Manusia Sebagai Objek Kasih

Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:8
=======================
“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

tuhan adalah kasih, mengenal pribadi Tuhan, manusia tempat kasih

Sebuah perintah Tuhan untuk mengasihi tanpa syarat mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Apalagi jika kita dihadapkan kepada berbagai corak dan ragam sifat, kepribadian maupun perilaku manusia yang terkadang sulit kita terima. Untuk tidak bereaksi negatif saja mungkin sudah sulit, apalagi mengasihi. Padahal kita tahu dua perintah yang paling utama dari Yesus, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, lalu mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Matius 22:37-40), bahkan lebih lanjut kita diperintahkan untuk mengasihi tidak hanya seperti mengasihi diri sendiri, melainkan seperti Kristus sendiri telah mengasihi kita. (Yohanes 13:34). Yesus juga mengingatkan demikian: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (15:13). Hal ini sudah dipraktekkan langsung oleh Yesus, yang mengorbankan nyawaNya demi menebus diri kita. Semua ini sudah kita ketahui, namun prakteknya tidaklah mudah. Kekecewaan demi kekecewaan bisa membuat kita menjadi tawar hati bahkan antipati terhadap orang lain.

Hari ini saya ingin melihat sebuah sisi lain dari penerapan kasih Allah. Ayat bacaan hari ini berbunyi demikian: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. (1 Yohanes 4:8). Ayat ini berbicara jelas mengenai hubungan antara mengenal pribadi Allah dengan mengasihi orang lain, bahkan musuh sekalipun. Seberapa besar kita mengasihi sesama kita mencerminkan sejauh mana kita mengenal Allah. Dalam ayat berikut kita membaca “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (ay 16). Sedemikian pentingnya sebuah ungkapan kasih kepada sesama manusia, sedemikian pentingnya untuk hidup dikuasai oleh kasih dan bukan kebencian. Ada hal menarik dari pernyataan ayat ini, yaitu Tuhan tidak hanya menunjukkan kasih, tapi Dia sendiri adalah kasih. Tuhan selalu rindu untuk memberikan kasihNya kepada kita, karena sifat dasar Tuhan adalah kasih.

Tuhan mempunyai banyak sifat lainnya, seperti adil, kudus, maha kuasa, maha besar dan sebagainya. Lihatlah, bahwa sifat-sifat ini bisa dimiliki Tuhan tanpa membutuhkan kita. Tuhan tidak perlu anda dan saya untuk menjadi kudus, tidak membutuhkan kita untuk menjadi adil, maha besar dan sebagainya. Tapi ada yang berbeda dengan kasih. Sifat kasih yang menjadi sifat dasar Tuhan ini tidak dapat Dia berikan tanpa kehadiran kita, manusia-manusia yang dibentuk sesuai dengan gambar dan rupaNya. Artinya, kita diciptakan sebagai objek dimana Tuhan bisa menyatakan kasihNya. Kasih akan berlangsung jika ada yang mengasihi dan ada yang dikasihi, dimana kasih harus diberikan kepada orang yang dikasihi.

Berkali-kali Tuhan menyatakan betapa Dia mengasihi kita manusia. Kita dikatakan sebagai ciptaan yang dahsyat dan ajaib. Tuhan membentuk setiap bagian tubuh kita, menenun kita langsung dalam rahim ibu kita (Mazmur 139:13-14), kita dilukiskan Tuhan dalam telapak tanganNya dan terukir di ruang mataNya (Yesaya 39:16), dan lain-lain. Bahkan begitu besar Tuhan mengasihi kita sehingga Kristus pun Dia berikan agar kita semua selamat dari maut. (Yohanes 3:16). Semua kisah kasih Tuhan terhadap manusia yang penuh dosa ini begitu menggugah hati, sehingga seharusnya jika kita mengenal pribadiNya yang punya sifat dasar kasih, kita pun sudah pada tempatnya senantiasa termotivasi untuk mengasihi orang lain pula.

Tuhan sungguh merindukan hubungan dengan kita anak-anakNya, yang khusus diciptakan segambar dan serupa dengan Dia, yang dapat Dia kasihi. Tuhan menciptakan manusia, baik pria maupun wanita dengan begitu istimewa, dalam gambarNya sendiri, karena Dia menginginkan kita sebagai sosok untuk berbagi kasih. Ini sebuah pesan menakjubkan. Kita objek-objek yang menerima kasih Allah, sosok kasih yang sempurna. Terlebih ketika Allah sudah terlebih dahulu mengulurkan tanganNya untuk mengasihi kita. Wujud mengasihi Tuhan ini tidaklah bisa lepas dari wujud mengasihi sesama kita, seperti apa yang dipesankan Tuhan Yesus. Yohanes menuliskan demikian: “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 4:19-21). Rangkaian pesan ini menegaskan pesan kasih yang harus kita jalankan di dunia jika kita mengaku mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi kita.

Tidak mudah memang untuk mengasihi orang yang mengecewakan atau menyakiti kita, namun setidaknya kita bisa belajar untuk melakukannya dengan mengimani pribadi Tuhan yang tidak lain adalah kasih, seperti yang terus menerus Dia curahkan pada kita yang sebenarnya jauh dari layak untuk menerima itu semua. Ketika Tuhan begitu mengasihi kita, tidakkah kita yang mengaku anak-anakNya sudah sepantasnya berusaha pula untuk mengasihi orang lain? Let’s learn to spread the love today to everybody!

Sebagai objek kasih Tuhan, hendaklah kita juga belajar mengasihi orang lain

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply