tuhan sepertinya tahu sulitnya manusia untuk mengontrol kesabarannya. Mengapa saya bisa mengatakan hal ini? Karena baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru kita bisa menemukan pesan Tuhan berulang-ulang agar kita bisa melatih kesabaran kita. Lihatlah sebuah seruan Yakobus berikut ini: “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19). Cepatlah mendengar, bukan cepat membantah, dan lambatlah berkata-kata apalagi marah. Mengapa? Yakobus melanjutkan: “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (Yakobus 1:19-20). Jangan gampang tersulut emosi, jangan cepat beradu argumen, tetapi dengarkanlah dahulu apa kata orang, atau cobalah berpikir hal-hal yang positif sebelum kita buru-buru berkomentar.

Berpikir hal-hal yang positif, itu bisa membuat kita tidak mudah terpancing emosi. Dan hal itu pun sudah diingatkan oleh Paulus. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Dalam hal meredam emosi, pesan Paulus ini sesungguhnya baik untuk diterapkan. Ketika orang parkir sembarangan menutup mobil kita, itu bisa menjadi saat yang tepat untuk berlatih berpikir positif. Mungkin ia sedang terdesak waktu, ada hal mendesak yang harus segera ia lakukan dan tidak bisa lagi menunggu. Atau kalaupun orang itu memang seenaknya saja, seharusnya kita merasa prihatin karena ia ternyata tidak mengerti tata krama dan bakal mengalami banyak kesulitan karenanya. Itu bentuk-bentuk pemikiran yang bisa mencegah kita dari kemarahan yang tersulut dengan cepat. Dan itulah yang baik untuk dilakukan, karena biar bagaimanapun, apapun alasannya, kemarahan tidaklah mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Ketika kita terbiasa hidup dengan kemarahan, seharusnya kita meninggalkan itu dan menggantikannya dengan kesabaran dalam mengisi hari-hari kita. Kekristenan selalu berbicara soal kesabaran dalam menanggung segala sesuatu. Ketika orang di dunia terbiasa cepat emosi bahkan merusak dan membunuh yang tidak sepaham, kita justru dianjurkan untuk bersabar dan mengasihi. Cobalah pikirkan, bukankah Tuhan pun sudah begitu sabar menghadapi kita? Bayangkan apabila sedikit saja salah kita langsung Dia habisi, apa jadinya kita? Tapi Tuhan bukanlah Pribadi yang gampang emosi seperti itu. Dia selalu sabar menghadapi kita, dan selalu menyambut kita dengan penuh sukacita ketika kita datang kepadaNya. Dia berpesta bersama seisi Surga ketika kita bertobat dan memutuskan untuk kembali kepadaNya dengan meninggalkan segala yang buruk. Jika Bapa saja seperti itu, mengapa kita malah menunjukkan sikap yang bertolak belakang, bahkan masih berani mengaku sebagai anakNya? Alkitab memang berbicara soal kesabaran dalam menanggung segala sesuatu secara luas. Dalam situasi paling sulit pun kita harus bersabar, apalagi dalam situasi-situasi kecil saja, itu seharusnya tidaklah susah untuk diatasi. Dari cara menangani hal-hal kecil kita bisa mulai melatih kesabaran ini.

Apa sebenarnya yang membuat Tuhan bisa begitu bersabar menghadapi kita yang kerap mengecewakanNya? Jawabannya hanya satu: karena Dia sungguh sangat mengasihi kita. Kasih itu ternyata punya kekuatan besar untuk mentransformasi manusia dan membawa perbedaan nyata ke arah kebaikan secara luas. Dan Firman Tuhan pun sudah menyatakannya. Dalam 1 Korintus 13:4-7 Paulus merinci satu persatu mengenai poin-poin penting yang tercakup dalam kasih. Dan lihatlah bahwa sabar merupakan satu di dalamnya, bahkan disebutkan paling depan. “Kasih itu sabar…” (ay 3). Jadi menerapkan kasih seharusnya bisa membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih sabar. Sebaliknya tanpa adanya kasih, akan sulit bagi kita untuk mengontrol emosi. Cobalah hidup dengan penuh kebencian, maka segala tindakan destruktif, kejam dan tak beradab akan menjadi gaya hidup kita. Lalu perhatikanlah bahwa dengan membiarkan diri kita hidup dipimpin oleh Roh, itupun akan mampu menghasilkan buah-buah Roh dimana salah satunya adalah kesabaran. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22-23). Hidup oleh kasih dan dipimpin oleh Roh akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang baik seperti yang diharapkan Tuhan.

Selain seruan Yakobus di atas, Paulus pun pernah mengingatkan hal yang sama dalam surat-suratnya. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2). Serangkaian nasihat sebelum Paulus menutup suratnya kepada jemaat Tesalonika pun berisi pesan agar kita bisa menjadi orang-orang yang sabar. “sabarlah terhadap semua orang.” (1 Tesalonika 5:14).

Kita tidak bisa menghindari persinggungan dengan situasi atau orang-orang yang berpotensi membuat kita tersulut amarah. Kapanpun dan dimanapun kita bisa bertemu dengan mereka ini. Kita tidak bisa mengelak selamanya, tapi apa yang bisa kita lakukan adalah merubah paradigma berpikir kita dengan hal-hal positif, dan mengisi hati kita dengan sikap yang mengasihi orang lain. Kedua hal ini akan mampu membuat diri kita teduh, sejuk dan dengan demikian kita tidak harus kehilangan sukacita dan bisa tetap menikmati hari demi hari secara maksimal. Jika anda berhadapan dengan orang-orang sulit atau situasi sulit yang berpotensi mengesalkan anda, andalkanlah Tuhan. Rohnya ada didalam anda, sehingga buah-buah yang dihasilkan Roh itu akan mampu membuat anda memandang situasi atau orang tersebut dengan cara pandang yang berbeda. Dasarkan pandangan dalam kasih dan hiduplah bertumbuh dalam buah-buah Roh, itu akan membuat kita menjadi orang-orang yang jauh lebih sabar dalam segala situasi dan kondisi.

Kemarahan tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.