Manusia Sebagai Mahluk Sosial

Ayat bacaan: Ibrani 10:25=====================”Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang m…

Ayat bacaan: Ibrani 10:25
=====================
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

Ada seseorang yang saya kenal dekat yang baru saja menyadari nikmatnya punya sahabat-sahabat baru setelah ia bergabung dalam sebuah persekutuan. Tadinya ia termasuk orang yang skeptis tentang pentingnya berada dalam sebuah komunitas kecil seperti itu. “Ah memangnya buat apa? Buang-buang waktu saja, paling juga dengar kotbah lagi.” Seperti itu kira-kira bentuk penolakannya dulu. Ia sering sinis dalam memandang hal-hal yang berbau rohani karena menurutnya seperti paranoid saja. Secara perlahan ia diperkenalkan kepada firman Tuhan. Tadinya menolak kemudian mulai lebih lunak mau mendengar tapi masih sulit menerima. Lalu mulai menerima tapi masih sulit mengaplikasikan. Perlahan ia kemudian mau mencoba untuk bergabung dalam sebuah kumpulan. Dan ternyata ia menemukan perasaan yang sebelumnya belum pernah ia dapat dari teman-teman bermainnya. Menurutnya, setidaknya sekarang ia punya teman-teman yang peduli, yang bisa dipercaya sehingga ia bisa bercerita apapun dengan nyaman. Itu membuatnya lebih ringan dalam berjuang meniti hidup.

Ada kalanya ditengah banyaknya kesibukan kita jadi terpusat kepada pekerjaan dan melupakan atau bahkan kehilangan jati diri kita sebagai mahluk sosial. Kita akan mulai menarik diri dari lingkungan dan orang-orang di sekitar kita, dan lama kelamaan kita tidak lagi merasa perlu akan kehadiran orang lain. Kita hanya mendekati orang kalau punya maksud tertentu, kalau tidak maka kitapun disconnected dari dunia sekitar. Ambil contoh kecil saja, apabila anda sedang surfing di dunia maya, tiba-tiba ada gangguan jaringan. Itu akan membuat anda tidak lagi bisa mengakses apa-apa dan kehilangan banyak waktu dan kesempatan berharga untuk belajar tentang segala sesuatu dari perbendaharaan informasi di dunia maya.

Akan hal ini alangkah baiknya apabila kita melihat terlebih dahulu seperti apa jati diri kita sebenarnya saat Tuhan menciptakan manusia. Seperti apa manusia yang ada dibayanganNya? Kita diciptakan jelas bukan untuk hidup sendiri. Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk sosial yang akan jauh lebih baik apabila berinteraksi dengan orang lain.

Tidak ada satupun manusia yang bisa hidup baik sendirian. Sejak awal penciptaan dalam kitab Kejadian pun Tuhan sudah mengingatkan pentingnya bagi kita untuk hidup sesuai dengan hakekat kita sebagai mahluk sosial. “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18). Tuhan bilang manusia itu tidak baik kalau sendirian. Kenapa? Karena yang Dia bayangkan saat menciptakan kita adalah membuat mahluk istimewa sesuai dengan gambar dan rupaNya sendiri dengan kemampuan untuk bersosialisasi dan berinteraksi, bukan mahluk individual. Pada kenyataannya memang terkadang kesibukan bisa menyita waktu kita sehingga kita tidak lagi punya waktu untuk berinteraksi dengan orang lain, atau berbagai hal lainnya, dan ketika itu terjadi, maka tanpa sadar kita akan kehilangan banyak hal. Kita tidak lagi punya teman untuk berbagi, bahkan tidak ada lagi orang yang bisa mengingatkan atau menasehati kita. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan bahwa sendirian itu tidak baik. Bukan salah, bukan pula tidak boleh, tetapi tidak baik.

Berkumpul bersama saudara-saudara seiman dalam komunitas yang baik dan benar akan sangat baik bagi pertumbuhan dan kemajuan kita dan teman-teman di dalamnya. Kita bisa berbagi pengalaman sehari-hari, berkumpul saling mendoakan dan bersama-sama merenungkan firman Tuhan  Itu sangat penting. Tapi kenyataannya ada banyak orang yang mengorbankan saat-saat sharing seperti itu demi menjalankan rutinitas pekerjaannya. Jangankan dalam persekutuan, sharing bersama suami atau istri saja sudah tidak lagi punya waktu. Skala prioritas berubah dan kacau. Dan ketika itu terjadi, Tuhan sudah mengingatkan kita bahwa itu tidak baik, bagi kestabilan emosional kita, bagi mental kita, dan bagi pertumbuhan rohani kita.

Maka ayat yang sudah saya sampaikan dalam beberapa renungan sebelumnya menjadi sangat penting untuk diingat. “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Saling menasihati, saling mengingatkan dan saling menguatkan, itu semua akan luput dari kita apabila kita berhenti menyadari status kita sebagai mahluk sosial dengan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita. Apalagi hari ini, kita seharusnya semakin giat melakukannya, tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan “karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:16). Tidak ada satupun manusia yang mampu mengatasi segalanya sendirian. Ada kalanya kita kuat, pakai waktu-waktu itu untuk menguatkan teman-teman kita. Sebaliknya ada waktu kita lemah, dan disana peran teman-teman akan sangat berguna. Sebuah ayat dalam Pengkotbah yang tidak asing lagi bagi kita pun mengingatkan hal ini. “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkotbah 4:9-10). Dan lihat pula apa yang dikatakan Yesus berikut: “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”(Matius 18:20). Dengan berkumpul bersama-sama untuk berbagi firman Tuhan, itu artinya kita mengundang Kristus untuk hadir di tengah-tengahnya.

Sangatlah penting bagi kita untuk menyadari betapa rapuhnya kita sebagai manusia kalau kita tidak menyadari hakekat manusia sebagai mahluk sosial. Tuhan tidak pernah menginginkan anak-anakNya untuk merasa kuat hidup sendirian, meski Dia sanggup untuk memenuhi apapun yang kita butuhkan untuk survive. Kita tidak boleh malu untuk mengakui bahwa kita butuh orang lain untuk bisa tumbuh menjadi lebih baik lagi. Ada banyak hal yang bisa menghalangi kita untuk berkumpul beribadah bersama-sama. Bisa soal pekerjaan, kesibukan, keluarga, kesehatan, mood atau suasana hati, cuaca dan sebagainya. Tapi hendaklah kita memperhatikan betul siapa kita sebenarnya seperti yang diciptakan Tuhan. Sedapat mungkin, luangkan waktu untuk berkumpul bersama-sama, saling berbagi, saling menasehati dan saling menguatkan. Tuhan sudah menyatakan bahwa tidaklah baik bagi kita untuk hidup seorang diri.

Interaksi sosial akan selalu kita butuhkan untuk bisa terus menjalani kehidupan dengan semakin baik. Ingatlah bahwa dunia yang kita hidupi terus semakin sulit. Jadi kita butuh dukungan dari saudara-saudara kita untuk saling menguatkan. ika diantara teman-teman yang saat ini mulai menjauh dari perkumpulan-perkumpulan disebabkan berbagai alasan, ingat bahwa kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus punya semangat berinteraksi dengan sesama kita, dan ingat juga bahwa kita akan sulit berkembang maju kalau hanya sendiri saja. Jangan jauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, bertumbuhlah terus disana.

Manusia diciptakan sebagai mahluk sosial yang perlu berinteraksi untuk bisa maju

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply