Makin Kecil (2)

Ayat bacaan: Lukas 9:48b
=====================
“Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

makin kecil, persaingan antara gereja dan anak Tuhan

Kecenderungan merasa diri paling benar merupakan salah satu penyakit yang tersimpan dalam diri manusia. Ada banyak orang yang sulit sekali menerima pendapat orang lain, bahkan ketika dalam hati mereka sebenarnya mereka tahu bahwa itu benar. Rasa tidak mau kalah, egois atau gengsi menghinggapi siapapun, tidak terkecuali di kalangan anak-anak Tuhan sekalipun. Antar gereja saja bisa terjadi persaingan, apalagi di antara jemaat. “Lebih baik ikut gereja saya saja, lebih asyik loh..” kata seorang teman pada suatu ketika. Tidak heran bentuk fanatisme dan rivalitas ini menjadi lahan subur bagi iblis untuk memporak-porandakan sesama anak Tuhan. Itu antar gereja. Di kalangan pelayan-pelayan dan hamba Tuhan dalam satu gereja pun hal seperti ini bisa terjadi. Jika tidak hati-hati, pada suatu ketika kesombongan bisa datang, dan melayani Tuhan pun seakan memiliki tingkatan kepentingan. Ada yang lebih penting, ada yang cukup penting, ada pula yang kurang penting. Tapi apakah benar seperti itu pandangan Tuhan? Saya percaya tidak. Seorang penerima tamu tidak kurang penting dibandingkan pengkotbah. Seorang tim multimedia tidak kalah perannya dibanding worship leader. Semua ini haruslah merupakan kesatuan yang bersinergi dan harmonis jika ingin menghasilkan pelayanan yang baik. Tidak boleh ada satupun yang memandang rendah satu sama lain, karena apapun bentuknya, sekecil apapun itu, semua pelayanan yang dilakukan karena mengasihi Tuhan dengan segenap hati akan dihargai sangat besar oleh Tuhan. Sebaliknya sepenting apapun jabatan dalam pelayanan, apabila hanya untuk memegahkan diri dan ingin terlihat hebat, maka itu tidak akan bernilai apa-apa di mata Tuhan.

Menjadi murid-murid Yesus yang senantiasa mengikuti setiap langkah kakiNya pastilah istimewa. Bayangkan dari sekian banyak manusia, hanya ada 12 yang dipilih. Karenanya, pada suatu ketika mulailah mereka meninggikan diri. Mereka saling berdebat,bertengkar siapa diantara mereka yang menjadi murid terbesar. “Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.” (Lukas 9:46). Mereka lupa bahwa anugerah luar biasa yang mereka terima seharusnya menjadikan mereka bersyukur dan lebih giat lagi bekerja sama melakukan pekerjaan-pekerjaan Ilahi bersama Kristus. Tapi yang terjadi, mereka mulai diliputi rasa tinggi hati, merasa satu lebih istimewa dari yang lain. Maka mereka pun bertengkar. Yesus mengetahui hal itu dan menegur mereka lewat seorang anak kecil. “Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya” (Lukas 9:47). Lalu Yesus pun berkata kepada para murid: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku.” (ay 48a). Anak kecil seringkali tidak dianggap banyak orang, apalagi ketika rasa tinggi hati menguasai diri. Maka Yesus pun mengingatkan mereka untuk menyambut siapapun, anak kecil, dewasa, orang tua, kaya dan miskin, siapapun itu, hendaklah disambut dengan kasih dalam nama Yesus. Para murid diingatkan untuk meninggalkan perdebatan mereka yang berasal dari rasa tinggi hatinya, dan segera kembali kepada tugas-tugas mereka, kepada tujuan semula kenapa mereka dipanggil. Dan Yesus menutup kalimatnya dengan “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (ay 48b).

Peringatan ini berlaku pula bagi kita semua. Jika kita tidak menjaga diri kita dengan baik, kita pun bisa terjebak pada arogansi dan gengsi untuk merasa diri kita jauh lebih baik dari orang lain. Rasa seperti ini bisa membuat kita lupa apa tujuan kita dalam melayani, apa isi Amanat Agung Kristus bagi kita semua, lalu kemudian sibuk meninggikan diri, bermegah dan merasa bahwa kita adalah yang terbesar sehingga porsi kita pun harus besar pula dalam pelayanan. Jika tidak, maka melayani pun tidak lagi sepenuh hati, bahkan mungkin pindah ke gereja lain menjadi alternatif berikut. Ini sudah tidak lagi sejalan dengan apa yang difirmankan Tuhan. Semakin kita meningkat, seharusnya kita semakin rendah hati. Semakin banyak kita dipakai Tuhan, maka kita pun seharusnya semakin kecil, sementara Tuhan harus semakin besar. Itulah konsep yang sesuai dengan nilai-nilai kekristenan. Ketika kita memegang sebuah jabatan, baik dalam pekerjaan ataupun pelayanan, itu bukan berarti bahwa kita menjadi penguasa dunia yang bisa bertindak semena-mena dan harus selalu dilayani. Kata Yesus “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” (Markus 10:44). Yesus tidak sekedar bicara saja, tapi lewat kehadiranNya di muka bumi ini pun Dia telah menunjukkan keteladanan mengenai hal itu. Dan itu pula yang kemudian diingatkan Yesus. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (ay 45).

Sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus, sudah saatnya kita bersinergi dengan harmonis, saling dukung, saling bantu dan selalu saling memberikan yang terbaik buat Tuhan dalam pelayanan kita. Kita harus mengenakan kasih dalam apapun yang kita lakukan. Jangan beri tempat bagi egoisme, arogansi dan gengsi untuk menguasai diri kita. Apapun status anda dalam pelayanan saat ini sesungguhnya sangat berharga di mata Tuhan jika semua dilakukan demi kemuliaan Tuhan, sekecil apapun itu. Jadilah pribadi-pribadi yang rendah hati, yang akan selalu semakin kecil ketika Tuhan memakai kita lebih dan lebih lagi, dimana di saat yang sama Tuhan akan semakin ditinggikan. Jangan mencontoh sikap para murid ketika itu yang mulai tergoda untuk kemegahan diri dan merasa lebih hebat dari yang lain, karena sesungguhnya jika kita bisa melakukan sesuatu hari ini, semua itu semata-mata berasal dari Tuhan dan bukan karena kehebatan kita saja. Yohanes pembaptis tahu itu, dan ia tahu bagaimana harus memposisikan diri menurut firman Tuhan. “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30). Lalu seperti yang kita lihat kemarin, Paulus pun tahu bahwa jika ia sudah diselamatkan dari kesesatannya membantai orang-orang Kristen, maka semua itu selayaknya ia syukuri, dan membuatnya semakin giat lagi bekerja untuk Tuhan apapun resikonya. Tidak ada alasan apapun baginya untuk meninggikan diri meski pelayanan Paulus pada saat itu sungguh luar biasa. (baca 1 Korintus 15:9, Efesus 3:18 dan 1 Timotius 1:15). Seperti inilah kita seharusnya berlaku. Jangan mencuri kemuliaan Tuhan lewat kesombongan dan ketinggian hati. Ketika kita semakin dipakai Tuhan, bersyukurlah untuk itu dan jadilah semakin kecil, semakin rendah hati sementara tinggikan Tuhan lebih lagi lewat semua yang kita kerjakan. Karenanya jangan hanya ingin mendapatkan posisi-posisi yang tinggi dalam pelayanan, dan menganggap rendah posisi dibawahnya, karena sesungguhnya apapun yang kita kerjakan dengan segenap hati karena kita mengasihi Tuhan, meski sekecil apapun itu, semua itu sama berharganya di mata Tuhan. Jadilah orang yang semakin hari semakin rendah hati, teruslah melayani dengan segenap hati disertai niat yang benar, dan pakailah semua itu untuk memuliakan Tuhan lebih lagi.

Siapa yang paling kecil, dialah yang terbesar

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply