Lentera Keluarga – Rabu, 26 Juli 2017: Hormat kepada orang tua dan lelulur kita

PW S. Yoakim dan Ana, Orangtua SP Maria

Bacaan: Sir 44:1.10-15; Mzm 132:11.13-14.17-18; Mat 13:16-17.

Renungan

KITAB Sirakh memuji dan menghormati para leluhur. Mereka dipandang sebagai orang-orang bijaksana. Orang-orang yang memberikan warisan baik kepada anak-anak dan keturunannya. Walaupun jenazah mereka sudah dimakamkan tetapi nama mereka dan kebijaksanaan mereka dikenangkan turun temurun.

Kehadiran orang tua di tengah-tengah keluarga dapat membawa kita untuk bertanya apakah kehadiran mereka itu beban atau berkat; apalagi mereka sudah mengalami sakit yang berdampak pada kemampuan berpikir, perasaan dan geraknya dan tergantung pada orang lain.

Konflik dan padangan kita bahwa mereka adalah beban banyak dipicu oleh tenaga-sumber dana yang kita berikan kepada mereka ; tetapi yang lebih utama adalah karena kita tidak siap menerima “ketuaan mereka”; kita masih menuntut dan berpikir bahwa mereka adalah sama seperti dulu.  Tuntutan kitalah yang membuat mereka mengalami situasi serba salah, perasaan membebani, tidak krasan dlsb. Mereka kadang tidak siap menjadi “tua”  dan menolaknya tetapi yang terutama adalah kitalah yang tidak siap menerima “ketuaan” mereka.

Kita akan dapat melihat kehadiran mereka sebagai berkat dengan melihat kepada diri kita sendiri; bahwa hidup kita dan apa yang kita milki ini adalah warisan dari mereka. Kita ingat bagaimana perjuangan dan kebijaksanaan hidup mereka demi kita; warisan-warisan rohani yang mereka siapkan bagi kita. Menghargai mereka sama dengan menghargai hidup kita sendiri. Dan kitapun semakin diingatkan bahwa di balik wajah yang berkerut dan tubuh yang sudah rapuh, tersembunyi kebijaksaan dan sejarah hidup yang luar biasa. Mencintai mereka membawa kita juga untuk belajar mencintai tanpa syarat sebagaimana Allah kehendaki bagi kita. Hidup mereka adalah “sunset” yang indah bagi kita.

Kontemplasi

Gambarkan bagaimana kitab Sirakh menggambarkan penghormatan dan penghargaan terhadap para leluhur.

Refleksi

Bagaimana sikapku terhadap kehadiran orang tua dalam komunitas dan keluargaku?

Doa 

Ya Bapa, semoga hatimu semakin menangkap keagungan dan keindahan pada orang tua dan pendahuluku sebagai warisan hidup yang tak ternilai harganya. Amin.

Perutusan

Aku hormat pada leluhurku dan mencintai orang tua dalam keluargaku. (Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: