Manajemen Waktu (2)

 (sambungan)

Adalah menarik jika kita melihat bahwa Yesus beberapa kali didapati pergi menyepi untuk berdoa.“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35). Atau dalam kesempatan lain di malam hari: “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” (Matius 14:23). Yesus menunjukkan atau mencontohkan kepada kita betapa pentingnya untuk menikmati waktu-waktu bersekutu dengan Bapa tanpa harus terganggu oleh hiruk pikuk atau hal-hal lain yang bisa memecah konsentrasi. Dia mencontohkan langsung bagaimana untuk membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk melayani, ada pula waktu untuk mendengar suara Tuhan. Kita tidak bisa mencampur adukkan semuanya, itu tidak akan memberi kebaikan buat kita. Yesus menunjukkan bagaimana pentingnya mengambil waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan, menikmati hadiratNya secara maksimal, dan itu hanya bisa kita rasakan apabila konsentrasi kita tidak terpecah-pecah dengan apapun yang ada disekitar kita.

Berulang kali Alkitab mengingatkan kita akan pentingnya mempergunakan waktu dengan baik. Lihatlah bunyi salah satu penggalan doa Musa yang dicatat dalam Mazmur. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12). Musa berdoa meminta Tuhan memberi hikmat agar kita bisa menghitung dan mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Mengapa? Karena sesungguhnya hidup ini singkat. “So, teach us to number our days”, he said, “that we may get us a heart of wisdom.” Ini seringkali kita lupakan ditengah kesibukan kita bekerja, atau sebaliknya hanya bersantai-santai dan bermalas-malasan membuang waktu secara sia-sia. Demikian pula kita bisa menangkap pesan yang sama lewat pesan Paulus. Dalam Kolose 4:5 disebutkan “…pergunakanlah waktu yang ada.” Secara kontekstual pesan ini ditujukan Paulus agar kita tidak menyia-nyiakan waktu dalam menjangkau orang-orang luar, atau orang-orang yang belum percaya, tetapi secara umum pun pesan ini sesungguhnya layak untuk kita renungkan. Terlebih lagi dalam menghadapi hari-hari yang semakin jahat, seperti bunyi pesan Paulus selanjutnya dalam surat lain. “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:16). Ia mengatakan bahwa orang yang mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya, atau dengan kata lain orang yang pintar memanajemen waktu akan menunjukkan watak yang bijak atau arif, sebaliknya jika tidak maka itu dikatakan sebagai orang bebal. (ay 15).

Waktu sama 24 jam, tetapi ada orang yang berhasil mempergunakannya secara maksimal, ada pula yang menyia-nyiakannya. Ada yang sukses berjalan dalam rentang waktu itu, ada juga yang gagal. Apa yang seringkali berpengaruh antara sukses dan gagal ini adalah sejauh mana kita pintar memanajemen waktu yang ada dengan baik. Ada banyak faktor yang bisa berperan terhadap manajemen waktu ini seperti salah satunya sikap mental kita dalam menyikapi pentingnya mengatur waktu dengan baik. Mental yang buruk akan selalu mencari ribuan bahkan jutaan alasan untuk tidak melakukannya, tetapi jika kita berkomitmen untuk mau melakukannya, minimal mulai memikirkannya, maka tidak ada satu alasan pun yang bisa menghentikan kita. Sikap mental yang suka menunda-nunda pekerjaan pun merupakan salah satu hambatan yang harus dikikis sedini mungkin. Betapa seringnya kegemaran seperti ini membuat kita kelabakan pada akhirnya. Waktu berlalu dengan kecepatan yang sama, jumlah yang diberikan pun sama bagi setiap orang dari dulu hingga kini sampai nanti. Daripada sibuk meminta waktu lebih lagi, daripada berkeluh kesah waktu terlalu sedikit, kita bisa membalik pertanyaan kepada diri kita dengan “bagaimana saya bisa mempergunakan waktu secara maksimal dengan perencanaan yang baik dan seimbang.” Firman Tuhan berkata: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Apapun juga yang kamu perbuat, itu artinya berlaku secara luas, bukan hanya sebatas pekerjaan saja. Meluangkan waktu bersama keluarga, saudara dan kerabat, berolah raga, beristirahat dan tentu saja melayani, itu pun aktivitas-aktivitas yang seharusnya kita pakai seperti untuk Tuhan dan bukan untuk kepentingan kita sendiri atau manusia. Kuncinya adalah manajemen waktu, kuncinya adalah memperhatikan betapa kita harus pintar menyusun perencanaan atau jadwal sehari-hari agar seluruh pekerjaan yang kita lakukan bisa berjalan dengan baik dan seimbang sesuai dengan “time frame” yang berlaku sama bagi setiap manusia sepanjang masa. Masing-masing dari kita tentu tahu apa yang harus kita lakukan dan bagaimana metode yang terbaik untuk memanajemen waktu ini. At least we have to remember that time management is something important for us to do. Pesan akan pentingnya memanajemen waktu pun berlaku bagi saya, karena saya masih sering kesulitan untuk membagi waktu ditengah tumpukan kesibukan baik pekerjaan, keluarga dan pelayanan. Agar semua bisa sukses, aturlah pembagian waktunya sebaik mungkin. Saya masih terus dan akan terus berbenah memperbaiki manajemen waktu saya agar lebih baik lagi ke depannya. Bagi anda yang masih merasakan kesulitan yang sama, mari kita sama-sama melakukannya.

Bukan rentang dan kecepatan waktunya yang salah, tetapi pengaturan atau manajemen waktu kita yang harus diperbaiki

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply