Luas Daya Jangkau Sinyal Kasih (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 11:18===========================”Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”Semua provider mengaku punya sinyal kuat, tapi kenyataan di lapangan hanya sedikit yang mampu …

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 11:18
===========================
“Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”

Semua provider mengaku punya sinyal kuat, tapi kenyataan di lapangan hanya sedikit yang mampu berfungsi baik secara luas. Rumah saya terletak di atas gunung dan letaknya bukanlah ditengah kota. Di awal-awal pindah dahulu, saya sempat kerepotan karena tidak satupun koneksi internet yang bisa dipakai disini. Saya membeli kartu dari bermacam-macam provider untuk dicoba, tapi jangankan internetnya, sinyal untuk menelepon saja kebanyakan ngedrop dan tidak terpakai. Lucunya, semua gerai resmi dari provider itu masih saja dengan yakinnya berkata bahwa produknya pasti bisa berjalan baik dimana saja.

Kasih seharusnya bisa punya sinyal yang kuat dengan daya jangkau yang sangat luas. Seperti halnya provider jaringan diatas, ada banyak orang yang mengaku punya daya jangkau kasih yang luas tapi pada kenyataannya mandek dalam jangkauan yang sangat sempit. Mari kita renungkan, sudah sejauh mana luasnya daya jangkau kasih kita untuk menyentuh orang lain? Apakah masih berkutat dalam area sempit, hanya diantara keluarga, sanak saudara atau kerabat dekat, atau sudah lebih luas hingga menyentuh orang-orang di lingkaran yang lebih jauh? Jangan-jangan sinyal kasih kita sudah lemot atau bahkan mati meski masih di area kerabat dekat atau keluarga.

Pada jaman ketika jemaat mula-mula mulai tumbuh, mereka awalnya hidup dengan jangkauan kasih yang sempit. Sebagai orang Yahudi, mereka merasa keselamatan hanyalah milik mereka dan akibatnya mereka merasa superior dan memandang rendah orang-orang yang berada diluar lingkar mereka. Masuk ke rumah orang non Yahudi saja sudah dianggap haram, apalagi makan dan membaptis mereka. Itu seperti melakukan dosa besar di mata mereka. Kita bisa membaca gambaran ini dengan jelas dalam Kisah Para Rasul 11:1-18. Disana kita bisa melihat bagaimana mereka menghujat Petrus yang pergi ke rumah orang-orang bukan Yahudi dan membaptis mereka. Mereka menganggap itu sebagai masalah besar, sampai-sampai Petrus harus menjelaskan panjang lebar mengapa dia melakukan itu. Apa yang dijelaskan Petrus?

Petrus menjelaskan bahwa masalah halal dan haram itu adalah urusan Tuhan, sehingga kita tidak boleh mengubahnya sesuai pemikiran kita. Suara Tuhan turun kepada Petrus mengatakan hal itu. “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!” (Kisah Para Rasul 11:9). Tidak hanya sekali, hal yang dialami Petrus itu ternyata diulang sampai tiga kali. (ay 10). Pesan yang diulang-ulang menunjukkan bahwa apa yang diingatkan Tuhan ini sangatlah penting mengingat kecenderungan manusia yang begitu mudah menghakimi dan menganggap diri paling benar. Ketika Petrus menjumpai orang-orang non Yahudi dan masuk ke rumah mereka, kita kemudian melihat bahwa lawatan Roh Kudus turun atas mereka, sama seperti kepada orang-orang Yahudi. “Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.” (ay 15).

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa ternyata lawatan Roh Kudus Tuhan curahkan secara sama kepada setiap orang, mau Yahudi atau bukan. Petrus menyaksikan hal ini secara nyata, dan jelas hal ini merubah paradigma yang selama ini ia pikir sebagai sesuatu yang benar. Petrus pun berkata “Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?” (ay 17). Dan ketika hal ini ia jelaskan kepada orang-orang Yahudi yang menghujatnya, mereka pun akhirnya bisa mengerti akan hal itu. “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” (ay 18).

Tuhan tidak tertarik untuk bersikap eksklusif. Semua manusia berasal dariNya, Dia sendiri yang menciptakan secara istimewa seperti gambar dan rupaNya sendiri. Kalau begitu kenapa Tuhan harus membeda-bedakan ciptaan teristimewaNya? Yesus turun ke dunia membawa keselamatan bukan hanya untuk segelintir orang saja, tetapi untuk semua orang tanpa terkecuali. Dia bahkan terus mengetuk pintu hati setiap manusia agar mau mendengarkan panggilan keselamatan. “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Wahyu 3:20).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply