Malaikat, Ciptaan yang Tidak Kelihatan

0
8

Patung Malaikat di Basilika Santo Petrus Vatikan, diambil 26 November 2017 oleh PEN@ Katolik/Paul C Pati

Patung Malaikat di Basilika Santo Petrus Vatikan, diambil 26 November 2017 oleh PEN@ Katolik/Paul C Pati

Pastor Johanes Robini Marianto OP


Hadirnya misteri kejahatan, dosa (dan kematian sebagai akibatnya) tidak bisa dipisahkan dengan sebuah kebenaran iman yang mungkin sering terlupakan, yaitu adanya ciptaan yang tidak kelihatan yang disebut malaikat. Santo Thomas Aquinas mengamini yang diimani Gereja bahwa Tuhan menciptakan ciptaan lain selain yang kelihatan, yaitu malaikat. Kehadiran mereka mencerminkan secara dekat kesempurnaan Allah yang semata-mata roh murni.


Apa yang terjadi dengan ciptaan “yang tidak kelihatan” ini sehingga misteri kejahatan dan dosa harus dimengerti dari sini? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya mengerti dulu hakikat malaikat dan kemampuan kodratiah mereka serta panggilan mereka dan bagaimana perjalanan mereka menurut iman Kristen. Dari situ semua jawaban menjadi terang.


Mengapa berbicara tentang malaikat? Karena dengan berbicara tentang malaikat tidak hanya kita akan mengerti mereka (baca: malaikat) melainkan juga manusia. Dengan mengerti malaikat, kita mengerti panggilan terdalam kita, yaitu sisi spiritual manusia. Kehidupan malaikat (baca: kodrat kerohanian sebagai roh murni) adalah panggilan masa depan manusia. Manusia tidak akan jatuh pada sisi material saja dan melihat bahwa kesempurnaan untuk menjadi citra Allah itu terletak pada panggilannya yang sejati, yaitu kerohanian di dalam Allah.


Menjadi seperti malaikat itu adalah kemungkinan dan atau panggilan untuk membuka cakrawala panggilan sejati manusia (melampaui hal-hal material) dan dengan demikian menjadikan kehidupan kita lebih mendalam. Di situ kelihatan juga bagaimana sisi atau kemampuan intelektual melebihi hanya sisi teknologi dan kemampuan rasional yang dimiliki manusia.


Bicara tentang malaikat merupakan sebuah panggilan untuk semakin melampaui hal material, untuk lebih mendalam daripada hanya melihat sisi tehne (how) dan masuk pada interioritas manusia.1


Di tempat lain Bonino mengatakan, pembicaraan teologis tentang malaikat berakibat ganda. Pertama, berbicara tentang malaikat dan peranan mereka membuka perspektif kita akan keyakinan tentang persekutuan para kudus dan menguatkan keyakinan kita akan sisi sosial dan kosmis dari iman Kristiani. Kedua, dengan berbicara tentang malaikat kita diajak untuk mengerti bahwa Kerajaan Allah itu bukan utopia (artinya: masa depan yang tidak mungkin tercapai). Kita melihat Kerajaan Allah itu sudah ada dan diberikan kepada kita dengan cuma-cuma dan kita hanya perlu mau menerima Kerajaan Allah itu. Doa kita akan datangnya Kerajaan Allah sudah terjadi di dalam hidup para malaikat. Maka pembicaraan tentang malaikat, meskipun bukan yang utama di dalam Teologi Katolik, namun sangat penting, karena kehadiran malaikat itu pernyataan iman (wahyu) dan tidak bisa ditolak atau dikecilkan.


Sekali lagi Bonio mengatakan ini sama saja dengan “peristiwa pelipatgandaan roti di mana roti bagaimanapun kecil harus dikumpulkan sehingga tidak ada yang dihilangkan (Yoh 6: 12). Itulah sebabnya Angelology (Teologi tentang Malaikat) merupakan bagian esensial dari sebuah teologi juga dan layak dipelajari dan direnungkan karena maknanya yang dalam buat kita mengerti diri kita, panggilan kita serta apa yang terjadi pada kita.


Siapakah malaikat itu dan bagaimana kita yakin akan kehadiran (keberadaan) mereka?


Santo Thomas Aquinas mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa Tuhan, ketika menciptakan alam semesta dan seisinya (termasuk malaikat), bertujuan supaya mahluk tercipta semakin berpartisipasi di dalam kehidupan ilahinya supaya bahagia. Semakin sebuah ciptaan menyerupai Dia, semakin makhluk tercipta itu dekat dan berbahagia. “Semakin menyerupai Dia” itu juga semakin mencerminkan siapa Dia, di dalam arti diri Allah dan kesempurnaan-Nya. Ciptaan “barang mati” (baca: yang kami maksudkan adalah seperti batu, gunung) tentu hanya mencerminkan sifat hidup. Kalau tumbuhan dan binatang memang lebih tinggi dari ciptaan “barang mati” karena mempunyai instink kehidupan, namun belum mencerminkan kesempurnaan Tuhan sebagai persona (pribadi) dan bahkan kreativitas daya ilahi. Manusia sebagai kesatuan substansial antara tubuh dan jiwa memang merupakan ciptaan yang layak dianggap sebagai citra Allah (Kej 1:26). Namun Tuhan yang menciptakan dengan daya akal ilahi dan kehendak murni berkenan menciptakan juga ciptaan yang sungguh mencerminkan kedekatan dengan Dia yang adalah roh murni. Tujuannya selain supaya makhluk yang lebih dekat ini berbahagia, juga untuk menunjukkan “kedekatan” kesempurnaan hakikat-Nya. Di sinilah Tuhan menciptakan malaikat yang merupakan roh murni.


Di tempat lain Santo Thomas Aquinas juga mengatakan bahwa Tuhan yang merupakan Pencipta dan semata roh murni, dilengkapi dengan kehendak dan akal budi yang bebas, kreatif dan tidak terikat oleh ketidaksempurnaan karena korporealitas (kebertubuhan). Manusia yang merupakan citranya memang dilengkapi dengan kemampuan akal budi dan kehendak (bebas). Namun itu masih dibatasi oleh kebertubuhannya sehingga tetap tidaklah sempurna sebagai makhluk yang dekat mencerminkan hakikatnya (sebagai roh murni yang kehendak dan akal budi-Nya tidak terbatasi ruang dan waktu karena kebertubuhan). Maka Tuhan ingin supaya tampak dengan sempurna hakikat-Nya diciptakan-Nya malaikat yang roh murni dan menjalankan segala kehendak dan akal budi tanpa terikat oleh ruang dan waktu (karena bertubuh). Malaikat inilah yang mencerminkan paling dekat hakekat-Nya. Selain keberadaan malaikat memberikan gambaran kepada kita tujuan dan hakikat kita: memuji dan memuliakan Tuhan, sebagaimana hidup para malaikat.


Maka dari itu keberadaan malaikat bukanlah sebuah ciptaan atau rekaan mitos semata-mata melainkan secara akal budi, setidaknya menurut Santo Thomas Aquinas, bisa dibuktikan keberadaannya.


(Tulisan berikut tentang hakikat malaikat)


1 Serge-Thomas Bonino, O.P., Angesl and Demons. A Catholic Introduction, Washington DC: The Catholic University of America Press, 2016, hal. 106.

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here