Lucu Nian: Penghijauan di Kawasan Hutan Lebat Kec. Elikobel, Pedalaman Merauke

hutan di tahune tasmaniaSEPANJANG jalan 200 km dari ‘pusat kota’ di Merauke –wilayah Indonesia bagian timur paling selatan di Papua– menuju Kecamatan Elikobel yang ada hanyalah barisan hutan super lebat. Jadi, rasanya aneh saja ketika pada tanggal 8 Desember 2014 lalu, umat Katolik Paroki Bupulkampung di ujung paling timur menjelang perbatasan dengan PNG diundang sebuah instansi pemerintahan. Acaranya: […]

hutan di tahune tasmania

SEPANJANG jalan 200 km dari ‘pusat kota’ di Merauke –wilayah Indonesia bagian timur paling selatan di Papua– menuju Kecamatan Elikobel yang ada hanyalah barisan hutan super lebat. Jadi, rasanya aneh saja ketika pada tanggal 8 Desember 2014 lalu, umat Katolik Paroki Bupulkampung di ujung paling timur menjelang perbatasan dengan PNG diundang sebuah instansi pemerintahan.

Acaranya: penghijauan kembali alias reboisasi.

Inilah kisahnya. Puluhan penduduk Kec. Elikobel yang kawasanya masih didominasi hutan super lebat diajak berkumpul di ‘pusat kota’. Menu utamanya: ceramah tentang pentingnya reboisasi di kawasan itu.

Usai pengarahan yang berbungan-bunga, maka di akhir ceramah sang pejabat pemerintah lalu merekomendasikan: ayo beramai-ramai tanam pohon. Go green!

Mereka diimbau segera menanam bibit pepohonan setinggi kira-kira 20 cm di sepanjang jalan utama yang melintasi kawasan Kecamatan Elikobel.

Ada yang menarik untuk kemudian saya renungkan.

Hidup ini sepertinya penuh sandiwara, bukan? Mosok gak aneh, ngajak reboisasi di sebuah kawasan hijau dengan jutaan pepohonan besar-besar di sepanjang jalan? Itu pun penduduk diberi bibit tanaman setinggi 20cm; jadi saya bertanya: akankah bibit-bibit kecil itu akan menggantikan jutaan pepohonan yang masih tegak berdiri menjulang tinggi?

Saya berpikir positif ke masa depan. Bukankah lebih bagus dan sustainable kalau kawasan hutan lebat ini dilindungi dari ambisi para investor yang lalu lalang menebangi hutan untuk kemudian menanami kawasan ini dengan kelapa sawit?

Tuhan datang bukan untuk orang sehat, melainkan untuk menemui orang sakit. Menjadi dagelan yang tidak lucu, kalau pada masa Adven ini kita menantikan kedatangan Tuhan untuk orang sehat. Jadi, rasanya memang perlu bijak dalam bertindak agar tindakan kita tetap sasaran dan berguna.

Kredit foto: Ilustrasi kawasan hutan di Tasmania (Royani Lim/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply