Logika Manusia vs Kuasa Tuhan

Ayat bacaan: Kejadian 18:14a
=======================
“Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?”

logika vs kuasa Tuhan

Hari ini saya teringat ketika pertama kali air mineral dalam kemasan masuk ke Indonesia. Pada waktu itu ibu saya tertawa dan berkata bahwa menurutnya bakal sulit bagi air mineral ini untuk berhasil. “Siapa yang mau membeli air putih mahal-mahal dalam botol sementara kita bisa gratis memperolehnya?” katanya pada waktu itu. Tetapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Kita melihat begitu banyak merek-merek bermunculan, dan hampir semuanya bertahan di pasaran. Ini menunjukkan tingginya permintaan atau kebutuhan akan air mineral dalam kemasan botol plastik. Bahkan ibu saya sendiri belakangan menjadi salah satu konsumennya. Air yang terus tercemar dan ketidak tahuan kita akan kebersihan air putih di warung atau gerai makanan membuat kita kemudian lebih memilih air mineral dalam botol ini. Kita bisa mendapatkannya dengan mudah dimana-mana, bahkan di lampu merah sekalipun, bahkan kita mudah memperoleh air mineral yang sudah didinginkan terlebih dahulu. Pada saat pertama kali muncul, saya pun berpikiran seperti ibu saya. Mana mungkin orang mau beli air putih dengan harga seperti itu? Namun keraguan itu pun patah melihat kenyataan sekarang.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan ide yang mungkin awalnya kita anggap tidak masuk akal atau bahkan konyol. Mungkin ada di antara teman-teman yang idenya pernah ditertawakan orang lain? Saya pernah mengalaminya beberapa kali. Orang terbiasa memakai logikanya untuk menghakimi orang lain, sehingga tidak jarang itu membuat yang punya ide menjadi patah semangat dan membatalkan rencananya. Dalam batas-batas tertentu mendengar masukan dari orang lain itu bagus. Tetapi sekali lagi, jika kita yakin dengan ide kita dan kita mendapatkan lampu hijau dari Tuhan setelah kita bawa dalam doa, mengapa tidak? Puji Tuhan saya sudah membuktikan sendiri beberapa kali bahwa bersama Tuhan segalanya mungkin. Apa yang pernah ditertawakan orang, yang mereka katakan no chance, zero chance atau bahkan stupid and useless idea kemudian menjadi sebuah kesuksesan. Dengan logika manusia bisa saja apa yang kita lakukan terlihat bodoh, tetapi ingatlah bahwa logika manusia itu terbatas kemampuannya dalam menilai sesuatu.

Sarah pernah melakukan hal yang sama. Ketika ia sudah berusia diujung senja, ia dijanjikan Tuhan akan melahirkan anak. Itu tentu sebuah ide yang tidak masuk akal secara logika. Mana ada nenek-nenek bisa melahirkan lagi? Menopause saja sudah berpuluh tahun yang lalu. Dikatakan: “Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.” (Kejadian 18:11). Sara yang sudah nenek-nenek pun kemudian kita ketahui sampai tertawa dalam hati mendengarnya. Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?” (ay 12). Tetapi meski ia menyangsikan dalam hatinya, Tuhan tahu itu. “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: “Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?” (ay 13). Dengan kata lain, Tuhan berkata, mengapa memakai logika manusia dalam menghadapi Aku, Tuhan yang punay kuasa di atas segalanya? Lalu Tuhan pun berkata: “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki.” (ay 14). Is there anything too hard, too wonderful, too difficult, or impossible to the Lord? Tentu saja tidak. Kita tahu kemudian bahwa janji Tuhan itu menjadi kenyataan. Tepat seperti apa yang Dia katakan kepada Abraham dan juga kepada Sara.

Sebagai manusia kita sering menganggap kita mahluk yang paling tahu semua hal. Kita menganggap rasio atau logika berada diatas segalanya. Kita menganggap diri kita paling pintar, paling benar, dan dengan mudah bisa menilai orang lain. Kita bisa saja seenaknya berkata sesuatu yang kemudian berdampak besar pada masa depan orang lain, menghancurkan cita-cita dan masa depannya. Tetapi sesungguhnya ada begitu banyak hal yang berada diluar jangkauan kemampuan pikir dan logika kita. Dalam banyak kesempatan di Alkitab kita bisa melihat bagaimana Tuhan menjungkirbalikkan kesombongan logika manusia. Selain Sara, Daud yang melawan raksasa Goliat pernah mengalaminya. Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego pun demikian. Atau tanya pada Nuh, maka ia pun bisa bercerita banyak mengenai bagaimana Tuhan mengatasi apa yang dianggap mustahil di pikiran manusia. Yesus sendiri kemudian mengingatkan kita: “..Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Mengapa bisa seperti itu? “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Lukas 1:37). Dalam hal-hal tertentu adalah baik jika kita memakai nalar kita dalam menyikapi sesuatu. Tentu tidak baik juga jika kita berbuat segala sesuatu seenaknya tanpa pikir panjang. Kita perlu berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan, bahkan penting pula untuk mendengar masukan dari orang lain. Tetapi kita juga harus tahu bahwa Tuhan sudah mengingatkan: “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:9). Hari ini marilah kita belajar merendahkan hati dan mau menghargai ide dari orang lain, meski itu terasa bodoh, konyol atau terlalu sederhana menurut logika kita. Tuhan mampu melakukan segalanya, yang paling mustahil di pikiran manusia sekalipun. Dia sanggup berkarya melalui cara-cara yang tidak terduga sebelumnya, bahkan yang kita anggap teramat sangat tidak mungkin.

Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply