Luas Daya Jangkau Sinyal Kasih (2)

(sambungan)

Paulus juga mengingatkan agar kiranya sebagai orang-orang percaya kita jangan sampai meletakkan diri secara eksklusif dan menganggap orang-orang lain sebagai musuh yang sudah sepantasnya binasa. Dia menegaskan bahwa apabila bagi kita keselamatan itu sudah dianugerahkan, hal yang sama pun berlaku bagi mereka yang lain pula.  “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” (Roma 10:12). Ia lebih lanjut mengatakan, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” (ay 13). Ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan memang didesain Tuhan untuk berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali.

Tetapi yang harus kita ingat adalah sejauh mana peran kita sebagai orang percaya. Sebab “..bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (ay 14). Sesungguhnya ini penting untuk kita renungkan. Apakah dengan bersikap ekslusif kita bisa mengenalkan orang kepada pribadi Kristus dan membawa mereka untuk mengerti tentang konsep keselamatan? Apakah ada orang yang bisa mengenal Kristus jika tidak ada yang memberitakannya? Apakah itu hanya tugas segelintir orang dan kita tidak perlu berperan didalamnya? Perhatikan, ini seharusnya menjadi tugas kita, orang-orang yang mengemban Amanat Agung sesuai yang digariskan Kristus sendiri. Dengan menganggap diri sendiri paling layak sedang yang lain tidak itu artinya kita memasang batas lingkaran kasih dengan sinyal yang begitu sempit daya jangkaunya. Dan apabila ini kita lakukan, maka kita tidak akan pernah menjalankan tugas kita seperti yang diperintahkanNya.

Yesus berkata bahwa bukan saja orang yang baik yang mendapat anugerah Tuhan, tetapi orang jahat pun tidak luput dari perhatian dan kepedulianNya. “..kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45). Perhatikan pula apa yang dikatakan Yesus selanjutnya.  “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” (ay 46-47). Semua ini jelas menjadi peringatan bagi kita agar tidak bersikap eksklusif dan mementingkan diri sendiri. Jelas, lingkaran atau daya jangkau kasih kita harus diperlebar seluas mungkin. Bukan cuma sampai menjangkau keluarga atau teman-teman saja, tetapi orang asing yang tidak kita kenal sekalipun seharusnya mampu merasakan jamahan Tuhan lewat diri kita. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi? Mengalirkan kasih kepada orang lain sesungguhnya sangat penting, karena “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8).

Kalau begitu, siapkah kita memperluas daya jangkau kasih kita? Maukah kita memiliki sinyal kasih yang mampu menerobos tembok-tembok pembatas atau penghalang yang selama ini membuat kita enggan untuk menjangkau orang-orang asing? Mampukah kita keluar dari zona nyaman kita dan mulai belajar untuk berinteraksi dengan orang dalam jarak jangkau yang lebih luas? Maukah kita membangun persahabatan dengan orang-orang yang berbeda suku, agama, ras, budaya, status sosial dan sebagainya, atau kita sama saja dengan orang diluar sana yang bersikap eksklusif dan menganggap berhubungan dengan orang lain di luar mereka sebagai sesuatu yang terlarang? Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita renungkan, sebab keselamatan bukan hanya milik kita semata, tetapi kesempatan yang sama juga Tuhan berikan kepada orang-orang lain. Jika kita bisa selamat, mereka pun bisa. Jika kita bersyukur mendapat kesempatan untuk sebuah kehidupan kekal, kenapa kita tidak berusaha agar lebih banyak orang lagi menerima anugerah ini? Kalau Tuhan sudah mengasihi dan memberkati kita tanpa batas, kenapa kita harus membatasi diri dalam mengasihi orang lain? Yesus sudah mengajarkan kita untuk mengasihi sebagaimana Dia mengasihi kita. Kita bahkan harus bisa mengasihi bukan hanya kepada orang yang baik terhadap kita saja, tetapi harus bisa menjangkau orang-orang yang jahat. Tidak gampang, tapi seperti itulah seharusnya luas daya jangkau kasih dari umat Tuhan.

Di pundak kita tugas itu disematkan. Sekarang saatnya bagi kita untuk memperluas pergaulan kita agar bisa menjangkau mereka yang masih berada jauh diluar keselamatan. Seberapa banyak kita bisa menjadi berkat bagi sesama akan sangat ditentukan dari seberapa luas jangkauan kasih yang kita miliki.

Kuatnya sinyal kasih harus mampu menjangkau secara luas, tidak berhenti hanya pada kalangan sendiri saja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: