Mancing untuk Mencari Korban

MANCING“Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.” (Luk 11, 54) SEORANG rekan imam hobi sekali dengan kegiatan mancing. Di sela-sela pelayanannya kepada umat beriman di sebuah paroki desa yang kecil, dia sempat meluangkan waktu untuk mancing di sungai bersama dengan beberapa umat atau tetangga. Karena hobinya itu, rekan imam […]

MANCING

“Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.” (Luk 11, 54)

SEORANG rekan imam hobi sekali dengan kegiatan mancing. Di sela-sela pelayanannya kepada umat beriman di sebuah paroki desa yang kecil, dia sempat meluangkan waktu untuk mancing di sungai bersama dengan beberapa umat atau tetangga. Karena hobinya itu, rekan imam lain memberikan julukan ‘kyai jaga kali’.

Kegiatan mancing memang menyenangkan, terlebih pada saat ikan mulai makan umpan dan berusaha membawa lari. Pemancing dengan segera menarik kailnya dan tertangkaplah si ikan yang malang itu. Pemancing akan bersukacita, karena pancingannya berhasil.

Memancing dan menangkap merupakan dua kegiatan berturutan, yang tidak hanya ditujukan untuk jenis ikan, tetapi juga bisa ditujukan untuk binatang lain. Bahkan manusia pun bisa diperlakukan seperti ikan yang malang itu. Memancing merupakan kegiatan yang tidak hanya terjadi di sungai atau kolam, tetapi juga terjadi di tempat lain dengan tujuan tertentu.

Memancing merupakan kegiatan awal yang dilakukan seseorang agar bisa memperoleh ‘sesuatu atau seseorang’, yang menjadi sasaran atau target akhir. Inilah yang dilakukan oleh kelompok orang Farisi dan ahli Taurat terhadap Yesus.

Mereka membanjiri-Nya dengan berbagai soal atau pertanyaan. Berbagai soal atau pertanyaan itu merupakan umpan dari pancingan mereka. Mereka berharap agar Yesus memberikan pendapat, gagasan atau pengajaran berkaitan dengan berbagai soal tersebut. Persoalan yang mereka ajukan bisa menjebak-Nya, seperti pertanyaan tentang ‘bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak’?

Mereka berusaha menemukan kesalahan dari kata-kata atau ucapan-Nya, sehingga mereka mempunyai alasan untuk menangkap-Nya atau menyalahkan-Nya. Sikap dan perangai orang Farisi dan ahli Taurat tersebut mungkin masih bisa terjadi dalam kehidupan bersama umat beriman, yakni adanya pribadi tertentu yang hobi ‘memancing’, seperti memancing munculnya pertentangan, perselisihan, keributan, emosi, permusuhan satu dengan yang lain. S

ebaliknya, ada juga orang yang pribadinya ‘mudah terpancing’ oleh kata-kata, sindiran, ucapan dan sikap orang lain serta sulit mengendalikan diri, sehingga hidup bersama semakin keruh dan tidak nyaman, saling curiga atau menyalahkan. Bagaimanapun juga hobi ‘memancing’, seperti yang dilakukan orang Farisi dan ahli Taurat, bisa menimbulkan korban pada diri orang lain.

Teman-teman, selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Royani Lim/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply