Lentera Keluarga – Teladan Iman

Selasa, 21 November 2017 . PW Maria Dipersembahkan kepada Allah.
Bacaan: 2Mak 6:18-31; Mzm 3:2-7: Luk 19:1-10

Renungan

SEBAGAI orang Yahudi yang taat, Eleazar konsisten dalam iman, tidak mau berpura-pura dan tidak mencari keselamatan dunia ini. Baginya kesetiaan dan kehormatan itu penting. ia mau menjadi batu sandungan iman bagi anak-anak muda Yahudi : “berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami, jangan-jangan banyak pemuda kusesatkam..”Konsekwensi dari sikap Eliazar ini membawa dia pada penyiksaan yang hebat sampai akhirnya pada kematian.

Iman Kristen tidak bisa ditukar dengan harta, jabatan, perkawinan dan keselamatan duniawi.  Darah banyak martir adalah pupuk iman bagi gereja dan itu harus kita hargai. Sangat menyedihkan jika karena ingin jabatan, tidak tahan tekanan, karena faktor ekonomi, perkawinan dan keselamatan duniawi, orang rela mengingkari kebenaran imannya; meskipun itu alasannya adalah untuk pura-pura. Apalagi mereka yang mengingkari kebenaran iman ini adalah tokoh publik dan kemudian menjelek-jelekkan kepercayaan asalnya.  Orang kristen dididik untuk setia, taat, tidak pura-pura dan memegang teguh kehormatan sebagai orang kristen. Pilihan atas iman melebihi persaudaraan, jabatan, harta, perkawinan ataupun keselamatan diri kita sendiri.

Bagi kita orang tua, hendaknya kisah Eleazar bagi kita. Jangan takut menyatakan iman kita secara publik bersama anak-anak. Di KTP kita beragama kristen, kita cantumkan nama baptis, kita pergi ke  ke gereja bawa Kitab Suci, kita berdoa pada waktu istirahat di kantor, kita makan pakai tanda salib, kita memakai kalung rosario, memasang benda-benda suci di rumah kita; memang itu tidak berarti kita tidak menghormati orang lain; justru jika kita tidak mengungkapkannya karena alasan toleransi itu kita berpura-pura , dan kita tidak mampu menjadi teladan iman bagi anak-anak kita. Kita tidak perlu malu karena iman kita; tetapi kita harus malu kalau kita sebagai orang kristen tidak hidup benar . Marilah kita teladani Eleazar; Jadilah teladan-teladan iman bagi keluarga kita.

Kontemplasi

Masukkan dalam hari Eleazar dan rasakanlah kekuatan iman dan kehormatan iman yang kuat di dalamnya.

Refleksi

Bagaimana aku mengungkapkan imanku secara publik? Apakah aku takut/sungkan karena alasan “toleransi” atau harapan-harapan lain? Ataukah aku dengan berani mengungkapkan imanku secara publik?

Doa 

Ya Bapa, ajarilah aku untuk konsisten dalam iman, menjunjung kehormatan iman dan tidak memberikan batu sandungan iman bagi orang lain.

Perutusan

Aku mengungkapkan hidup imanku secara publik/tidak sembunyi-sembunyi (Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply