Lentera Keluarga – Rekonsiliator Atau Provokator

Sabtu, 16 Desember 2017
Bacaan:  Sir 48:1-4.9-11; Mzm 80:2ac.3b.15-16.18-19; Mat 17:10-13

Renungan

SALAH satu kepercayaan agama Yahudi mengenai tanda dari akhir jaman adalah kedatangan Elia.  Elia artinya “Tuhan itu Allah”. Elia digambarkan dalam raja-raja sebagai nabi yang tidak pernah dikatakan meninggal. Dalam Kitab Sirakh, Elia digambarkan sebagai nabi yang “meredakan kemurkaan sebelum meletus, untuk mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub”.

Mengemban peran rekonsiliasi bagi pasutri atau anggota yang berkonflik ataupun bertikai bukanlah tanggungjawab ringan. Kita dituntut kemampuan untuk mendengarkan dari banyak pihak, cermat memilah antara pengalaman dengan kenyataan, membantu setiap pribadi untuk refleksi dan membaharui cara komunikasi, dan mempunyai intensi yang kuat untuk benar-benar tidak berpihak dan menjadi pendamai. Setiap intervensi terhadap konflik pasturi atau keluarga perlu dipertimbangkan dengan hati-hati.

Sungguh benar, bahwa kita tidak dapat menjamin rekonsiliasi  dalam perkawinan dan keluarga karena penentu rekonsiliasi adalah mereka sendiri. Namun ketidakcermatan, kebingungan, ketidaksabaran, komentar dan wacana yang kurang dapat membawa proses rekonsiliasi menjadi terhambat atau semakin lebih parah.  Yang berbahaya adalah bahwa peran rekonsiliasi kita menjadi peran berpihak untuk menghukum pihak yang kita nilai tidak benar.  Dan pada akhirnya, dengan kuasa dan emosi, kita mengambil keputusan dan solusi.

Dalam hidup menggerejapun kita dapat menangkap bahwa ada perbedaan, ketidakcocokan, konflik di kalangan umat. Dalam situasi ini kita harus hadir sebagai rekonsiliator. Jangan kita jsutru menjadi provokator, yang melempar kasus, mempertanyakan, menyalahkan atau menuntut. Dengan cara ini, kita memperburuk situasi dan memperkeruh masalah karena “memberikan bensin ke dalam api”.  Dalam situasi ini, diperlukan pribadi-pribadi yang sejuk, bijaksana, tenang, tanpa pamrih, sabar dan berpikiran jernih serta tegas pada kebenaran. Undangan kita bukan untuk menjadi hakim yang menilai benar dan salah, tetapi menjadi rekonsiliator : yang mengajak setiap orang untuk mengalami pertobatan dan rekonsiliasi.

Kontemplasi

Gambarkan peran yang diemban Elia sebagai figur pendamai.

Refleksi

Apakah aku berperan dan mengambil sikap sebagai mediator-rekonsiliator dalam menghadapi situasi konflik dan pertikaian perkawinan, keluarga ataupun di kalangan jemaat?

Doa

Ya Bapa, semoga hati kami dipenuhi dengan kesejukan dan kedamaian, sehingga kami sanggup menjadi pembawa warta pertobatan dan pendamaian bagi mereka yang sedang berkonflik dan bertikai. Amin.

Perutusan

Jadilah pribadi yang membawa kesejukan-kedamaian. Jauhkanlah sikap menjadi provokator yang menuang minyak ke dalam api.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: