Lilin Mainan dan Tanah Liat

Ayat bacaan: Yesaya 64:8======================”Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”Saya masih ingat saat kecil saya sangat suka bermain-main de…

Ayat bacaan: Yesaya 64:8
======================
“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”

Saya masih ingat saat kecil saya sangat suka bermain-main dengan lilin mainan. Saya membentuk berbagai objek mulai dari orang, superhero, mobil, gedung, hewan dan objek lainnya. Kalau tidak pakai lilin dengan warna berbeda, saya mengecatnya supaya terlihat lebih realistis. Kalau ditanya apa yang menjadi karya terbaik saya, maka saya akan memilih sebuah kota yang terlihat hancur dengan beberapa superhero sedang melawan monster disana. Sayang semuanya saat ini sudah tidak ada lagi, dan kesibukan setelah dewasa membuat saya tidak lagi punya waktu untuk bermain-main dengan lilin-lilin ini.

Seperti orang-orangan yang dibuat dengan menggunakan lilin mainan, kita pun dibentuk dengan bahan yang mirip. Apa yang dipergunakan Tuhan dalam membentuk kita? Ayat bacaan hari ini menggambarkan hal itu. “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” (Yesaya 64:8). Kita dibentuk dengan menggunakan tanah liat dan memperoleh nyawa yang hidup dari hembusan nafas Tuhan sendiri (Kejadian 2:7). Kita ini ternyata tidak lebih dari seonggok tanah liat yang menjadi hidup lewat nafasNya sendiri. Dengan menyadari dasar eksistensi manusia ini, sudah seharusnya kita tidak boleh bersikap arogan, menyombongkan diri dan merebut semua yang menjadi hak Tuhan, Sang Pencipta kita.

Dalam ayat lain Yesaya mengatakan bahwa manusia tidaklah lebih dari embusan nafas semata, sehingga kita jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi pada sebuah figur atau sosok manusia. “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22). Selain itu kita pun harus menyadari bahwa masa hidup kita di dunia singkat adanya. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). Itu tidak sebanding dengan tujuan berikutnya yang kekal setelah masa yang fana ini selesai. Tidakkah menyedihkan kalau kita tidak menyadari hal ini dan masih merasa jauh lebih hebat dari orang lain, merasa punya kuasa untuk melakukan banyak hal semena-mena terhadap orang lain? Pada suatu ketika semua manusia harus siap untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia ini di hadapan Tuhan. Dan ingatlah bahwa pada waktu itu tidak akan ada lagi yang bisa kita lakukan selain menyerahkan semuanya kepada penghakiman Tuhan.

Kalau kita dibentuk dengan tanah liat, maka Tuhan adalah Penjunan kita. Objek yang dibuat tidak punya kekuasaan apa-apa melebihi Pembuatnya. Tanah liat tidak pernah bisa mengatur pembuatnya untuk membentuk dirinya sesuai dengan keinginannya. Tapi si pembuat pasti mengenal jenis tanah liat dan seperti apa ia bisa dibentuk agar bisa menghasilkan karya seindah mungkin. Demikianlah sebuah pelajaran yang dipetik oleh Yeremia lewat seorang tukang periuk. Dalam pembuka Yeremia 18 kita membaca bahwa Tuhan menyuruh Yeremia ke tukang periuk untuk mendapat pelajaran penting mengenai hakekat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (Yeremia 18:4). Seperti itulah hasil pengamatan Yeremia. Lalu Tuhan berkata: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (ay 6). Ya, Tuhanlah sang Penjunan atau Pembuat, sedang kita adalah tanah liat yang berada di tangan sang Pembuat. Karenanya bukan kehebatan kita yang bisa membuat kita menjadi baik, berkelimpahan dan selamat, namun semata-mata karena kehebatan Tuhan membentuk kita-lah maka kita bisa menjadi bejana-bejana yang indah. Kalau kita masih melakukan berbagai bentuk dosa, meninggikan diri sendiri, mencari pamor dan kekuasaan agar bisa seenaknya melakukan ketidakadilan dan kejahatan, itu artinya kita masih tidak menyadari betul jatidiri kita yang sebenarnya. Malah Alkitab mencatat demikian “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5).

Jika Tuhan sebagai sang Penjunan atau sang Pembuat periuk/bejana yang mengenal karakter kita masing-masing, si “tanah liat”, dengan sangat baik, apa yang menjadi rencanaNya? Tuhan berfirman: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (29:11). Untuk mencapai tujuan itu, terkadang proses pembentukan karakter diperlukan, dan hal itu seringkali tidak nyaman bahkan mungkin menyakitkan. Tapi nantinya setelah proses itu dilewati, sebuah bejana yang sangat indah akan terbentuk.

Kita hanyalah tanah liat yang hidup dengan hembusan nafas Tuhan. Tidak seharusnya kita bersikap paling hebat di atas segala-galanya dan hidup seenaknya dengan kekuatan diri kita sendiri maupun orang lain. Ingatlah bahwa di atas sana ada Tuhan, Sang Penjunan yang begitu mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita binasa. Jauhkanlah kesombongan dan keangkuhan dari diri kita. Hiduplah rendah hati, rajin menolong sesama dan berserahlah secara penuh kepada Tuhan dalam segala hal. Lakukan setiap aktivitas dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan sendiri, dan tetap muliakan Dia disana. Selama kita masih bernafas, pergunakanlah setiap nafas yang ada untuk memuji dan memuliakanNya.

Kita dibentuk dengan tanah liat dan hidup dengan hembusan nafasNya, pujilah Tuhan lewat segala yang kita lakukan dan dalam segala sisi kehidupan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply