Makin Kecil

Ayat bacaan: Yohanes 3:30
=====================
“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

makin kecil, rendah hati

Memiliki anggota keluarga atau teman yang punya kedudukan atau pengaruh di negeri ini dianggap sangat menguntungkan. Ada banyak kemudahan yang bisa diperoleh dengan memanfaatkan relasi. Ini sebuah kebiasaan yang sudah menjadi hal lumrah di masyarakat. Ada yang memanfaatkan hubungan yang bisa mendatangkan kemudahan untuk mendapat pekerjaan, ada yang memakainya sebagai backing yang bisa melepaskannya dari jerat hukum, ada pula yang merasa bisa bertindak seenaknya karena ia adalah bagian dari kelompok atau orang-orang yang punya pengaruh besar. Tidak heran mereka-mereka yang sering mengandalkan bentuk seperti ini seringkali bertindak arogan dan merasa dunia ini milik mereka. Konsep pemikiran seperti ini dalam bentuk yang tidak seekstrim diatas  juga menjadi konsep pemikiran dunia. Di jaman modern seperti sekarang ini, dunia menekankan konsep persaingan dan bagaimana mengungguli orang lain, berada di atas mereka. Itulah yang dipercaya akan mendatangkan kesuksesan.

Sebagai orang Kristen, konsep yang seharusnya kita anut bukanlah seperti itu. Dalam konsep Kekristenan kita diminta untuk tetap berada dalam kondisi rendah hati, semakin rendah hati ketika kita semakin tinggi. Ini sebuah konsep yang tentu saja bertentangan dari konsep duniawi, dan mungkin dalam pola pikir masyarakat modern akan dianggap aneh. Tapi itulah sebenarnya yang harus mendasari sikap anak-anak Tuhan. Kita diingatkan dalam Surat Efesus untuk selalu bersikap rendah hati, lemah lembut, sabar dan peduli pada orang lain. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2). Hal seperti ini dipakai sebagai prinsip hidup oleh Yohanes Pembaptis. Bayangkan, ia adalah orang yang dipakai Tuhan untuk mempersiapkan pelayanan Kristus. Ialah yang membaptis Sang Juru Selamat. Kurang apa lagi? Yohanes bisa saja bersikap sombong, karena di antara begitu banyak manusia dirinyalah yang dipakai Tuhan untuk tujuan yang begitu besar ini. Tapi Yohanes tidak bersikap demikian. Baginya prinsip hidup itu adalah seperti ini: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”(Yohanes 3:30). Yohanes mengatakan dengan tegas bahwa dirinya bukanlah Mesias, tapi hanya orang yang diutus untuk mendahului Yesus. “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.” (ay 28). Yohanes memilih untuk tidak merebut kemuliaan yang merupakan milik Tuhan, meski ia merupakan salah satu tokoh kunci yang penting dalam karya penebusan Kristus yang memberikan keselamatan kepada kita.

Hal menarik dalam konsep kerendahan hati ini juga ditunjukkan oleh Paulus. Paulus adalah seorang pekerja Tuhan yang luar biasa. Keteguhan, kekuatan dan keberaniannya sungguh mengagumkan. Dari pembantai orang Kristen, ia berubah secara radikal menjadi penginjil yang sangat besar. Bayangkan jika ia tidak diselamatkan, kemana dia akan berakhir. Tapi ternyata Tuhan memilih dan memakainya, sehingga akhirnya keselamatan pun menjadi bagiannya. Apakah Paulus menyombongkan dirinya? Sama sekali tidak. Mari kita lihat apa kata Paulus mengenai dirinya. “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” (1 Korintus 15:9). Dalam kesempatan lain ia berkata “Di antara seluruh umat Allah, sayalah yang paling hina.” (Efesus 3:8 BIS). Dan dalam surat Timotius, Paulus mengatakan “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (1 Timotius 1:15). I am the sinnest of the sinner. Itu pengakuan Paulus. Kita bisa melihat intensitas yang semakin meningkat dari ketiga perkataan Paulus di atas. Ia menjadi semakin kecil ketika Kristus berada semakin besar di dalam dirinya. Inilah bentuk konsep Kekristenan yang harus kita pegang sebagai anak-anak Tuhan.

Dunia boleh memakai konsep pemikiran yang berbeda, namun sebagai orang yang beriman pada Kristus kita harus memiliki konsep kerendahan hati. Tuhan harus semakin besar, tapi kita harus semakin kecil. Sukses dalam konsep Kekristenan adalah konsep yang ditandai dengan sikap semakin rendah hati, tapi di saat yang sama semakin meninggikan Tuhan. Menjadi pengikut Kristus dan mendapatkan janji keselamatan hendaklah membuat kita bersyukur dan semakin rindu untuk memuliakan namanya, bukan menyalahgunakannya dalam berbagai bentuk kesombongan dan lainnya. Ingatlah bahwa dalam setiap keberhasilan kita, baik dalam pekerjaan maupun pelayanan, semua itu adalah karunia dari Tuhan dan bukan dari kuat dan hebat kita sendiri. Oleh karenanya, tetaplah rendah hati dan terus tinggikan Tuhan.

Ketika Tuhan makin besar, kita harus makin kecil

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply