Lentera Keluarga – Pemberian Diri Hamba


Selasa, 14 November 2017
Bacaan: Keb 2:23-3:9;  Mzm 34:2-3.16-19;  Luk 17:7-10


Renungan


TUHAN Yesus dengan indah menggambarkan semangat pengabdian tanpa pamrih seorang hamba: siap memberi prioritas kepada kepentingan tuannya dan tidak mengharapkan ucapan terima kasih. “Kami adalah hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”


Setiap orang yang melayani, entah melayani komunitas ataupun keluarga harus mengembangkan mentalitas seorang hamba. Dalam pelayanan, kita kadang mudah fokus pada diri sendiri: kita sdh lelah, melakukan banyak hal baik, kurang dimengerti perjuangan kita dan mengharapkan penghargaan. Atau kita kadang komplain menyalahkan pemimpin kita atau komunitas kita yang tidak seperti yang kita gambarkan. Pelayanan yang masih dibayangi semangat ini akan mudah drop dan akhirnya stop.


Marilah kita lakukan pelayanan kita di komunitas dan keluarga dengan fokus pada kepentingan yang kita layani: kita tanggalkan segala jasa pengorbanan dan jal luar biasa yang telah kita lakukan; tidak perlu kita juga mengharap sebuah penghargaan ataupun ucapan terima kasih. Seorang pelayan yang baik adalah melaksanakan tanggungjawabnya  yg dipercayakan kepadanya dengan baik, penuh pemberian diri dan bersukacita.


Kontemplasi


Masukkan dalam hati hamba dalam perumpamaan di atas. Apa yang dirasakan dan dipikirkannya?


Refleksi


Bagaimana aku mengembangkan semangat hamba ini dalam melayani keluarga dan komunitas?


Doa 


Ya Bapa, ajarilah kami berhati hamba dalam pelayanan kami. amin


Perutusan


Aku melakukan tanggungjawan dan tugasku dengan pemberian diri dan sukacita.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply