Makna di Balik Nama Hari versi Ki Dalang Romo Handi Setyanto Pr (1)

< ![endif]-->

TRADISI adiluhung khasanah seni sastra Jawa mengenal apa itu kerata basa.

Menurut penuturan Iwan Mulyono dalam blog pribadinya, kata Jawa kerata berarti memahami asal-usul, yang dalam hal ini adalah bahasa dari perspektif suku katanya. Dengan penelisikan bahasa yang menarik, demikian tulis Iwan, kata bahasa Jawa –misalnya kathok (celana pendek)—muncul karena cara memakainya ditempuh dengan prosedur sebagai berikut: diangKat mbaka siThok (kaki diangkat secara bergantian agar bisa masuk ke ‘kolong’ celana).

Kereta basa, sekali lagi menurut Iwan Mulyono, adalah akronim yang penyusunannya tidak menggunakan kaidah cangkriman yaitu mengambil suku kata terakhir dari tiap kata. Kerata basa sering juga disebut jarwa dhoso yang berarti penjelasan dari sebuah kata (kata ‘jarwa’ artinya penjelasan; sedangkan ‘dhosok’ berarti menyatukan).

Dalam konteks inilah, Ki Dalang Romo Handy Pr yang  biasa melakonkan kisah-kisah Injili dalam bentuk wayang kulit lalu mencungulkan kreativitas dalam berolah kata berbahasa Jawa.

Berikut ini penuturannya ‘bermain kata’ dalam mencermati makna di balik nama-nama hari.

·         Senen: Ojo boSEN karo unen unen yang berarti Jangan (pernah) bosan dengan nasihat atau omongan orang tentang kita;

·         Selasa: SElakna ngamal kanggo SApa-sapa yang berarti sedapat mungkin ciptakanlah ruang dan waktu khusus dalam satu hari hidupmu untuk bertegur sapa dengan sesama di lingkungan terdekatmu;

·         Rebo: KeRepo sinau ben ora BOdho yang berarti sering-seringlah belajar agar jangan sampai ketinggalan ilmu dan berita hingga nantinya dianggap bodoh atau dungu oleh orang lain;

·         Kemis: MingKEM tinimbang LaMIS yang berarti jauh lebih baik berdiam dan tutup mulut daripada buka mulut dan malah menyebar fitnah dan kepalsuan;

·         Jemuah: JEMbarno wahyuning AllAH yang berarti melapangkan jalan dan waktu untuk sejenak berdoa kepada Tuhan;

·         Setu: SEtyo TUhu yang berarti senantiasa setia dan loyal;

·         Minggu: MINGgirna sing olo GUnakna sing apik/becik yang berarti senantiasa mengesampingkan hal-hal buruk dari kehidupan dan sebaliknya memanfaatkan hal-hal baik dan benar semata.

Lahir di tlatah Purworejo namun bukan dari kalangan seniman, Romo Handi Setyanto Pr mengaku baru memulai mencintai budaya Jawa –dan teristimewa wayang- ketika menjalani tahun rohani di Seminari Tahun Rohani Sanjaya di Wisma Jangli Semarang.

“Oleh Romo Rektor Wisma Sanjaya waktu itu, saya diberi kesempatan untuk boleh mendengarkan siaran wayang kulit dari radio, sementara frater-frater diosesan lainnya justru tidak boleh menyentuh alat-alat hiburan,” katanya menjawab Sesawi.Net di sela-sela pertemuan semi rekoleksi para imam ‘balita’ di Wisma Hening Griya, Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah, pertengahan September 2013.

Minatnya akan seni tradisi wayang semakin terasah dan terampil, justru saat menjadi pastur pembantu paroki Gereja Kroya di Kabupaten Cilacap.  Hingga saat ini, Romo Handi Setyanto Pr sudah berhasil naik pentas memainkan berbagai kisah Injil dalam bentuk adegan wayang kulit sebanyak 33 kali di berbagai tempat di Jawa dan luar Jawa.

Itulah Wayang Wahyu, sebuah genre  pementasan wayang kulit dengan gagrak cerita yang diambil dari kisah-kisah ‘suci’ di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Wahyu. Salah satu perintis penggerak kesenian Wayang Wahyu adalah Romo Wiyono Pr, imam praja diosesan dari Keuskupan Agung Semarang. (Bersambung)

Sumber: Perilaku dan Pitutur a la Jawa (http://iwanmuljono.blogspot.com/2011/10/sura-dira-jayaningrat-lebur-dening.html)

Tautan: Java: narrating the Gospel through Javanese shadow puppet theatre

 

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. unen unen jowo lucu
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: