Lentera Keluarga: Selasa, 26 September 2017 – Ikatan Keluarga Allah


Bacaan: Ezr 6:7-8.12b.14-20; Mzm 122:1-5; Luk 8:19-21.


Renungan


TUHAN Yesus mengangkat ikatan keluarga duniawi yang diikat dengan hubungan darah kepada keluarga ilahi yang diikat dengan ikatan cinta kepada Bapa yang diwujudkan dalam mendengarkan firman dan melakukannya. Keluarga Allah adalah tujuan final seluruh hidup keluarga manusia.


Kita bersyukur ketika kita sebagai orang tua – keluarga mempersembahkan anak-anak kita untuk menjadi imam dan religius. Mereka memberi makna baru ikatan keluarga dalam satu ikatan keluarga Allah. Mereka adalah tetap anak-anak kita, yang juga mempunyai tanggungjawab kepada kita secara terbatas, terutama waktu dan ekonomi. Posisi dan tanggungjawab mereka terkadang membatasi kita untuk menceriterakan hal-hal yang menurut kita memberatkan mereka.


Kitapun juga sebagai keluarga tidak diperkenankan untuk menjadikan anak-anak atau saudara kita yang menjadi religius dan imam untuk menjadi “bemper status sosial”, “kesempatan mendapatkan previligi”, “sumber bantuan ekonomi” atau “nama sakti” untuk kepentingan-kepentingan keluarga.  Jika anak dan saudara kita adalah seorang religius, mereka sudah mengikrarkan janji prasetya berkaitan dengan kepemilikan, relasi dan penugasan.  Kita sebagai keluarga perlu menjaga anak-anak dan saudara-saudari kita yang menjadi religius untuk hidup secara benar.


Demikian juga halnya, kita sebagai imam dan religius, hormat kepada orang tua dan relasi keluarga asal tetaplah dijaga. Berkunjung, menyapa, mengalami keakraban bersama mereka adalah sebuah hal yang patut kita perhatankan. Jangan sampai kita dekat dengan keluarga-keluarga lain, sementara dengan keluarga sendiri kita menjauh. Kitapun diminta untuk membangun sebuah keluarga yang lebih luas, dan menjadi saudara bagi semua. Sebuah persahabatan yang diikat oleh satu Bapa. Cara hidup imam dan religius perlu kita jaga sendiri, karena umat tidak mengenai dan paham benar cara hidup kita. Kebaikan dan dukungan umat kita hargai dan kita terima dengan tetap setia pada cara hidup kita sebagai imam dan religius.


Demikian sebagai umat, kitapun diundang untuk menjadikan imam dan religius sebagai milik gereja. Kitapun harus bijak dalam memberikan kebaikan dan dukungan, serta tidak mengikat mereka dengan “rasa sungkan” yang membelokkan mereka dari cara hidup dan kebijakan pastoral yang mereka emban.


Kontemplasi


Gambarkan bagaimana reaksi Bunda Maria dan saudara-saudara Yesus mendengar perkataan Yesus mengenai arti saudara.


Refleksi


Bagaimana aku dan keluargaku membangun ikatan yang dekat dengan para religius dan imam? Bagaimana  aku menghormati cara hidup religius dan imamat yang berbeda dengan cara keluarga sehari-hari ?


Doa  


Ya Bapa, semoga kami, umat, religius dan imam, membangun satu keluargaMu dalam relasi kasih yang mendalam, saling menghormati cara hidup masing-masing dan mendewasakan. Amin.


Perutusan


Mari membangun relasi yang mendalam dengan semua umat, imam dan religius dengan tetap membangun sikpa hormat akan cara hidup masing-masing


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: