Mahalnya Kesempatan Makan Malam Bersama Keluarga

makan bersama

Makan malam bersama di rumah yang diikuti seluruh anggota keluarga, khususnya orang tua dan anak-anaknya sekarang menjadi momentum yang “mahal”, kata pemerhati keluarga Prof Agnes Widanti.

“Kenapa mahal, karena hampir sangat sulit sekarang ini mempertemukan seluruh
anggota keluarga hanya untuk makan malam bersama. Masing-masing anggota keluarga disibukkan urusannya sendiri,” katanya di Semarang, Sabtu.

Meski sederhana, kata dia, makan malam bersama seluruh anggota keluarga merupakan momentum paling efektif untuk merekatkan seluruh anggota keluarga karena kehangatan yang tercipta dalam suasana kebersamaan itu.

Oleh karena itu, kata dia, sekarang ini nilai kebersamaan hampir tidak ada dalam keluarga sehingga menimbulkan berbagai efek luar biasa, misalnya terjadi keretakan hubungan antaranggota keluarga, seperti anak dengan ibunya.

“Efeknya besar sekali. Makan malam itu bisa menjalin kerekatan keluarga, apa saja bisa diomongkan dalam momentum kebersamaan itu. Sekarang ini kan banyak orang tua mengeluhkan anak mulai sulit dikontrol,” katanya.

Menurut Ketua Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jawa Tengah itu, suasana kebersamaan dalam keluarga, misalnya dengan makan malam bersama harus dibangun setiap hari, tidak bisa seminggu sekali atau sebulan sekali.

Namun, kata Guru Besar Universitas Katolik Soegijapranata Semarang itu, sayangnya justru orang tua yang menciptakan kondisi seperti itu, misalnya menyibukkan anak dengan berbagai kegiatan kursus atau les.

“Hari ini anak kursus, besok kursus, besok lagi les, kapan ketemunya? Belum lagi perkembangan teknologi juga membuat orang mulai diasyikkan dengan ’update’ status di jejaring sosial, dan sebagainya,” katanya.

Padahal, kata dia, kurangnya kebersamaan dalam keluarga di samping menimbulkan efek keretakan hubungan antaranggota keluarga juga menimbulkan dampak yang lebih besar, dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat.

“Sistem pendidikan sayangnya juga kurang menonjolkan penanaman nilai-nilai kekeluargaan. Siswa dididik seolah-olah semuanya serba instan. Sementara di keluarga, anak-anak tidak pula mendapatkannya,” katanya.

Oleh karena itu, seiring dengan momentum Hari Keluarga Nasional yang diperingati setiap 29 Juni, ia mengingatkan kalangan orang tua bahwa sekarang ini memiliki tugas berat untuk menjaga kebersamaan seluruh keluarga.

“Teknologi semakin maju, tidak masalah. Orang asyik dengan kemajuan teknologi tidak masalah. Namun, nilai-nilai dalam keluarga, seperti budi pekerti, saling menghormati, dan menyayangi tidak boleh dilupakan,” kata Agnes.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: