Lonceng Raksasa, Gema ‘Suara Tuhan’ Bergaung Keras di Panai

“AKULAH suara Tuhan, aku akan menggemakan pujian dari satu kota ke kota yang lain di Panay, sehingga umat beriman pengikut Kristus berdatangan ke rumah Tuhan untuk memperoleh rahmat surgawi.”

Kurang lebih itu terjemahan bebas saya dari kalimat berbahasa Spanyol yang tertera di sebuah lonceng raksasa yang berada di menara Gereja St. Monica tak jauh dari kota Roxas, Panay, Filipina.

Saya terkagum-kagum selama melihat lonceng raksasa ini.

Terberat ketiga

Konon ini merupakan lonceng terbesar nomor tiga di dunia.

Lonceng ini dibuat pada tahun 1878 dengan berat 10,400 kg (sepuluh ton lebih).Saya senang sekali bisa memeluk lonceng yang tingginya 1,5 meter. Bahkan saya bersama dua teman bisa bernaung di dalamnya.Kalau pun ditambah dua orang lagi masih muat.

Dari menara yang sudah agak berlumut dindingnya inilah, suara lonceng digemakan. Suara itu menggema mengundang setiap orang katolik datang ke gereja.

Tradisi gereja khususnya Abad Pertengahan, lonceng gereja dibunyikan untuk memberitahu bahwa akan ada perayaan ekaristi. 

Loceng di Panay 2

Umumnya, memang lonceng juga untuk mengajak berdoa Angelus atau Malaikat Tuhan pada pukul 6 pagi, 12 siang dan 6 sore. Di beberapa tempat lonceng dibunyikan untuk memberi kabar kematian. Namun lonceng di Gereja St. Monica ini cukup dibunyikan untuk mengundang umat datang misa.

Teman saya mengatakan, “Ketika lonceng tali ini ditarik, dan lonceng berbunyi, suaranya akan sampai ke kota Roxas.” Wow.

Roxas

Kota Roxas itu kota kecil yang tenang peninggalan kolonial Spanyol.

Dulunya, Roxas merupakan salah satu stasi dari Gereja St. Monika tetapi karena perkembangan perekonomian dan pemerintahan, akhirnya Roxas lebih maju.

Gereja di Roxas sekarang ini menjadi katedral (tempat uskup). Jarak dari kota ini menuju Gereja St. Monica ada sekitar  7,5 km dan dapat ditempuh dengan mobil selama 15 menit.

Maka bisa dibayangkan kekuatan gema suara Si Loceng Raksasa ini.

Lonceng ini berdiri kokoh di sisi kiri (selatan) Gereja St. Monica. Sedang, sisi kanan bangunan gereja, sekitar 10 langkah, akan ditemukan bangunan biara peninggalan Agustinian yang kini ditempati sebagai pastoran, museum, dan kantor paroki.

Lonceng di Panay 3

Dari atas tempat lonceng ini ditahtakan terlihat pemandangan yang indah di seputarnya: sawah, saluran sungai di muka gereja, alun-alun kecil dan jalan raya yang tidak terlalu padat.Terlihat juga di belakang gereja, sebelah utara, sebuah sumur peninggalan zaman Spanyol.

Perlu diketahui dia tidak sendiri karena Si Lonceng raksasa ini ditemani oleh lonceng-lonceng kecil ainnya.

Gema nada surgawi

Saya menghitungnya, ada 8 lonceng kecil yang mengitari Si Lonceng Raksasa. Sehingga kalau semua dibunyikan, hmmmm seperti sensasi surgawi yang memberikan pengalaman tremendum dan fascinosum.

Ini memang gema dari suara surgawi.

Saya sempat membuka-buka buku kunjungan, saya merasa terhormat karena tidak tertulis pengunjung dari Indonesia di situ dari tahun sebelumnya.

Ini kesempatan saya menorehkan “Indonesia” di buku tamu.Bisa dimaklumi mengapa tempat ini sepertinya tersembunyi, karena memang Si Lonceng Raksasa ini berada jauh dari kota Manila.

Saya harus menuju ke Kepulauan Panay (berada di Visayas).Dengan pesawat, para peziarah bisa menuju Ilo-ilo atau ke Kalibo. Baru kemudian dengan jalur darat menuju Roxas yang ditempuh dengan mobil 3 jam dari Ilo-Ilo atau 1,5 jam dari Kalibo. 

Mengunjungi gereja buatan abad ke 16.

Ini merupakan peziarahan iman. Kendati ketika duduk berdoa tercium bau kelelawar (maklum di salah satu ujung bangunan bergelantungan kelelawar), tetapi aura ilahi dapat dirasakan. Dan ketika Si Lonceng Raksasa itu dibunyikan, kembali peziarah akan terhanyut dalam doa yang hening.  Loceng di Panay 1

Bagi saya, berkunjung ke gereja-gereja tua, semacam Gereja St. Monica yang bercorak barok itu juga ziarah. Selain menilik sejarah kehadiran Gereja di tempatitu, juga menjadi saat untuk mengagumi karya umat beriman dalam mengekspresikan imannya.

Seperti tertulis di Lonceng Raksasaitu: “…Ke rumahTuhan untuk memperoleh rahmat surgawi.”

Saya senang bisa memeluk Si Raksasai ni di mana di Indonesia merupakan hal yang tak mudah ditemukan: sebuh lonceng dengan mutu suara seperti suara Tuhan.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: