Lidah Bagai Api

Ayat bacaan: Yakobus 3:5
=====================
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.”

Tahun 2012 lalu terjadi kebakaran hutan yang luasnya mencapai sekitar 2 hektar. Setelah diselidiki, yang memicu kebakaran sangatlah mengejutkan. Bukan sengaja dibakar seperti dugaan banyak orang melainkan berasal dari puntung rokok yang dilempar begitu saja oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Dan ini pun bukan hanya sekali saja terjadi. Sebelum tahun 2012 sudah pernah terjadi, dan setelahnya pun masih. Saya tidak habis pikir. Apa sih susahnya menginjak puntung itu sampai mati benar sebelum melanjutkan langkah? Itu hanya butuh satu-dua detik saja. Dan lihatlah apa yang terjadi kalau pelakunya tidak peduli terhadap keselamatan orang lain maupun kelestarian alam. Puntung rokok itu sangat kecil dan sepertinya tidak berarti. Biasanya apinya pun sudah redup, setidaknya tidak terlalu bernyala seperti saat masih dihisap oleh konsumen. Tapi meski kecil, tetap saja bara api itu bisa membakar hutan berhektar-hektar.

Fakta di atas membuktikan bahwa kehancuran besar tidak harus mutlak berasal dari hal-hal besar saja. Little things can also cause massive destructions. Nyamuk yang kecil bisa mengakibatkan sakit yang luar biasa, setitik nila sudah bisa merusak susu sebelanga. Dan dalam Yakobus kita melihat sebuah analogi menarik mengenai pentingnya menjaga mulut yang persis mengambil kejadian kebakaran hutan yang nyata terjadi berkali-kali di bumi pertiwi. Yakobus menganalogikan lidah yang cuma kecil ukurannya dibanding tubuh manusia, namun bisa memberi dampak besar, entah itu membawa berkat luar biasa ataupun mendatangkan kutuk. “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5). Lihatlah betapa api yang kecil sekalipun, dengan sepercik saja bisa membakar hutan yang besar. Kalau bukan hutan, lihatlah berapa banyak rumah yang ludes karena adanya percik kecil api saja. Seperti itu pula lidah.

Yakobus melanjutkan demikian: “Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (ay 6). Lidah sangat sulit unuk dijinakkan. Lidah yang tidak terkendali bisa menjadi buas atau jahat, penuh racun yang mematikan. (ay 8). Lidah yang kecil ini dapat menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan kita maupun kehidupan orang-orang disekitar kita, apakah itu pengaruh yang positif atau negatif. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (ay 9-10).

Kita harus mampu menjaga perkataan yang keluar dari mulut kita dengan cermat dan bijaksana. Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Salah satu syarat untuk menumpang dan diam di dalam Kerajaan Tuhan adalah dengan menjaga lidah agar tidak menyebarkan fitnah, celaan atau kejahatan-kejahatan lainnya lewat perkataan. “Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu … yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya” (Mazmur 15:1-3). Lidah bisa menjadi setajam pedang, atau mengeluarkan kata-kata pahit seperti panah, yang siap menyerang dan mematikan siapa saja (Mazmur 64:3-5). Seperti apa yang kita baca dalam renungan kemarin, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21). Apakah mulut kita mengeluarkan ucapan syukur dan memberkati, atau berisi keluhan, umpatan atau bahkan kutuk, semua tergantung bagaimana kita mampu mencermati lidah secara bijaksana. Bahkan dikatakan bahwa lidah lembut adalah pohon kehidupan (Amsal 15a), yang mampu mendatangkan berkat lewat ucapan-ucapan syukur dan puji-pujian kepada Tuhan.

Hendaklah kita senantiasa menjaga ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita. Jagalah sungguh-sungguh agar perkataan kita jangan sampai menjadi racun yang mematikan. Penuhi mulut kita dengan ucapan syukur dan pujian, hormat dan kemuliaan bagi Tuhan.

Kuasai lidah, karena lidah yang kecil bisa menimbulkan kehancuran yang pada suatu ketika sulit untuk diatasi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Lidah Bagai Api

Ayat bacaan: Yakobus 3:5
=====================
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.”

Tahun 2012 lalu terjadi kebakaran hutan yang luasnya mencapai sekitar 2 hektar. Setelah diselidiki, yang memicu kebakaran sangatlah mengejutkan. Bukan sengaja dibakar seperti dugaan banyak orang melainkan berasal dari puntung rokok yang dilempar begitu saja oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Dan ini pun bukan hanya sekali saja terjadi. Sebelum tahun 2012 sudah pernah terjadi, dan setelahnya pun masih. Saya tidak habis pikir. Apa sih susahnya menginjak puntung itu sampai mati benar sebelum melanjutkan langkah? Itu hanya butuh satu-dua detik saja. Dan lihatlah apa yang terjadi kalau pelakunya tidak peduli terhadap keselamatan orang lain maupun kelestarian alam. Puntung rokok itu sangat kecil dan sepertinya tidak berarti. Biasanya apinya pun sudah redup, setidaknya tidak terlalu bernyala seperti saat masih dihisap oleh konsumen. Tapi meski kecil, tetap saja bara api itu bisa membakar hutan berhektar-hektar.

Fakta di atas membuktikan bahwa kehancuran besar tidak harus mutlak berasal dari hal-hal besar saja. Little things can also cause massive destructions. Nyamuk yang kecil bisa mengakibatkan sakit yang luar biasa, setitik nila sudah bisa merusak susu sebelanga. Dan dalam Yakobus kita melihat sebuah analogi menarik mengenai pentingnya menjaga mulut yang persis mengambil kejadian kebakaran hutan yang nyata terjadi berkali-kali di bumi pertiwi. Yakobus menganalogikan lidah yang cuma kecil ukurannya dibanding tubuh manusia, namun bisa memberi dampak besar, entah itu membawa berkat luar biasa ataupun mendatangkan kutuk. “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5). Lihatlah betapa api yang kecil sekalipun, dengan sepercik saja bisa membakar hutan yang besar. Kalau bukan hutan, lihatlah berapa banyak rumah yang ludes karena adanya percik kecil api saja. Seperti itu pula lidah.

Yakobus melanjutkan demikian: “Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (ay 6). Lidah sangat sulit unuk dijinakkan. Lidah yang tidak terkendali bisa menjadi buas atau jahat, penuh racun yang mematikan. (ay 8). Lidah yang kecil ini dapat menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan kita maupun kehidupan orang-orang disekitar kita, apakah itu pengaruh yang positif atau negatif. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (ay 9-10).

Kita harus mampu menjaga perkataan yang keluar dari mulut kita dengan cermat dan bijaksana. Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Salah satu syarat untuk menumpang dan diam di dalam Kerajaan Tuhan adalah dengan menjaga lidah agar tidak menyebarkan fitnah, celaan atau kejahatan-kejahatan lainnya lewat perkataan. “Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu … yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya” (Mazmur 15:1-3). Lidah bisa menjadi setajam pedang, atau mengeluarkan kata-kata pahit seperti panah, yang siap menyerang dan mematikan siapa saja (Mazmur 64:3-5). Seperti apa yang kita baca dalam renungan kemarin, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21). Apakah mulut kita mengeluarkan ucapan syukur dan memberkati, atau berisi keluhan, umpatan atau bahkan kutuk, semua tergantung bagaimana kita mampu mencermati lidah secara bijaksana. Bahkan dikatakan bahwa lidah lembut adalah pohon kehidupan (Amsal 15a), yang mampu mendatangkan berkat lewat ucapan-ucapan syukur dan puji-pujian kepada Tuhan.

Hendaklah kita senantiasa menjaga ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita. Jagalah sungguh-sungguh agar perkataan kita jangan sampai menjadi racun yang mematikan. Penuhi mulut kita dengan ucapan syukur dan pujian, hormat dan kemuliaan bagi Tuhan.

Kuasai lidah, karena lidah yang kecil bisa menimbulkan kehancuran yang pada suatu ketika sulit untuk diatasi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: