Lipsync

Ayat bacaan: Yakobus 2:9
====================
“Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.”

milli vanilli, lin miaoke, yang peiyi, penampilan luar, lipsync

Masih ingat kehebohan yang terjadi ketika kedok duo terkenal Milli Vanilli terbongkar? Saat itu menjelang akhir 80’an dan memasuki awal tahun 1990 grup ini begitu merajai trend musik dunia. Siapa yang tidak kenal mereka pada waktu itu. Dimana-mana kita mendengar lagu mereka yang menjadi hits dimana-mana. Hal itu pula yang mengantar mereka memperoleh Grammy Award di tahun 1990. Beberapa tahun setelahnya kedok mereka pun terbongkar. Ternyata mereka bukanlah penyanyi yang sebenarnya. Ada orang lain yang menyanyi, sementara mereka yang dari penampilan luar terlihat menarik tampil di depan mengecoh seluruh fans dan penggemar musik secara luas. Istilah lipsync pun menjadi populer, menggambarkan sebuah usaha mensinkronisasikan gerak bibir mengikuti lagu yang diputar dibelakangnya. Artinya, penyanyi yang melakukan lipsync ini tidaklah benar-benar menyanyi secara langsung melainkan hanya komat-kamit saja mengikuti lagu yang diputar. Gara-gara kasus Milli Vanilli ini dunia musik pun gempar. Mereka pun mendapat hukuman publik, ketenaran hilang seketika. Penyanyi aslinya mencoba tampil, namun penggemarnya sudah tidak lagi peduli . Begitu pula ketika duo Morvan dan Pilatus mencoba tampil dan menyanyi sendiri, usaha itu pun gagal total.

Tapi kelihatannya dunia tidak kapok. Penampilan fisik ternyata masih diagung-agungkan sebagai sesuatu yang jauh lebih penting dari inside beauty atau keindahan dari dalam diri manusia. Kembali tahun 2008 berita yang sama terjadi. Kali ini dari Olimpiade Beijing 2008. Pada saat itu dunia terpesona melihat seorang anak yang lucu bernama Lin Miaoke tampil menyanyikan “Ode to the Motherland” secara live pada acara pembukaan. Tapi kemudian seperti halnya Milli Vanilli, penipuan ini pun terbongkar. Penyanyinya ternyata bernama Yang Peiyi, yang penampilan luarnya jauh dari kecantikan Lin Miaoke. Lagi-lagi kasus lipsync, lagi-lagi penipuan yang didasarkan dari penampilan luar.

Kapan manusia bisa belajar menghargai talenta atau bakat yang diberikan Tuhan? Apakah berkat hanyalah jika orang mendapat penampilan luar yang menarik, sementara bakat-bakat atau potensi dalam diri manusia tidak dianggap sama sekali? Dunia yang kita hidupi saat ini adalah dunia yang cenderung menilai segala sesuatu dari penampilan luar. Kita seringkali lebih tertarik pada penyanyi yang cantik dan menarik, meski suaranya pas-pasan atau bahkan tidak seharusnya dipakai untuk menyanyi. Sebaliknya penyanyi yang benar-benar bersuara emas jika tidak disertai dengan kecantikan luar seringkali dipandang sebelah mata. Saya bukan anti kepada orang yang penampilannya menarik, karena itu pun berkat dari Tuhan. Namun saya ingin mengingatkan bahwa alangkah sempitnya jika kita hanya menilai semata-mata dari sudut yang terlalu sempit saja. Siapapun manusia, semuanya dilahirkan dengan tujuannya masing-masing. Ada rencana Tuhan yang indah yang telah Dia anugerahkan kepada siapapun kita. Tuhan tidak pernah memandang penampilan luar orang. Apa yang dilihat Tuhan adalah hati. “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. (1 Samuel 16:7). Hati kita lah sebenarnya yang dilihat Tuhan, dan itulah “inside beauty” yang sesungguhnya yang bernilai di mata Tuhan. Dalam banyak kesempatan kita melihat bagaimana Tuhan memakai pribadi-pribadi yang mungkin tidak akan menjadi pilihan utama bagi dunia untuk bekerja bagiNya, dan kita melihat pula bagaimana orang-orang ini dipakai Tuhan secara luar biasa dan harum namanya hingga kini. Musa yang mengaku gagap, Daud yang hanya bekerja sebagai gembala kambing dan domba yang bahkan tidak dianggap oleh ayahnya sendiri, Nuh yang saat itu sudah tua, begitu pula Abraham, Paulus yang tadinya penyiksa anak-anak Tuhan, Matius pemungut cukai, dan banyak lagi contoh lain, semua itu menunjukkan bahwa Tuhan mementingkan hati seseorang lebih daripada penampilan luar.

Jika Tuhan saja menilai seperti itu, siapakah kita yang berani untuk lebih mementingkan penampilan fisik luar semata? Sekali lagi, usaha membuat diri kita agar terlihat lebih menarik tidaklah salah. Dalam menjual produk, membuat kemasan agar terlihat lebih menarik pun tidak salah. Tapi apa yang salah, atau dalam Alkitab dikatakan berdosa adalah jika kita mendasarkan penampilan luar secara lahiriah ini untuk menyanjung atau merendahkan orang lain. “Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran. (Yakobus 2:9).

Sebagai agen-agen Tuhan di dunia ini, sudahkah kita memperlakukan semua orang sama pentingnya dalam pelayanan kita? Atau kita masih sering terjebak untuk memandang dan membeda-bedakan sesama kita berdasarkan penampilan luar mereka? Secara khusus Yakobus sudah mengingatkan para pelayan Tuhan agar tidak memandang muka. Dalam awal pasal 2 dikatakan “Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” (ay 1). Apa maksud Yakobus? Dia menjelaskannya seperti berikut. “Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: “Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: “Berdirilah di sana!” atau: “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”. (ay 2-3). Ketika kita melakukan hal ini, “bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?” (ay 4). Yakobus kemudian mengingatkan bahwa Tuhan bisa memilih orang-orang yang secara pandangan duniawi ini tidak dianggap, untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris KerajaanNya. (ay 5). Sementara orang-orang kaya ini pun bisa jahat dan menghujat Tuhan. (ay 6-7). Ketika Tuhan tidak membeda-bedakan orang lewat penampilan luarnya, alangkah keterlaluannya jika kita berlaku seperti itu. Apa yang harus kita dasari dalam pelayanan kita adalah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, karena dengan mendasarkan pada hal itulah kita dikatakan berbuat baik. (ay 8). Sebaliknya ketika kita memandang muka, kita pun berbuat dosa dan melakukan pelanggaran. (ay 9).

Penilaian seseorang untuk diistimewakan atau dipinggirkan berdasarkan hal-hal lahiriah, berdasarkan penampilan luarnya harus kita hindari. Ini merupakan penyakit yang sudah terjadi bahkan sejak jaman para rasul. Kita harus menyudahinya. Kenakanlah kasih sebagai dasar pelayanan kita, baik kasih kepada Tuhan maupun kasih kepada sesama. Kasih tidak membeda-bedakan orang. Kaya atau miskin, tua atau muda, cantik atau tidak, semuanya adalah sesama kita yang patut kita kasihi. Tidak ada satu hak pun yang diberikan kepada kita untuk menentukan siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Itu semua merupakan hak mutlak dari Tuhan. “TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga.” (1 Samuel 2:7). Apapun itu, yang pasti Tuhan punya rencana besar dibalik tujuan penciptaanNya. Disamping itu, bukankah Tuhan kita adalah Allah yang sama bagi semua orang? “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” (Roma 10:12). Di sisi lain, jika anda merasa kurang menarik dari segi penampilan, tidak perlu berkecil hati, sebab jika anda memiliki hati yang indah, anda akan sangat menarik di mata Tuhan. Disamping itu, bukankah Tuhan telah memberkati anda dengan begitu banyak kelebihan, bakat-bakat atau talenta yang berlimpah? Jika dunia menganggap lipsync merupakan hal yang penting, jika dunia menganggap penampilan luar lebih penting dari segalanya, tidak demikian seharusnya bagi anak-anak Tuhan. Perlakukanlah semuanya secara adil, dan bersyukurlah atas segala sesuatu yang kita miliki hari ini.

Pakailah kaca mata kasih agar kita bisa melihat dan memperlakukan orang secara adil

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply