Manfaat Ujian (1)

Ayat bacaan: Yakobus 1:3-4
====================
“sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

Kalau mau naik tingkat orang biasanya harus menempuh sesuatu yang namanya ujian. Saat anda sekolah, anda tentu terbiasa dengan hal itu. Ujian akan dijadikan acuan atau tolok ukur apakah anda bisa naik atau masih harus mengulang lagi. Ketekunan kita mempersiapkan diri akan sangat berperan disana. Kalau kita asal-asalan saja atau malah tidak belajar, maka nilai buruk atau kegagalan sudah menanti di depan mata. Sebaliknya kalau kita benar-benar serius mempersiapkannya maka bukan saja naik tapi nilai yang baik pun bisa kita raih.

Bagaimana suasana pada saat ujian? Tidak satupun ujian yang diadakan dalam suasana ramai dan ribut. Orang butuh konsentrasi dalam mengerjakan soal satu demi satu, sehingga keheningan dan ketenangan suasana menjadi hal yang mutlak. Tidak ada pengawas yang malah ribut ketika sedang mengawas ujian, kecuali pengawasnya tidak bertanggung jawab. Sunyi, sepi, hening, mungkin jarum yang jatuh ke lantai saja akan kedengaran jelas oleh semua peserta ujian. Agaknya itu menjadi bahan perenungan bagi Rick Warren mengenai ujian-ujian yang kita alami dalam kehidupan. Ia berkata: “The teacher is always silent when the test is given. If God is silent in your life right now, it’s a test of faith.” 

Rick Warren menyinggung momen saat Tuhan memilih untuk diam. Tuhan bisa diam pada waktu-waktu tertentu bukan dengan tujuan untuk membiarkan kita menderita atau tidak peduli terhadap persoalan kita, tetapi karena Dia menginginkan sebuah pertumbuhan iman yang signifikan demi kebaikan kita sendiri. Untuk menjelaskan hal itu, Rick mengambil contoh yang mudah dicerna lewat sikap seorang guru ketika mengawasi ujian. Ujian suka tidak suka harus kita hadapi jika kita mau naik kelas atau naik ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak ada orang yang naik kelas dan lulus tanpa melalui ujian bukan? Karenanya contoh sederhana yang disampaikan Rick Warren ini rasanya akan mudah untuk kita mengerti dalam hubungannya dengan saat-saat ketika Tuhan memutuskan untuk berdiam diri disaat kita tengah menghadapi kesesakan.

Kalau kita memperhatikan jalan hidup kita, setiap saat sebenarnya hidup itu penuh dengan ujian. Life is always a test. Dalam hal iman pun sama seperti itu. Agar menjadi lebih baik, kita harus menempuh berbagai ujian yang tidaklah menyenangkan saat dijalankan. Tapi hasilnya akan sangat menentukan apakah kita nantinya naik tingkat menjadi lebih baik, bijaksana, taat atau teguh berpegang kepada Tuhan atau tidak.

Buat saya pribadi, setiap hari adalah bagian dari proses menjadi orang yang lebih baik lagi. Sekarang harus berbeda dengan saya esok, dan saya esok hari harus berbeda dengan saya lusa, seminggu lagi saya sudah harus lebih baik lagi, dan seterusnya. Itu sudah menjadi tekad saya. Tidak saja dalam bersikap, bertingkah laku, tidak saja dalam pengetahuan, tapi juga dalam mendalami suara hati Tuhan bagi manusia yang terkandung dalam Alkitab. Saya menikmati hidup, tapi saya juga menghadapinya dengan serius terutama dalam menghadapi berbagai godaan yang ada di sekitar saya. For me, that’s the fun part of life. I love to play and have fun, but I don’t wanna just play around and forget to learn. Begitu kira-kira. Ujian-ujian kehidupan bisa ringan, bisa juga berat. Dan seperti halnya ujian lainnya, kita bisa lulus dan bisa gagal. Disaat ujiannya berat, saya tahu kalau saya bisa melewatinya, hasilnya tentu akan jauh lebih besar daripada ujian-ujian yang ringan. Jadi saat ujian berat, saya tidak harus patah semangat dan menyerah, terlebih kalau menyadari bahwa di saat seperti itupun Tuhan sebenarnya tidak pernah meninggalkan saya. Lalu bagaimana kalau gagal, haruskah kita menyerah? Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menyikapi sebuah kegagalan dan belajar dari kegagalan itu untuk mencapai sukses luar biasa pada kesempatan lain. Kesempatan untuk berhasil akan selalu ada selama kita masih hidup.

Dalam menghadapi berbagai ujian lewat segala macam dimensi problema kehidupan ada sesuatu yang penting untuk kita perhatikan. Masalah boleh hadir, tapi bagaimana sikap kita menghadapinya akan membawa perbedaan nyata. Kita bisa memilih untuk mengeluh, kecewa atau larut dalam mengasihani diri sendiri secara berlebihan atau kita bisa menguji iman kita, sampai dimana kita kenal Yesus, sampai dimana kekuatan pengharapan lewat iman kita. Jika kita gampang menyerah, itu artinya kita belum mampu untuk percaya sepenuhnya kepada kuasa Kristus. Lihatlah apa yang tertulis dalam Amsal. “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply