Malam Surgawi Jelang 100 Tahun Seminari Mertoyudan (2)

Sebelum tiga pembaca puisi berturut-turut yakni Wicahyanti Rejeki, Agnes, dan Andreas Darmanto tampil dengan karya masing-masing, penyair Dorothea Rosa Herliany berpidato singkat sebagai pengantar peristiwa budaya malam itu. Dia melanjutkan dengan membaca penggalan puisi panjang dari 375 bait yang aslinya berhuruf Arab dengan bahasa Melayu yang dinamai Arab Pegon atau Arab Melayu. Puisi berjudul “Syair […]

Sebelum tiga pembaca puisi berturut-turut yakni Wicahyanti Rejeki, Agnes, dan Andreas Darmanto tampil dengan karya masing-masing, penyair Dorothea Rosa Herliany berpidato singkat sebagai pengantar peristiwa budaya malam itu.

Dia melanjutkan dengan membaca penggalan puisi panjang dari 375 bait yang aslinya berhuruf Arab dengan bahasa Melayu yang dinamai Arab Pegon atau Arab Melayu. Puisi berjudul “Syair Lampung Karam” yang dibaca Rosa itu tentang kisah Melayu klasik mengenai Letusan Gunung Krakatau yang ditulis oleh Muhammad Saleh pada 1883.

“Di atas langit nyata kelihatan. Seperti bunga api yang kelihatan. Hati di dalam takutlah Tuan. Bahaya banyak diturunkan Tuhan. Rupanya gelap nyatalah tentu. Di atas langit terang suatu. Sebab terbang api di situ. Kiri dan kanan datangnya itu. Malam Isnin waktunya Isya. Lautan gemuruh ketika masa. Heran ajaib kepada rasa. Penglihatan berubah dari biasa’,” demikian beberapa bait puisi yang kelihatannya tentang situasi bencana mahadahsyat Krakatau pada masa lampau.

Belasan seminaris dengan tampilan apik, menggugah hati, dan variatif pada kesempatan itu menyuguhkan puisi-puisi mereka baik secara individu maupun duet, dengan iringan antara lain petikan gitar, gesekan biola, dan tiupan seruling.

Seperti duet seminaris bernama Marcel dan Uwel melalui puisi bertajuk “Ikutilah Kata Hatimu!” yang agaknya refleksi telusuran mereka atas jalan panggilan menjadi seorang imam Katolik melalui proses pendidikan di seminari.

“’Ketika Dia menyuruhku, aku masih membangkang. Lama kelamaan, tatapanNya, membuatku untuk diam, membuatku untuk mendengar. Wajah yang dahulu samar, kini menjadi kentara. Dia terus memandangiku. Aku berpikir, mengapa Dia tak jemu memandangiku? Dia berbisik padaku. Ikutilah kata hatimu!’,” demikian beberapa bait pendek puisi itu.

Mereka bacakan puisi itu dengan iringan petikan gitar seorang seminaris lainnya dan sorotan lampu cukup kuat mengarah ke patung Santo Petrus Kanisius karya pematung dari Gunung Merapi, Ismanto, yang berinstalasi bambu berjudul “Gunung Gothic”.

Malam itu juga sang pematung, Ismanto, menyuguhkan performa puisi berjudul “Golek Seneng Kanthi Nyebar Seneng” (Mencari bahagia dengan menyebar kegembiraan), sedangkan anaknya bernama Agatha Sekar menyuguhkan puisi berjudul “Tuhannya Sekar”.

sumber: antara

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply