Ludruk dan Sop Buntut, Menu Andalan di Charity Bazaar 2015 Suriname (7)

PROGRAM tahunan Kedutaan Republik Indonesia di Paramaribo – Suriname salah satunya adalah Charity Bazaar. Kegiatan Charity Bazaar ini biasanya diadakan pada rentang waktu bulan Mei-Agustus sebelum acara HUT RI.

Program ini sebenarnya adalah merupakan kegiatan para ibu DWP (Dharma Wanita Persatuan) dan KBRI Paramaribo sebagai supporting untuk berlangsungnya acara tersebut. Program ini biasanya diadakan di area pelataran KBRI Paramaribo dan hanya berlangsung sehari, dari pagi hingga sore hari.

Baca juga:  Danau Brokopondo, Cahaya Terang dan Populasi Ikan Piranha di Suriname (6)

Suasana Charity Bazaar di halaman Kedubes RI di Ibukota Panamaribo, Suriname, sebelum acara berlangsung.

Untuk format Charity Bazaar ini,  pada awalnya saya nol pengalaman. Sebenarnya apa itu Charity Bazaar? Seperti apa pula bentuk acaranya? Tapi beruntungnya saya pada kegiatan  Charity Bazaar tahun 2015 silam itu, ketika saya dipercaya untuk menangani bidang dekorasi.

Ini adalah tugas pertama saya. Namun,  jujur saja itu membuat saya pusing tujuh keliling. Mau dekor seperti apa dan bagaimana caranya semua masih aku raba-raba. Intinya tetap warna merah putih harus ada di dekorasi Charity Bazaar tahun 2015 ini.

Apa itu charity bazaar?

Langkah awal yang kulakukan adalah mencari referensi Charity Bazaar tahun-tahun sebelumnya. Ini  karena kegiatan itu merupakan bagian program tahunan dari ibu-ibu DWP dan semua itu terdokumentasikan.  Saya mengambil referensi Charity Bazaar tahun 2013 dan 2014.

Untuk kedua Charity Bazaar tersebut , dekorasi yang kutemukan tidak jauh berbeda. hanya kain warna merah putih yang menghiasi panggung bagian atas, kembar mayang di depan panggung, spanduk tulisan “Charity Bazaar” dan pemukulan gong untuk pembukaan.  Sedangkan di tiang masuk Aula Pancasila KBRI Paramaribo selalu dipasang dua buah payung Bali.

Berhubung ini merupakan misi  masih pertama kali dipercaya menangani bidang dekorasi, saya masih takut-takut melakukan eksplorasi t desain dan dekorasi panggung. Selain itu,  dalam rapat kepanitian pun, kesannya semua arahnya tidak banyak merubah dekorasi yang lama. Untuk pertama kali okelah, saya ingin mengikuti apa yang sudah ada dan pernah dilakukan.

Kembar mayang

Untuk pembuatan kembar mayang, syukurlah bahwa salah satu anggota ibu-ibu DWP ada yang ahli dalam per-kembang-an. Beliau bernama Ibu Nursi.  Ia mempunyai sebuah toko bunga dan toko pakaian khusus batik dari Indonesia.

Ibu Nursi ini sebenarnya adalah orang Indonesia yang sudah menetap lama di Suriname. Membuat kembar mayang adalah pekerjaan yang membutuhkan skill tersendiri. Karena itu, saya lalu minta bantuan bu Nursi dan ibu-ibu yang lainnya untuk membuat kembar mayangnya; sementara saya  akan menyiapkan bahan-bahannya seperti gedebok pisang.

 Pohon pisang memang banyak dijumpai di Suriname, karena buah pisang merupakan salah satu materi ekspor utama negara ini. Distrik Suriname yang mempunyai hamparan perkebunan pisang yang sangat luas adalah District Nickerie. Namun walaupun begitu, saya yang masih baru dan awam di sini dibuat  bingung  bagaimana bisa mencari gedebok pisang  untuk membuat kembar mayang.

Mosok saya harus pergi ke Distrik Nickerie yang jauhnya kurang lebih empat  jam perjalanan naik kendaraan. Untung saja ada Ibu Anam, salah satu anggota DWP,  yang akhirnya merelakan pohon pisangnya saya potong.

Para pengunjung Charity Bazaar di Suriname. (Nanang Sumaryadi)

Ludruk Suriname dan sop buntut

Dalam Charity Bazaar ini, ada beraneka macam pertunjukan seperti tarian Indonesia, fashion show dan ludruk Suriname yang bernama cabaret. Selain itu, di sepanjang area pelataran KBRI Paramaribo ada banyak stand jualan, entah itu stand jualan makanan ataupun non makanan.

Tarian Indonesia di dalam Charity Bazaar 2015 dipersembahkan oleh para penari KBRI Paramaribo. Semua penarinya  adalah warga negara Suriname,  kecuali pelatihnya, Ibu Kadek,  yang merupakan warna negara Indonesia. Ia sudah lama kerja di KBRI sebagai pelatih tari.

Untuk fashion show, biasanya yang ditampilkan adalah pakaian-pakaian yang menjadi tema Charity Bazaar saat itu. Namun saya harus jujur bahwa  saya telah lupa nama tema Charity Bazaar 2015 ini. Sedangkan ludruk Suriname alias cabaret, biasanya yang selalu mengisi adalah grup Does Cabaret.

Biasanya, dialog dalam cabaret ini menggunakan bahasa campur-campur antara bahasa Belanda dan bahasa Jawa ngoko. Tetapi spesial untuk Charity Bazaar 2015, Does Cabaret menggunakan fully  bahasa Jawa ngoko. Ini justru menjadikan banyak orang bisa tertawa terpingkal-pingkal.  Bukan hanya orang Suriname, tetapi orang Indonesia yang berada di Suriname dan hadir di Charity Bazaar sampai ikut jumpalitan ketawanya.

Di Charity Bazaar 2015 ini,  stand makanan masih mendominasi. Dan banyak jenis makanan yang dijual di acara ini. Semuanya adalah makanan asli asal  Indonesia. Dan yang paling saya sukai adalah sop buntut.

Sop buntut dari Stand DWP ini sangat enak sekali dan paling banyak digandrungi oleh pengunjung. Selain itu, yang pasti ada sauto, pecel, bakwan, gethuk, gado-gado, dll. Untuk stand non makanan,  mayoritas masih jualan pakaian batik.

Berdasarkan informasi dari banyak orang Suriname, Charity Bazaar ini merupakan suatu acara yang selalu dinantikan oleh orang Jawa Suriname selain INDOFAIR. Bagi mereka ini adalah sebuah obat kangen mereka akan tanah leluhurnya , walau hanya sekedar mencicipi makanan Indonesia dan membeli pakaian dari produk-produk Indonesia.

Nanang Sumaryadi Alumnus Seminari Menengah Mertoyudan, kini menjadi Asisten Pribadi Duta Besar RI untuk Suriname Bpk. Dominicus Supratikto.

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply