Lentera Keluarga – Selasa, 15 Agustus 2017: Nilai Kepemimpinan Musa


Bacaan: Ul 31:1-8; Ul 32:3-4a.7-9.12; Mat 18:1-5.10.12-14


Renungan


HAMPIR empat puluh tahun lamanya, Musa memimpin Israel di padang gurun menuju ke tanah terjanji. Namun karena pertiwa Masa dan Meriba, Musa dilarang Tuhan untuk masuk ke tanah terjanji dan  ia hanya diperbolehkan melihat bangsanya yang telah dipimpinnya sekian lama memasuki tanah terjanji. Terdorong oleh tanggungjawab akan kebaikan bangsanya dan ketaatan kepada kehendak Allah, Musa menjalani kepemimpinannya dengan kerelaan dan pemberian diri total.  Ia menyerahkan tongkat estafet kepada Yosua dan memberikan motivasi kepada bangsa Israel untuk taat kepada Allah. Ia rela menyepi sendiri bersama Allah sampai akhir hidupnya. Dapat digambarkan seperti seorang yang merawat tanaman buah, dan ketika tanaman itu sudah masak dan siap petik, ia tidak diperbolehkan untuk memetik dan memakannya, tetapi memberikannya kepada orang lain. Seorang pemimpin yang berjiwa besar.


Kitapun dipanggil untuk menjadi pemimpin seperti Musa. Pemimpin yang penuh dedikasi hanya untuk kebaikan orang yang kita pimpin dan ketaatan kepada Allah. Seorang pemimpin yang tidak menghitung-hitung “jasa” dan “pengorbanan” yang telah diberikan dan tidak mendaku semua prestasi yang telah dibuatnya apalagi meminta hak dari kepemimpinannya. Kebaikan setiap orang yang dipimpinnya menjadi yang utama. Seorang pemimpin yang menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan dengan kerelaan hati dan memberikan warisan yang terbaik;


Musa adalah figur kita sebagai orang tua, yang berjuang mati-matian dengan berbagai macam tantangan dan kesulitan untuk memimpin anak-anak hidup benar dalam iman dan berjalan sampai  kesuksesan hidup. Kita tidak pernah berhitung pengorbanan kita kepada anak-anak, apalagi mengharap balas jasa dari mereka. Kebahagiaan mereka menjadi kebahagiaan kita. Dan demi kebahagiaan mereka, kitapun rela mengalami kesepian dan kesendirian bersama Allah sampai kepada kesatuan sempurna.  Kita adalah Musa bagi keluarga kita.


Kontemplasi


Gambarkan bagaimana suasana hati Musa ketika memberikan tongkat estafet kepada Yosua dan menyemangati bangsa Israel.


Refleksi


Bagaimana semangat kepemimpinan Musa dapat semakin bertumbuh dalam semangat kepemimpinanku?


Doa 


Ya Bapa, semoga dedikasi dan ketaatan Musa semakin hidup dalam praktek kemimpinanku. Amin.


Perutusan


Aku belajar mempraktekkan kepemimpinan Musa dalam komunitas dan keluargaku.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: