Lentera Keluarga – Perkabungan Atau Pesta?

Rabu, 6 Desember 2017
Bacaan: Yes 25:6-10a: Mzm 23:1-6: Mat 15:29-37

Renungan

KUTIPAN Yesaya hari ini sering kita dengarkan pada upacara kematian seseorang karena dalam kutipan ini terekam masa depan hidup manusia dan jawaban atas penderitaan hidup: Tuhan akan meniadakan maut untuk seterusnya dan Ia akan menghapus air mata dari wajah semua orang…”. Kutipan Yesaya ini diperdengarkan pada masa adven ini untuk memberikan semangat dan dukungan bahwa Tuhan sebentar lagi datang untuk mengoyakkan kain kabung, menghapus air mata dan aib dari umatNya serta mendatangkan sukacita yang luar biasa.

Pengharapan yang sama juga menjadi penghiburan bagi keluarga-keluarga yang sekarang ini masih mengenakan kain kabung dan meneteskan air mata karena pengalaman kehilangan hal yang berarti dalam hidup mereka, termasuk orang-orang yang dikasihi. Perasaan sedih, depresi dan putus asa dapat saja muncul tetapi yang tidak tepat adalah membiarkan perasaan itu berkuasa atas cara berpikir dan perilaku kita yang pada gilirannya juga akan menyuramkan relasi dengan orang lain. Paus menemai mentalitas seperti ini sebagai mentalitas perkabungan.

Para murid Yesuspun tidak lepas dari pengalaman sedih, depresi dan putus asa; tetapi sebagai murid, kita diingatkan untuk hidup dalam pengharapan akan sukacita besar: berani mengoyak kain perkabungan, menghapus air mata, dan memandang ke atas di mana Tuhan akan datang menjumpai kita dan mengundang kita untuk berpesta. Semangat hidup para murid Yesus adalah pesta, harapan, sukacita, dan berjuang. Keluarga seperti inilah yang disebut sebagai keluarga yang hidup dalam sukacita Injili – semangat pesta.

Kita boleh mengalami perasaan sedih, depresi, kehilangan dan putus asa yang sama; tetapi untuk hidup dalam perkabungan atau pesta sukacita itu adalah pilihan kita. Kita bisa memilih dan kita bisa mengubah. Pilihan hidup injii (mewartakan injil pada diri sendiri dan pada orang lain) adalah memilih untuk hidup dalam sukacita.

Kontemplasi

Gambarkan bagaimana Yesaya mengambarkan mentalitas perkabungan dan mentalitas pesta.

Refleksi

Bagaimana pilihanku berhadapan dengan perasaan sedih, depresi, kehilangan dan putus asa? Apakah aku memilih tinggal dalam semangat perkabungan atau mengubahnya dalam pakaian pesta?

Doa 

Ya Bapa, semoga pengalaman kehilangan tidak membawa keluarga kami terpuruk pada semangat perkabungan; semoga karena penghiburan dan undanganMu, kami berani mengambil semangat hidup sukacita Injil menjadi dasar bagi hidup keluarga kami. Amin.

Perutusan

Aku mengambil keputusan untuk hidup dalam semangat sukacita Injil (Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply