Manusia Perawat

Ayat bacaan: Markus 4:19
===============
“Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless.” (English Amp)

manusia perawat

“Saya berubah menjadi manusia perawat.” Demikian status seorang teman saya di salah satu jejaring sosial. Saya pun penasaran, apa yang ia maksudkan dengan itu. Sambil tertawa ia berkata bahwa apa yang ia maksudkan adalah betapa banyaknya waktu yang ia habiskan untuk merawat ini dan itu. Merawat anak, merawat rumah, merawat mobil, halaman, peralatan elektronik, perabotan sampai perawatan kuku, wajah dan rambut. Setiap hari ia menghabiskan waktu begitu banyak untuk melakukan satu perawatan ke perawatan lainnya. Dan saya yakin ia tidak sendirian. Sadar atau tidak kita pun demikian. Kita menghabiskan waktu untuk merawat segala macam setiap harinya sampai-sampai kita tidak lagi punya waktu untuk merawat roh kita sendiri.

Tuhan Yesus pada suatu kali menjelaskan bahwa benih yang ditabur akan tergantung dari kondisi tanah dimana benih itu jatuh.  (Matius 13:1-23). Adapun benih yang akan berbuah tentu saja adalah benih yang jatuh di tanah yang baik. “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (ay 8). Itu benar adanya. Tetapi sadarkah kita bahwa selain itu kita pun perlu memperhatikan kehidupan kita sehari-hari? Kita sering tidak menyadari, tetapi nyatanya hal-hal yang tampaknya tidak bersalah dalam hidup sehari-hari bisa mencekik kehidupan rohani kita jika kita mengijinkannya. Lihatlah ayat bacaan kita hari ini. “Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless. (Markus 4:19: English Amp) Dalam Bahasa Indonesia Terjemahan Baru dikatakan “lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” Di dalam versi bahasa Inggrisnya hal itu dijabarkan satu persatu yaitu: kekhawatiran dan kegelisahan dunia, gangguan atau kebingungan di jaman ini, kesenangan dan kegembiraan dan gemerlap semu atau palsu, tipu daya kekayaan dan kecanduan dan hasrat yang menggebu untuk hal-hal lain, semua itu bisa merangkak masuk dan mencekik firman hingga tidak bisa berbuah. Memastikan hati dalam keadaan baik untuk ditaburi firman itu penting, tetapi tidaklah kalah pentingnya untuk menjaga hal-hal yang lazim kita hadapi di dunia ini sehari-hari agar jangan sampai mencekik kerohanian kita sehingga tidak lagi bisa berbuah.

Kita sibuk merawat segala sesuatu, kita terus menerus bekerja bagai mesin atau robot yang terus beroperasi nonstop, kita sibuk mencari segala kenikmatan dan kebahagiaan di dunia ini sehingga tidak lagi punya waktu sedikitpun untuk mengurusi masalah rohani. Ketika ini terjadi, disanalah roh kita tercekik dan tanpa sadar kita tengah terseret ke dalam arus penyesatan dunia. Jika ini yang terjadi, itu artinya sudah tiba waktu bagi kita untuk menyederhanakan hidup kita dengan menitikberatkan sesuai skala prioritasnya. Jangan sampai kita mengorbankan waktu untuk berdoa dan bersaat teduh, merenungkan Firman bersama Tuhan demi hal-hal lainnya yang kita anggap jauh lebih penting dibandingkan itu. Firman Tuhan sudah mengingatkan hal ini, ayatnya berbunyi: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).

Lihatlah pesan Paulus kepada Timotius berikut: “Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Timotius 2:4). Ini adalah pesan yang sangat penting agar kita tidak memusingkan diri setiap saat dengan soal-soal penghidupan. Tidakkah seorang prajurit atau tentara pun akan seperti itu? Ia tidak akan bisa berkenan kepada atasan atau komandannya apabila ia malah sibuk mengurusi urusan pribadinya dan mengabaikan perintah dari sang komandan. Bagi saya ini adalah sebuah perumpamaan yang sangat tepat untuk mengingatkan kita mengenai skala prioritas dalam menjalani hidup. Apa yang terpenting adalah berhubungan dengan Tuhan lewat doa, pembacaan atau perenungan firman dan saat-saat teduh kita. Itu artinya kita merawat, memperkuat dan menyehatkan roh kita. Itu artinya kita memastikan bahwa roh kita baik adanya dan tidak sedang dalam keadaan tercekik.

Selanjutnya lihatlah firman Tuhan dalam surat 1 Yohanes 2 berikut. “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:15-16). Ayat ini pun berbicara dengan jelas mengenai apa yang seharusnya menjadi titik fokus atau pilihan kita dalam menjalani kehidupan. Bahkan lebih tegas lagi dikatakan: “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan hidup selama-lamanya.” (ay 17). Apa yang bisa membuat kita berbuah adalah apabila kita tetap bersatu dengan Tuhan. Perhatikan ayat berikut ini: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yohanes 15:4). Itulah yang penting untuk kita pastikan. Kita tidak akan bisa berbuah apabila kita malah tinggal di dalam segala yang ditawarkan dunia dan terlepas dari Yesus. Dwell in Him, and he will dwell in you. Live with Him, and He will live in you. That’s the only way for us to bear fruit. That’s the way for us not to be choked and suffocated spiritually.

Hari ini marilah kita memastikan fokus terhadap hal-hal yang kita lakukan sehari-hari. Tidak salah untuk merawat berbagai hal dalam hidup kita, hanya saja jangan sampai semua itu merebut waktu-waktu kita untuk berdiam bersama Tuhan. Tubuh dan jiwa perlu dirawat, roh kita pun perlu dirawat. Perhatikan baik hal-hal yang kecil atau terlihat sangat sederhana, lumrah dan wajar dalam kehidupan sehari-hari, jangan sampai itu membuat jurang antara kita dengan Tuhan terus menganga semakin lebar.

Perhatikan hal-hal sehari-hari dan pastikan jangan sampai satupun dari itu mencekik kerohanian kita hingga tidak bisa berbuah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: