Lentera Keluarga – Relasi Fungsional Dan Personal


Sabtu, 11 November 2017. PW St Martinus, Uskup.
Bacaan: Rom 16:3-9.16.22-27; Mzm 145:2-5.10-11; Luk 16:9-15


Renungan


DI dalam penutupan suratnya, Paulus menyapa secara khusus pirbadi-pribadi  anggota jemaat di Roma, yang mengambil pelayanan pewartaan Injil. Mereka disebut rekan-rekan kerja dalam iman. Paulus dekat dengan mereka bukan hanya dalam pekerjaan injil tetapi juga dekat dan mendalam secara pribadi dengan mereka Kedekatan Paulus ini menjadi pilar sekaligus dorongan bagi mereka untuk dekat satu sama lain secara personal.


Sebagai pemimpin-pelayan jemaat atau komunitas, tidak cukup bagi kita mempunyai rekan kerja/ tim work yang baik. Kita harus membangun kedekatan personal dengan rekan kerja kita, demikian juga kedekatan personal yang sama juga tumbuh di antara rekan tim. Tanpa kedekatan personal, tim work kita akan bekerja secara “anonim” dan kurang bersatu hati; hanya bersatu secara organisatoris saja. Kesatuan hati itu dibangun dengan cara sederhana yaitu dengan berbagi kisah hidup, kisah iman dan terlibat dalam hidup anggota tim work. Dengan cara seperti ini, tim work akan menjadi kuat dan “guyub”.


Membangun relasi dalam keluargapun demikian halnya. Relasi kita dengan pasangan dan anak-anak mempunyai dua unsur penting yaitu fungsional dan personal. Kita berperan sebagai suami dan isteri. Peran suami sebagai kepala keluarga dan peran isteri sebagai kepala rumah tangga harus berfungsi. Ketimpangan fungsi suami atau isteri sangat berpengaruh pada roda hidup keluarga dan pendidikan karakter – emosional anak.  Kita juga berperan sebagai ayah dan ibu, dan fungsi itu harus kita jalankan dengan benar dalam proses pendidikan iman dan karaketers seperti kedisiplinan, tanggungjawab, hormat, dll. Namun jika hanya berkembang dalam “fungsi” saja sebagai suami, isteri atau orang tua, maka keluarga akan cenderung menjadi sebuah organisasi yang masing-masing pribadi mempunyai peran dan fungsinya sendiri-sendiri. Kita perlu mengembangkan juga aspek personal yaitu membangun kedekatan emosional dengan anggota keluarga. Kedekatan itu dibangun juga dengan berbagi hidup antara suami isteri, dan antar orang tua dan anak. Jika relasi personal ini tidak disertai dengan peran fungsional maka kita akan menjadi suami isteri yang tidak jelas perannya; kitapun akan kehilangan kewibawaan dan kemampuan mendidik sebagai orang tua dihadapan anak-anak  Kedua hal ini, peran fungsional dan relassi personal, perlu ada secara seimbang dalam keluarga kita.


Kontemplasi


Gambarkan bagaimana Paulus mengembangkan relasi yang seimbang, antara relasi kerja dan personal, dengan rekan-rekan kerjanya.


Refleksi


Bagaimana aku menjaga keseimbangan antara peran fungsional dan relasi personal dengan rekan kerja dalam pelayanan maupun dalam keluargaku?


Doa 


Ya Bapa, semoga aku menjadi pemimpin yang semakin bertumbuh dalam relasi karya dan relasi personal dengan rekan kerja dan keluargaku. Amin.


Perutusan


Aku belajar menyeimbangkan relasi kerja dan relasi personal dengan rekan-rekan pelayanan dan keluargaku  (Morist MSF)


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply