Malin Kundang

Ayat bacaan: Ulangan 8:11
=====================
“Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini”

malin kundang, anak durhaka, melupakan Tuhan

Masih ingat kisah Malin Kundang? Cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat ini menceritakan mengenai seorang anak yang memutuskan untuk merantau karena tidak tahan lagi melihat ibunya hidup susah payah membesarkannya dalam kemiskinan. Tujuan baiknya membawa keberhasilan. Malin Kundang menjadi orang sukses dan terpandang. Ketika pada suatu kali ia pulang ke kampungnya, sang ibu pun melihatnya. Ia bergegas menyambut dan memeluk anaknya. Namun ibu yang lusuh, dekil dan kumal ini ternyata sudah tidak lagi ada di hati Malin Kundang. Ia malu dilihat orang sedang dipeluk-peluk oleh seorang ibu yang miskin dengan penampilan kumal. Ia menolak ibunya dan tidak mengakui bahwa ia adalah anak dari sang ibu yang ia tolak. Ibunya marah, kemudian mengutuknya, dan Malin Kundang, si anak durhaka, akhirnya dikatakan berubah menjadi batu. Batu Malin Kundang ini konon kabarnya masih dapat disaksikan di pantai Air Manis yang menjadi salah satu objek wisata favorit di Sumatera Barat. Malin Kundang adalah simbol dari anak durhaka, anak yang tidak tahu terimakasih kepada orang tua (dalam hal ini ibu) yang telah bersusahpayah melahirkan dan membesarkannya.

Jika kepada orang tua kita saja kita di cap durhaka ketika kita melawan perintah mereka, ketika kita melukai hati mereka, ketika kita menyakiti perasaan atau malah fisik mereka, apalagi terhadap Tuhan. Betapa ironis, ketika dalam kesesakan kita berseru-seru kepadanya, namun setelah kita lepas dan mendapat berkat dari Tuhan, kita malah terlena dengan segala kelimpahan dan kenyamanan sehingga lupa kepadaNya. Ini sebuah kebiasaan buruk yang cenderung terjadi pada kita semua. Ketika  tengah diamuk badai, biasanya orang akan lebih dekat pada Tuhan. Tapi ketika berlayar di laut tenang,  hidup yang penuh dengan kelimpahan, orang bisa dengan gampang lupa kepadaNya. Maka Tuhan memberikan peringatan serius atas kecenderungan ini. Ayat bacaan hari ini diambil dari peringatan Tuhan yang diberikan kepada bangsa Israel. “Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini” (Ulangan 8:11). Peringatan Tuhan terhadap bangsa Israel agar mereka tidak melupakanNya. Ini peringatan serius karena jelas sekali ada indikasi dan bukti penyelewengan mereka melupakan Tuhan. Memang bangsa ISrael benar-benar keterlaluan. Tuhan sendiri yang memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir, memberi tiang awan dan tiang api dalam perjalanan mereka, membelah laut Teberau, memberi manna dari langit dan sebagainya. Mereka mengalami berbagai mukjizat silih berganti, meski mereka selalu bersungut-sungut dan terus mengeluh selama perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Dan Tuhan pun masih bersabar dengan memberikan peringatan yang amat tegas ini. Taatkah Israel? Israel yang tegar tengkuk ternyata memang benar-benar melupakan Tuhan yang telah begitu baik kepada mereka. “Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau.” (Ulangan 32:18). Di ayat sebelumnya kita melihat apa yang diperbuat Israel. “Lalu menjadi gemuklah Yesyurun (Israel), dan menendang ke belakang, –bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun–dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya. Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian. mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar.” (ay 15-17). Dalam Hakim-Hakim dikatakan demikian: “Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera.” (Hakim Hakim 3:7). Kurang apa lagi kebaikan Tuhan kepada mereka? Tapi ternyata segala berkat dan perlindungan Tuhan itu malah membuat mereka lupa diri. Bukannya semakin taat pada Tuhan, tapi mereka malah terlena dan membuat segala sesuatu yang merupakan kekejian di mata Tuhan.

Pesan ini berlaku juga bagi kita. Mungkin pada suatu masa dulu kita pernah hidup susah, melarat dan dibelenggu banyak masalah. Namun ketika kini semuanya telah dipulihkan, ketika kini kita menjadi orang yang berhasil dan serba cukup, kita diingatkan dengan tegas agar tidak melupakan Tuhan, yang telah menyediakan segalanya itu bagi kita. Apalagi jika kita sampai meninggalkanNya dan memilih jalan yang salah untuk kemudian menjadi murtad. Adalah penting bagi kita semua untuk mengingat bahwa kita tidaklah ada apa-apanya tanpa Tuhan. Belajarlah untuk senantiasa mengucap syukur, baik ketika kita berada dalam fase “padang gurun” , atau ketika kita sedang menapak naik mengalami berbagai berkat Tuhan dalam kelimpahan. Kita harus terus mengingat bahwa segala-galanya berasal dari Tuhan. Ketika anda saat ini tengah hidup baik tanpa masalah, bersyukurlah kepada Tuhan. Daud pun mengajak kita untuk selalu mengingatkan jiwa kita untuk terus memuji Tuhan. “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:2). Jangan pernah lupakan Tuhan dan melawan perintah serta ketetapanNya, karena semua itu bukanlah karena hasil kerja keras kita sendiri saja, melainkan berasal dari Tuhan yang begitu baik.

Ketika hidup bagai laut tenang, ingatlah pada Tuhan yang memberikan, dan bersyukurlah

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply