Lentera Keluarga – Wajah Allah Nyata

Rabu, 27 Desember 2017.  Pesta Yohanes Penginjil.
Bacaan: 1Yoh 1:1-4; Mzm 97:1-2.5-6.11-12; Yoh 20:2-8.

Renungan

BACAAN pertama dan Injil hari ini memberikan kepada kota kesaksian Yohanes akan dua peristiwa iman besar dalam hidup Yesus yaitu: inkarnasi dan kebangkitan Yesus.

Dalam kesaksiannya tentang inkarnasi, Yohanes menegaskan bahwa Firman itu bukan hanya rohani tetapi sungguh manusiawi : “yang telah kami dengar dan kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan, dan kami raba dengan tangan kami”. Firman itu sungguh manusia.

Dalam kesaksiannya tentang kebangkitan, Yohanes mengatakan “ia melihat dan percaya” akan kebangkitan Yesus, sang Firman Hidup.

Dua kesaksian ini bermuara pada identitas Yesus yang mendalam : bahwa Firman Allah sungguh sungguh ilahi dan manusiawi.

Kehadiran Yesus pada masa natal mengajak kita untuk melihat betapa manusiwinya Firman itu, hadir dan hidup melalui proses manusiawi, yang tidak berbeda dengan anak yang lahir lainnya. Tetapi kepenuhan Firman Allah tinggal atasNya. Di balik wajah manusiwiNya kita dapat menyentuh, mendengarkan dan melihat Allah yang tidak abadi.

Kesaksian Yohanes ini menguatkan iman kita akan natal dan kebangkitan.

Bagi kita keluarga,  setiap anak yang kita lahirkan ke dunia ini juga merupakan cermin kasih Allah. Di balik bayi yang mungil, yang kita gendong dan kita sayangi, ada citra Allah. Mereka datang dari Allah untuk mengajar kita orang tua cinta yang tulus dan pemberian diri yang total. Di dalam anak kita ini rencana besar Allah terkandung. Karena ia berasal dari Allah, kitapun juga harus mengajarkan kepadanya identitasnya, panggilannya dan jalan kepada Allah dalam keabadian.

Janganlah anugerah Allah ini kita buang, abaikan dan campakkan karena rasa malu, tekanan sosial, atau harga diri keluarga.

Bersama anak-anak panti usia balita selama natal ini, saya menangkap “wajah Yesus” di dalam mereka. Saya tidak mendengar keluhan para pendamping karena anak sulit makan, sult tidur, sering menangis, sulit berdoa, sulit disiplin, sulit melepaskan televisi/gadget.

Mereka adalah anak yang “terbuang” tetapi juga diatas semua, mereka anak-anak yang luar biasa, yang mengajar saya untuk menikmati hari dengan sukacita karena kasih Tuhan tidak pernah lepas, karena Tuhan tidak pernah tidak adil kepada mereka yang terbuang. “Batu yang dibuang oleh tukang bangunan, akan menjadi batu sendiri. Karya Tuhanlah yang mengerjakannya.” Hanya mereka membutuhkan motivasi ketika remaja untuk tidak melihat ke belakang tetapi untuk berjalan menapaki rencana Allah dengan lepas bebas.

Kontemplasi

Gambarkan bagaimana natal membuat Yohanes mampu melihat  Yesus sebagai Firman Allah yang menjadi manusia dari awal kelahiranNya sampai pada kebangkitanNya.

Refleksi

Bagaimana aku melihat wajah Yesus dalam diri anak-anakku? Apakah aku menuntunnya untuk menemukan idenitas dan rencana Allah baginya?

Doa

Ya Bapa, ajarilah kami untuk merawat dan mencintai anak anak kami, entah mereka yang bertumbuh baik atau mereka yang membutuhkan perhatian khusus. Ajar kami melihat wajah Yesus di dalamnya dan rencana indahMu baginya.

Perutusan

Cintailah dan sayangilah anak-anak anda dengan tulus. Lihatlah di wajahnya kasih Allah dan rencana besar Allah bagi mereka.

Mendengarkan lagu Miracle dari Celine Dion:https://m.youtube.com/watch?v=fCIPpCr8oeY

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: